Panitia saat mengemasi daging hewan kurban. merdeka.com Cuitan.id – Islam memandang sifat pelit atau kikir (bukhul) sebagai penyakit hati yang serius. Penyakit ini tidak hanya mengotori jiwa, tetapi juga menjauhkan kita dari rahmat Allah SWT. Momentum Idul Adha hadir sebagai pengingat penting bagi kita semua. Hari raya ini membawa nilai pengorbanan dan kedermawanan yang tinggi.
Sayangnya, sifat pelit sering kali menjadi penghalang besar bagi seorang muslim untuk meraih keberkahan. Oleh karena itu, kita perlu menjaga hati dan rutin memanjatkan doa agar Allah menjauhkan kita dari sifat kikir, terutama saat menyambut Idul Adha.
Rasulullah SAW pernah memberikan peringatan keras melalui sebuah hadis riwayat Imam Ahmad:
“Hati-hatilah kamu terhadap sifat bakhil, karena bakhil telah merusak orang-orang sebelum kalian. Mereka memutuskan silaturahmi, berbuat bakhil dan berbuat maksiat, semuanya disebabkan oleh penyakit bakhil ini.” (HR. Ahmad)
Melansir dari buku Bekal-Bekal di Dalam Menyambut Idul Adha karya Abu Salma al-Atsari serta kitab Kumpulan Doa Harian, berikut adalah tiga doa yang bisa Anda amalkan untuk membersihkan hati dari sifat pelit.
Sahabat Sa’dan bin Abi Waqqash RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW mengajarkan kalimat-kalimat ini dengan sangat perhatian, seperti mengajari anak-anak menulis. Imam Bukhari dan Imam Muslim juga mencantumkan doa komprehensif ini dalam kitab shahih mereka.
Teks Arab: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبُخْلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُwنْيَا وَعَذَابِ الْقَبْرِ.
Teks Latin: Allahumma inni a’udzu bika minal bukhli, wa a’udzu bika minal jubni, wa a’udzu bika an urudda ila ardzalil ‘umuri, wa a’udzu bika min fitnatid-dunya wa ‘adzabil qabri.
Artinya: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat kikir (pelit), aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut, aku berlindung kepada-Mu dari pikun (usia yang paling lemah), dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah dunia serta azab kubur.”
Melalui doa ini, kita memohon benteng perlindungan dari lima hal berbahaya:
Al-Bukhl: Sifat pelit yang menahan harta yang menjadi hak orang lain (seperti zakat, sedekah, dan kurban).
Al-Jubn: Sifat pengecut yang membuat kita takut membela kebenaran.
Ar-Radd ila Ardzalil ‘Umur: Kondisi fisik dan mental yang menurun drastis di masa tua.
Fitnatid-Dunya: Ujian duniawi yang melalaikan, seperti harta, takhta, dan syahwat.
‘Adzabul-Qabri: Siksaan di alam kubur.
Syaikh Nawawi al-Bantani dalam kitab Nashoihul ‘Ibad menegaskan bahwa sifat kikir bisa menghapus karakter kemanusiaan kita dan justru memperkuat tabiat kebinatangan.
Doa singkat ini memiliki makna yang sangat mendalam karena bersumber langsung dari Al-Qur’an Surat At-Taghabun ayat 16.
Teks Arab: اللَّهُمَّ قِنِي شُحَّ نَفْسِي وَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُفْلِحِينَ
Teks Latin: Allahumma qinii syuhha nafsii, waj’alnii minal muflihin.
Artinya: “Ya Allah, hilangkanlah dariku sifat pelit (lagi tamak), dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang beruntung.”
Syaikh Dr. Sa’id bin Wahf Al-Qahthani menjelaskan bahwa syuh merupakan perpaduan antara sifat kikir dan tamak. Orang yang terjangkit penyakit ini tidak akan pernah merasa cukup dengan nikmat Allah. Mereka enggan berbagi dan bahkan tega berbuat zalim demi harta. Mengamalkan doa ini secara istikamah akan melapangkan dada Anda untuk menyisihkan sebagian rezeki kepada sesama.
Nabi SAW juga sering mengamalkan doa agung ini agar senantiasa memiliki semangat sosial yang tinggi, sebagaimana riwayat Imam Tirmidzi dan Imam Ahmad.
Teks Arab: اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ وَأَنْ تَغْفِرَ لِى وَتَرْحَمَنِى وَإِذَا أَرَدْتَ فِتْنَةَ قَوْمٍ فَتَوَفَّنِى غَيْرَ مَفْتُونٍ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى حُبِّكَ
Teks Latin: Allahumma inni as-aluka fi’lal khoirot wa tarkal munkarot wa hubbal masakin wa an-taghfirli wa tarhamni wa iza aradta fitnata kowmin fatawaffani ghairo maftunin. Allahumma inni as-aluka hubbaka wa hubba man yuhibbuka wa hubba ‘amalin yuqorribu ila hubbika.
Artinya: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu agar mudah melakukan kebaikan, meninggalkan kemungkaran, dan mencintai orang-orang miskin. Ampunilah dan rahmatilah aku. Jika Engkau hendak menguji suatu kaum, maka wafatkanlah aku dalam keadaan tidak tenggelam dalam ujian tersebut. Ya Allah, aku memohon agar dapat mencintai-Mu, mencintai orang yang mencintai-Mu, dan mencintai amal yang mendekatkan diriku pada cinta-Mu.”
Islam melarang keras sifat kikir karena membawa dampak buruk yang nyata bagi kehidupan pribadi dan sosial:
Mengunci Pintu Kedermawanan: Sifat pelit membuat seseorang lupa bahwa di dalam harta yang ia miliki, ada hak kaum duafa yang wajib ia tunaikan (QS. Adz-Dzariyat: 19).
Menjauhkan Diri dari Keberuntungan: Allah SWT secara tegas mengaitkan keberuntungan hidup dengan kemampuan seseorang mengendalikan kekikiran dirinya (QS. At-Taghabun: 16).
Merusak Tatanan Sosial: Hubungan persaudaraan bisa retak akibat rasa egois, iri, dan dengki yang lahir dari sifat pelit.
Ulama sepakat bahwa Idul Adha bukan sekadar ritual penyembelihan hewan, melainkan cerminan dari iman, ketaatan, dan kepedulian. Hari raya ini membawa lima pesan moral yang mendalam bagi kehidupan kita:
Transformasi Sosial: Ibadah kurban mengajak kita untuk mengikis egoisme pribadi dan mengubah ritual penyembelihan menjadi aksi nyata yang langsung menyentuh masyarakat bawah.
Memperkuat Ukhuwah: Idul Adha hadir sebagai jembatan spiritual yang kuat untuk merekatkan kembali hubungan antarmanusia lewat indahnya berbagi.
Kesetaraan Manusia: Filosofi wukuf di Padang Arafah mengingatkan kembali bahwa di hadapan Allah, semua manusia memiliki derajat yang sama tanpa memandang status sosial.
Membantu Kaum Lemah: Melalui distribusi daging kurban yang merata, kita bergerak bersama untuk meringankan beban hidup sesama yang kekurangan.
Solusi Krisis: Di tengah ketimpangan sosial saat ini, umat Islam menerima panggilan untuk hadir memberikan solusi nyata bagi lingkungan sekitar, bukan sekadar menjadi penonton.
Mari jadikan Idul Adha kali ini sebagai momen untuk membersihkan hati, melatih keikhlasan, dan memperluas manfaat diri bagi orang lain. Selamat menyambut Hari Raya Kurban! **
Tidak ada komentar