Pengukuhan Gelar Sko, Ninik Mamak, Mangku dan Depati oleh Lembaga Kerapatan Adat Tigo Luhah Belui. KERINCI, Cuitan.id – Suasana khidmat dan meriah menyelimuti wilayah Empat Desa Belui, Kecamatan Depati Tujuh, Kabupaten Kerinci pada Selasa hari ini (16/6/2026).
Ratusan warga berkumpul menyaksikan Lembaga Kerapatan Adat Tigo Luhah Belui menggelar prosesi agung Pengukuhan Gelar Sko, Ninik Mamak, Mangku dan Depati.
Ritual sakral ini tentunya menjadi bukti nyata bahwa masyarakat Tigo Luhah Belui terus menjaga dan merawat warisan leluhur mereka agar tidak lekang oleh waktu.
Dalam upacara adat yang penuh nuansa kekeluargaan ini, lembaga adat resmi mengukuhkan 7 orang Depati, 5 orang Mangku, serta 17 orang Ninik Mamak atau Rio.
Para pemangku adat baru ini mengemban amanah besar untuk memimpin, mengayomi, dan menjaga tatanan sosial masyarakat di wilayah administratif adat tersebut.
Gelar Kehormatan untuk Sang Pemimpin

Satu momen paling memikat perhatian warga dalam prosesi ini adalah penganugerahan Gelar Sko kepada Bupati Kerinci, Monadi. Lembaga Kerapatan Adat Tigo Luhah Belui secara resmi menyematkan gelar kehormatan Depati Tanah Baserau Tanah Ba Imba Atur Negeri kepada orang nomor satu di Kabupaten Kerinci tersebut.
Pemberian gelar ini bukan sekadar seremoni formalitas untuk seorang kepala daerah. Gelar tersebut lahir dari ketulusan hati masyarakat yang merasakan kedekatan emosional luar biasa dengan sosok Monadi.
Para tokoh adat menilai Monadi memiliki ikatan batin yang sangat kuat dengan warga Depati Tujuh. Maklum saja, jauh sebelum memimpin Kerinci, Monadi sempat mendedikasikan dirinya sebagai Camat di Depati Tujuh dalam waktu yang cukup lama.
Semasa menjabat, ia terkenal sebagai sosok yang merakyat, sangat menghargai adat istiadat, dan selalu hadir dalam denyut kehidupan sosial masyarakat setempat.
Komitmen Monadi Menjaga Nilai Luhur
Bupati Kerinci Monadi tidak dapat menyembunyikan rasa syukur dan harunya. Ia menyampaikan apresiasi yang mendalam atas kepercayaan besar dari keluarga besar masyarakat adat Belui. Bagi Monadi, gelar adat ini merupakan sebuah tanggung jawab moral yang sangat besar.
“Saya mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada para pemangku adat dan seluruh masyarakat Belui atas kehormatan ini. Bagi saya pribadi, gelar adat ini bukan sekadar simbol status, melainkan amanah besar untuk terus menjaga nilai-nilai kebudayaan, adat, dan kebersamaan yang selama ini menjadi fondasi kekuatan kita di Kerinci,” ungkap Monadi dengan nada penuh ketulusan.
Monadi juga mengenang kembali masa-masa indahnya saat masih bertugas sebagai Camat di wilayah tersebut.
“Saya punya banyak kenangan manis dan pengalaman berharga bersama warga di Depati Tujuh. Oleh karena itu, penghargaan adat ini memiliki makna yang sangat mendalam di hati saya,” tambahnya.
Di akhir perbincangan, Monadi menaruh harapan besar agar tradisi pengukuhan sko adat ini terus lestari dari generasi ke generasi. Ia meyakini bahwa adat budaya bukan sekadar identitas, melainkan perekat persatuan yang ampuh untuk menyatukan visi pembangunan daerah yang selaras dengan kearifan lokal.
Tidak ada komentar