Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Kerinci, Yuldi Candra, audiensi ke Komdigi Republik Indonesia, Jakarta, Senin (9/2/2026). KERINCI, Cuitan.id – Sebanyak 20 Desa dari 285 Desa yang ada di Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi belum terjangkau jaringan komunikasi (blank spot). Pemkab Kerinci terus berupaya mempercepat pemerataan akses digital di 20 di wilayah tersebut.
Akibat keterbatasan akses sinyal telepon dan internet tersebut aktivitas masyarakat terganggu di berbagai sektor. Selain menghambat komunikasi warga sehari-hari, hal ini juga memperlambat perkembangan ekonomi digital, layanan pendidikan online, hingga akses informasi publik dari pemerintah daerah.
Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Kerinci menjelaskan bahwa desa-desa tanpa sinyal tersebut berada di kawasan pegunungan dan perbukitan yang ekstrem.
“Kondisi geografis yang ekstrem menjadi tantangan terbesar kami dalam meratakan jaringan telekomunikasi,” ujar Kepala Diskominfo Kabupaten Kerinci, Yuldi Candra, Rabu (27/5/2026).
Beberapa desa yang sampai saat ini masih berjuang keras mendapatkan sinyal antara lain:
Kecamatan Gunung Kerinci: Desa Danau Tinggi dan Desa Simpang Tutup.
Kecamatan Gunung Raya: Desa Margo.
Kecamatan Air Hangat Timur: Desa Pungut Hilir.
Selain desa-desa tersebut, Diskominfo Kerinci juga mencatat sejumlah wilayah lain yang memiliki kualitas sinyal sangat lemah. Akibatnya, warga tidak bisa menelepon, mengirim pesan singkat, ataupun membuka aplikasi digital secara lancar.
Pada situasi tertentu, warga bahkan harus berjalan kaki menuju puncak bukit atau area terbuka yang tinggi hanya untuk memancing sebatang sinyal internet.
Bentang alam Kabupaten Kerinci yang didominasi oleh perbukitan dan lereng gunung memang memperumit keadaan. Kondisi medan yang sulit ini membuat kontraktor kesulitan membawa kendaraan berat dan infrastruktur modern ke lokasi.
Faktor geografis ini juga melambungkan biaya pembangunan menara BTS (Base Transceiver Station) dan pemasangan jaringan kabel fiber optik. Proses teknisnya jauh lebih rumit daripada wilayah perkotaan.
Di sisi lain, penyedia layanan seluler (operator) masih mempertimbangkan nilai investasi dan jumlah pengguna karena lokasi desa-desa ini sangat jauh dari pusat kecamatan. Padahal, kebutuhan warga terhadap internet cepat terus melonjak setiap tahun untuk keperluan sekolah, belanja online, media sosial, hingga urusan administrasi desa.
Minimnya koneksi internet mematikan potensi besar masyarakat desa.
Dalam sektor pendidikan, para siswa kehilangan kesempatan emas untuk mengakses materi belajar digital. Pelajar tidak bisa menyelesaikan tugas sekolah secara optimal saat guru memberikan instruksi berbasis internet. Mahasiswa yang pulang ke kampung halaman juga megap-megap saat harus mengikuti kuliah daring atau mengunduh jurnal ilmiah.
Sementara dalam sektor ekonomi, pelaku UMKM pedesaan kehilangan momentum untuk memasarkan produk unggulan mereka ke pasar luar. Padahal, tren pasar digital di Indonesia sedang tumbuh pesat. Tanpa internet yang stabil, pedagang lokal tidak bisa memanfaatkan marketplace, media sosial, maupun sistem pembayaran digital secara maksimal.
Krisis digital ini juga mengganggu jalannya roda pemerintahan desa. Saat ini, hampir semua sistem pelayanan publik memakai aplikasi digital—mulai dari pengurusan KTP, BPJS, hingga sistem pelaporan kesehatan.
Perangkat desa kerap terlambat mengirimkan laporan administrasi bulanan ke pusat kota hanya karena sinyal mendadak hilang. Kondisi ini memperlebar jurang pemisah (kesenjangan digital) antara warga kota dan masyarakat desa.
Demi memerdekakan warga dari jerat blank spot, Pemkab Kerinci mengambil langkah agresif. Diskominfo Kerinci telah mengirimkan proposal permohonan bantuan infrastruktur kepada Kementerian Komunikasi dan Digital di Jakarta.
Langkah ini bertujuan agar pemerintah pusat segera mengucurkan anggaran pembangunan menara BTS dan perluasan jaringan internet di area terpencil Kerinci.
Selain berharap pada dana pusat, Pemkab Kerinci juga mengundang pihak swasta dan operator seluler untuk berkolaborasi. Pemerintah daerah menegaskan bahwa internet hari ini merupakan kebutuhan pokok masyarakat, bukan lagi sekadar fasilitas mewah.
Masyarakat di 20 desa tersebut menaruh harapan besar pada janji pemerintah. Mereka ingin menikmati jaringan internet dan telepon yang stabil seperti daerah lain. Bagi warga, internet akan membuka peluang baru bagi generasi muda untuk bersaing di era modern, memajukan bisnis pertanian, dan mempercepat penanganan kondisi darurat.
Masalah blank spot ini sejatinya menjadi cerminan tantangan besar Indonesia dalam mempercepat transformasi digital nasional. Warga Kabupaten Kerinci kini menunggu aksi nyata agar seluruh desa mereka bisa terbebas dari isolasi digital dalam beberapa tahun ke depan. **
Tidak ada komentar