Al Haris Ajak Generasi Muda Jambi Jaga Marwah Adat Melayu

waktu baca 4 menit
Selasa, 16 Jun 2026 18:36 6 admincuitan

JAMBI, Cuitan.id – Kebudayaan daerah memegang peran penting sebagai benteng pertahanan di tengah gempuran modernisasi. Menyadari hal tersebut, Gubernur Jambi, Dr. H. Al Haris, S.Sos., M.H., mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk terus memperkuat jati diri dan melestarikan warisan leluhur.

Pesan menyentuh ini menggema saat beliau menghadiri Puncak Peringatan Hari Adat Melayu Jambi Tahun 2026 di Balairung Sari, Gedung Lembaga Adat Melayu (LAM) Provinsi Jambi, Selasa (16/06/2026).

Momen istimewa ini terasa semakin sakral karena bertepatan dengan tahun baru Islam, 1 Muharram 1448 Hijriah. Acara ini sekaligus menjadi puncak dari kemeriahan rangkaian Pekan Adat Melayu Jambi 2026.

Sejumlah tokoh penting turut mengawal jalannya acara. Mulai dari Ketua Umum LAM Provinsi Jambi Hasan Basri Agus (HBA), unsur Forkopimda, para bupati dan wali kota, hingga para tetua dan tokoh masyarakat se-Provinsi Jambi.

Sinergi Pemerintah, Adat, dan Ulama

Dalam pidatonya yang penuh semangat, Gubernur Al Haris menegaskan bahwa Hari Adat Melayu Jambi bukan sekadar perayaan musiman. Hari besar ini adalah momentum penting untuk memeluk erat kembali nilai-nilai budaya yang membentuk fondasi kehidupan masyarakat Jambi.

Menurut Al Haris, adat bertindak sebagai kompas yang menjaga keharmonisan sosial sekaligus memandu masyarakat menghadapi tantangan zaman. Oleh karena itu, semua pihak harus memperkuat posisi lembaga adat agar bisa berjalan beriringan dengan pemerintah dan pemuka agama.

“Jika pemerintah, lembaga adat, dan ulama berjalan bersama, kita akan menjadi sangat kuat dalam membangun negeri ini,” ujar Gubernur Al Haris optimis.

Beliau juga mengingatkan bahwa kemajuan teknologi dan modernisasi tidak boleh mencabut akar budaya masyarakat. Sebaliknya, kemajuan daerah justru harus berpijak pada kearifan lokal. Al Haris mengajak para pemangku adat, tokoh masyarakat, dan terutama generasi muda untuk menjaga marwah kemelayuan Jambi.

Inisiasi Kamus Bahasa Daerah dan Revitalisasi Sejarah

Langkah konkret pun mulai meluncur. Pada kesempatan yang sama, Al Haris mengusulkan penyusunan Kamus Bahasa Daerah Melayu Jambi. Langkah ini bertujuan menyelamatkan bahasa daerah agar tetap hidup dan menjadi tutur kata generasi masa depan.

Selain bahasa, perhatian Gubernur juga tertuju pada situs-situs sejarah, salah satunya Bukit Siguntang. Beliau berencana melengkapi kawasan bersejarah tersebut dengan tugu atau prasasti penanda.

“Bukit Siguntang menyimpan nilai sejarah yang sangat kuat dan mengakar pada perjalanan adat Melayu Jambi. Kita wajib menjaga dan memperkenalkannya kepada masyarakat luas,” tambahnya.

Tak lupa, Al Haris menyelipkan pesan humanis mengenai penggunaan bahasa dalam prosesi adat, seperti upacara pernikahan. Beliau meminta para pemangku adat menggunakan tutur kata yang lebih halus, santun, dan indah agar mencerminkan kemuliaan adat Melayu.

Kembali ke Jati Diri

Senada dengan Gubernur, Ketua Umum LAM Provinsi Jambi, H. Hasan Basri Agus (HBA), menjabarkan makna mendalam di balik tema tahun ini: “Hijrah Adat, Kembali ke Jati Diri dan Teguh Menjaga Marwah”.

HBA menjelaskan bahwa adat Melayu bukan sekadar baju megah atau gelar kebesaran. Adat adalah sistem nilai yang mengajarkan kejujuran, sopan santun, budaya musyawarah, rasa hormat kepada orang tua, serta ketaatan pada agama.

“Tema ini mengajak kita semua untuk kembali mencintai adat dan menjadikan nilai-nilai tersebut sebagai kompas kehidupan sehari-hari,” tutur HBA. Meskipun merayakannya secara sederhana, HBA menilai esensi acara tahun ini sangat mendalam. “Adat itu tidak merujuk pada megahnya tempat, melainkan pada ketulusan dan kebersamaan kita dalam menjaganya,” imbuhnya.

Rangkaian Pekan Adat yang Menyentuh Masyarakat

Ketua Panitia Pelaksana, Drs. Idham Kholik, melaporkan bahwa peringatan tahunan ini merujuk pada Keputusan Gubernur Jambi Nomor 538/KEP/GUB/DISBUDPAR-2.3/2023 yang menetapkan 1 Muharram sebagai Hari Adat Melayu Jambi.

Tahun ini, rangkaian Pekan Adat bergulir sejak 9 Juni hingga puncaknya pada 16 Juni 2026. Panitia mengemas acara dengan menyelaraskan seloko adat: “Adat Bersendikan Syara’, Syara’ Bersendikan Kitabullah, Syara’ Mengatur Adat Memakai.”

Sebelum hari puncak, panitia telah menggelar berbagai kegiatan yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat, antara lain:

  • Ziarah ke makam pahlawan nasional Datuk Raden Mattaher dan Sultan Thaha Syaifuddin.

  • Lomba menyanyikan lagu Melayu Jambi tingkat SLTA se-Provinsi Jambi.

  • Penilaian kinerja Lembaga Adat Melayu tingkat kabupaten/kota.

  • Aksi sosial berupa pembagian 1.000 paket sembako, donor darah, hingga pengobatan gratis.

Melalui sinergi erat antara Pemerintah Provinsi Jambi dan Lembaga Adat Melayu, harapannya nilai-nilai luhur ini terus mengalir di nadi generasi muda, menjadi pemersatu bangsa, dan membentengi masyarakat Jambi di era globalisasi. **

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA