Ilusytrasi – Kenapa Muharram Disebut Bulan Haram? Cuitan.id – Umat Islam mengenal bulan Muharram sebagai pembuka dalam kalender Hijriah. Kehadirannya membawa kesucian dan kemuliaan yang sangat besar. Namun, sebuah pertanyaan sering muncul di tengah masyarakat: mengapa Islam menyebut Muharram sebagai salah satu bulan haram?
Sebagian masyarakat, khususnya dalam tradisi Jawa, sering mengaitkan bulan Muharram atau Suro dengan hal-hal mistis dan keramat. Melalui buku “Buku Muharram Bulan Keramat, Mitos atau Realita” karya Abu Abdillah Syahrul Fatwa bin Lukman, penulis menjelaskan bahwa Islam justru menempatkan Muharram pada kedudukan yang sangat mulia, bukan sebagai bulan kesialan.
Untuk memahami alasan di balik status khusus ini, kita perlu merujuk pada Al-Qur’an, sunnah, dan ijtihad para ulama. Berikut adalah lima landasan utama mengapa Muharram masuk dalam kategori bulan haram.
Allah SWT menetapkan status Muharram sebagai bulan haram sejak awal penciptaan langit dan bumi, bukan karena rekayasa manusia. Landasan kuat ini tertuang jelas dalam Al-Qur’an Surah At-Taubah ayat 36:
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At-Taubah: 36)
Kata hurum (bentuk jamak dari haram) dalam ayat ini berarti sesuatu yang suci, mulia, dan terhormat. Para ulama sepakat bahwa empat bulan haram tersebut meliputi Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.
Rasulullah SAW mempertegas ketetapan Al-Qur’an tersebut saat menyampaikan khutbah pada haji wada’ (haji perpisahan). Sahabat Abu Bakrah RA meriwayatkan sabda Nabi:
“Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram. Tiga bulannya berturut-turut, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhar yang terletak antara Jumadil Akhir dan Sya’ban.” (HR. Bukhari & Muslim)
Hadis ini membuktikan bahwa Muharram memiliki keistimewaan mutlak yang membedakannya dengan delapan bulan lainnya.
Secara bahasa, kata “Al-Muharram” berarti waktu yang terlarang atau suci. Sejak zaman Arab pra-Islam, masyarakat menghormati bulan ini secara adat. Berbagai suku bahkan sepakat menghentikan segala bentuk peperangan dan permusuhan demi menjaga kesucian bulan-bulan haram.
Dalam pandangan syariat, Allah SWT melarang keras hamba-Nya berbuat zalim dan melakukan maksiat selama bulan ini. Larangan tersebut bertujuan agar manusia menjaga kesucian diri dan menghargai waktu yang mulia ini.
Alasan lain yang membuat Muharram begitu istimewa adalah adanya konsekuensi besar atas setiap amal perbuatan manusia.
Imam Fakhruddin ar-Razi dalam tafsir Mafâtîh al-Ghaib menjelaskan bahwa siapa saja yang melakukan maksiat pada bulan-bulan haram akan menerima balasan yang lebih berat. Sebaliknya, mereka yang konsisten melakukan ketaatan akan meraih pahala yang berlipat ganda.
Sahabat Ibnu Abbas RA juga menguatkan pendapat ini. Beliau menyatakan bahwa Allah SWT sengaja mengkhususkan empat bulan ini untuk memuliakan amal saleh sekecil apa pun.
Muharram memegang posisi eksklusif karena menjadi satu-satunya bulan yang bersanding langsung dengan nama Allah. Rasulullah SAW menyebut bulan ini dengan julukan “Syahrullah Al-Muharram” (Bulan Allah, Al-Muharram) dalam hadis riwayat Imam Muslim.
Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid menjelaskan bahwa Allah tidak akan menyandarkan sesuatu pada diri-Nya melainkan karena makhluk tersebut sangat istimewa. Ulama besar Imam Hasan al-Bashri bahkan menegaskan bahwa tidak ada bulan yang lebih mulia setelah Ramadhan melainkan bulan Muharram.
Sebagian masyarakat Indonesia masih menganggap Muharram atau bulan Suro sebagai bulan yang penuh pantangan. Mereka takut menggelar pernikahan atau hajatan karena khawatir membawa petaka.
Para ulama dengan tegas membantah mitos ini. Menganggap suatu waktu membawa sial (Tathayyur) justru mendekati perbuatan syirik karena melupakan kehendak Allah SWT. Islam memandang semua bulan adalah baik, dan Muharram justru merupakan bulan yang penuh berkah.
Daripada memercayai mitos, umat Islam sebaiknya mengisi bulan ini dengan berbagai amalan sunnah yang sahih:
Memperbanyak Puasa Sunnah: Rasulullah SAW menyebut puasa di bulan Muharram sebagai puasa terbaik setelah bulan Ramadhan.
Puasa Tasu’a dan Asyura (9 & 10 Muharram): Puasa Asyura berkhasiat menghapus dosa setahun yang lalu, sedangkan puasa Tasu’a berfungsi untuk membedakan diri dari tradisi kaum Yahudi.
Memperbanyak Tobat: Mengingat dampak dosa yang lebih berat, momen ini menjadi waktu terbaik untuk menjauhi maksiat.
Menghindari Bid’ah: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengingatkan umat Islam agar tidak membuat ritual-ritual baru yang tidak memiliki landasan dalil sahih dari Nabi SAW. **
Tidak ada komentar