Ilustrasi – Sedang Menikmati Olahan Daging Kurban Tanpa Takut Kolesterol Naik. Cuitan.id – Momentum Perayaan Idul Adha selalu identik dengan aroma lezat panggangan sate, gulai, atau rendang. Kebersamaan makan bersama keluarga seperti ini tentu sangat berharga.
Namun, Anda tetap perlu menjaga porsi makan agar tubuh tidak tumbang setelah hari raya, terutama bagi para penyintas hipertensi dan gangguan metabolik.
Kabar baiknya, Anda tidak perlu antipati terhadap daging kurban. Pakar gizi klinik lulusan Universitas Indonesia, dr. Pande Putu Agus Mahendra, M.Gizi, Sp.GK, menegaskan bahwa daging sapi maupun kambing tetap aman untuk tubuh. Kuncinya ada pada porsi yang pas dan cara mengolah yang benar.
Lalu, bagaimana cara menikmati hidangan Idul Adha tanpa cemas? Yuk, simak panduan sehatnya berikut ini!
Setiap orang memang memiliki kebutuhan nutrisi yang berbeda. Namun untuk ukuran umum, dr. Pande menyarankan batasan aman konsumsi daging merah sebesar 75 sampai 100 gram per porsi.
Jumlah tersebut sudah cukup memberikan asupan protein berkualitas tanpa membebani kerja tubuh secara berlebihan. Jadi, pastikan Anda tidak kalap saat melihat meja makan penuh dengan hidangan daging, ya!
Anda punya riwayat tekanan darah tinggi? Jangan berkecil hati. Anda tetap bisa menikmati gurihnya daging kurban saat Idul Adha. Dr. Pande menjelaskan bahwa penderita hipertensi tidak perlu memangkas total menu daging dari piring mereka.
Strategi terbaiknya adalah menjaga keseimbangan asupan. Anda wajib mendampingi hidangan daging dengan makanan yang kaya antioksidan.
Beberapa sayuran segar yang sangat cocok menjadi penyeimbang antara lain:
Tomat
Wortel
Lobak
Aneka bawang (bawang merah, bawang putih, bawang bombay)
Selain itu, pastikan Anda minum air putih yang cukup. Air putih membantu tubuh mengolah protein hewani dengan lebih optimal.
Saat membersihkan daging, sebaiknya Anda menyisihkan bagian lemak jenuh dan organ dalam seperti jeroan. Bagian-bagian ini memicu kenaikan kolesterol jahat secara instan.
Selain memilih bagian daging yang bersih, perhatikan juga cara memasaknya. Dr. Pande menyarankan Anda untuk menghindari metode membakar daging langsung di atas bara api.
“Proses pembakaran langsung bisa merusak komponen protein dan menghasilkan senyawa berbahaya bagi tubuh,” jelas dr. Pande.
Sebagai alternatif yang jauh lebih sehat, Anda bisa mengolah daging dengan cara merebus atau menumis. Metode ini jauh lebih aman untuk menjaga kualitas nutrisi daging.
Hidangan Idul Adha rasanya kurang lengkap tanpa kehadiran gulai atau tongseng yang gurih. Namun, Anda harus membatasi menu bersantan ini, apalagi jika menyantapnya selama berhari-hari.
Saat ini, banyak masyarakat menggunakan santan instan yang ternyata tinggi kandungan natrium. Kandungan ini bisa memicu lonjakan tekanan darah dan mengacaukan kadar kolesterol Anda.
Satu kebiasaan buruk yang sering kita lakukan adalah menghangatkan makanan bersantan secara berulang-ulang. Proses pemanasan yang berkali-kali ini merusak lemak nabati baik dalam santan dan mengubahnya menjadi lemak jenuh yang merugikan tubuh.
Menikmati Idul Adha bukan berarti Anda harus menyiksa diri dengan pantangan ketat. Kunci utamanya adalah menerapkan pola makan seimbang dan tahu kapan harus berhenti.
Dengan menjaga porsi, memilih cara masak yang lebih sehat, serta memperbanyak sayur dan air putih, Anda bisa merayakan hari raya dengan bahagia dan tetap bugar! **
Tidak ada komentar