Rahasia Kiswah Ka’bah: Sejarah, Makna, dan Alasan Berwarna Hitam. Cuitan.id – Di balik megahnya bangunan Ka’bah di pusat Masjidil Haram, sehelai kain hitam bersulam benang emas selalu berhasil memukau jutaan pasang mata umat Islam dari seluruh penjuru dunia. Kain sakral ini bernama Kiswah. Kehadirannya bukan sekadar penghias dinding, melainkan simbol penghormatan tertinggi, kemuliaan, dan rekam jejak panjang peradaban Islam yang menyentuh hati.
Setiap tanggal 9 Dzulhijjah, saat jutaan jemaah haji bergerak menuju Padang Arafah untuk melaksanakan wukuf, para petugas mengganti Kiswah dengan yang baru. Tradisi agung ini telah berjalan selama berabad-abad dan melewati berbagai transformasi zaman.
Mulai dari pemanfaatan bahan sederhana seperti kulit binatang hingga kini menggunakan sutra murni berpucuk emas, Kiswah menyimpan kisah spiritual yang mendalam. Lalu, bagaimana awal mula kain ini menyelimuti Baitullah? Siapa sosok yang memulainya, dan mengapa warnanya kini identik dengan hitam?
Tradisi menyelimuti Ka’bah sebenarnya sudah berakar sejak zaman sebelum Islam lahir. Beberapa catatan sejarah menyebutkan bahwa Nabi Ismail AS adalah sosok yang pertama kali mengawali tradisi ini. Namun, sejarah yang paling kuat merujuk pada Raja Himyariyah dari Yaman bernama Abu Karb As’ad, atau yang akrab dengan nama Tubba’.
Ali Husni al-Kharbutli dalam buku Sejarah Ka’bah mengisahkan bahwa Raja As’ad mendapatkan petunjuk lewat mimpi saat ia pulang dari perjalanan menuju Yatsrib. Ketika melintasi Makkah, ia langsung mewujudkan mimpi tersebut dengan menutup bangunan Ka’bah menggunakan kulit dan kain tenun kasar khas Yaman.
Pada masa-masa awal, masyarakat juga sempat menggunakan daun kurma serta kain wangi dari Ma’afir. Namun karena bahan tersebut terlalu berat, mereka menggantinya dengan kain tenun Yaman yang lebih ringan. Sejak momen itulah, memberikan Kiswah menjadi bentuk dedikasi dan penghormatan paling mulia di kalangan bangsa Arab.
Seiring berjalannya waktu, tradisi ini berkembang menjadi lambang kehormatan. Suku-suku Arab saling berlomba untuk mempersembahkan kain terbaik mereka untuk Ka’bah.
Ketika masa kepemimpinan Qushay bin Kilab (buyut Nabi Muhammad SAW), sistem ini menjadi lebih terorganisir. Beliau menginisiasi gerakan pengumpulan dana dari berbagai suku Quraisy agar Ka’bah bisa mendapatkan kain penutup baru setiap tahunnya.
Buku Ka’bah: Rahasia Kiblat Dunia karya Muhammad Abdul Hamid al-Syarqawi dan Muhammad Raja’i ath-Thahlawi memaparkan bahwa sejak era tersebut, menyediakan Kiswah telah bergeser menjadi tanggung jawab keagamaan yang sakral. Masyarakat Arab percaya bahwa merawat dan menyelimuti Baitullah adalah bentuk pengabdian tertinggi kepada Sang Pencipta.
Sejarah emas Kiswah juga mengabadikan nama seorang perempuan mulia bernama Natilah binti Janab, yang merupakan ibu dari Abbas bin Abdul Muthalib. Natilah menorehkan sejarah sebagai perempuan pertama yang membuat dan menyelimuti Ka’bah dengan kain sutra mewah.
Kisah ini berakar dari sebuah peristiwa emosional saat Abbas kecil menghilang. Dalam kepanikannya, Natilah bernazar kepada Allah SWT bahwa jika putranya kembali dengan selamat, ia akan menghadiahi Ka’bah dengan selimut kain sutra terbaik.
Doanya terkabul, Abbas ditemukan, dan Natilah langsung menunaikan janji setianya. Peristiwa mengharukan ini menjadi titik awal masuknya bahan sutra dalam sejarah pembuatan Kiswah, yang kemudian menginspirasi para khalifah untuk menggunakan kain brokat merah hingga sutra putih asal Mesir.
Saat Nabi Muhammad SAW membebaskan Kota Makkah (Fathu Makkah), beliau tidak langsung mengganti kain penutup Ka’bah yang ada. Rasulullah SAW tetap mempertahankan kain peninggalan zaman Jahiliyah tersebut hingga suatu hari kain itu tidak sengaja rusak akibat terkena percikan api dari dupa jemaah.
Setelah kejadian tersebut, Rasulullah SAW menggantinya dengan kain Yaman bergaris merah dan putih yang anggun. Sayyid Sabiq dalam kitab Fiqih Sunnah menjelaskan bahwa Rasulullah SAW sangat memuliakan Ka’bah sebagai pusat tauhid dunia.
Langkah mulia ini kemudian berlanjut ke tangan para sahabat:
Khalifah Umar bin Khattab & Utsman bin Affan: Memilih menggunakan kain putih bersih asal Mesir bernama Qobati.
Abdullah bin Zubair: Memilih menggunakan kain brokat merah cerah untuk menyelimuti seluruh dinding Baitullah.
Warna hitam yang kita lihat hari ini tidak serta-merta hadir sejak awal. Ka’bah tercatat pernah berganti wajah dengan warna putih, merah, hijau, hingga perpaduan corak lainnya.
Direktur Pusat Sejarah Makkah, Fawaz al-Dahas, mengungkapkan bahwa stabilitas ekonomi dan kualitas bahan pada masing-masing era sangat memengaruhi keputusan pemilihan warna kain ini.
“Ka’bah pernah menggunakan kain penutup berwarna putih, merah, hingga hitam. Pemerintah di setiap zaman memilih warna berdasarkan kondisi finansial dan daya tahan bahan saat itu,” jelas Fawaz al-Dahas melansir dari Arab News.
Meskipun kain putih terlihat sangat suci dan memikat mata, bahan tersebut ternyata sangat rentan kotor dan cepat rusak akibat sentuhan jutaan jemaah. Oleh karena itu, pada masa akhir Dinasti Abbasiyah, pemerintah menetapkan warna hitam karena sifatnya yang jauh lebih awet, kokoh, dan tahan lama. Warna hitam inilah yang akhirnya bertahan menjadi identitas ikonik Ka’bah hingga detik ini.
Selama berabad-abad lamanya, Mesir memegang peran utama sebagai produsen kain Kiswah terbaik, sebuah tradisi yang bermula sejak zaman Khalifah Umar bin Khattab. Pada masa Dinasti Fatimiyah, pemerintah bahkan mendirikan pabrik khusus di distrik Kharnafasy, Kairo.
Zainurrofieq melalui bukunya The Power of Ka’bah mengisahkan bahwa Mesir memproduksi Kiswah dengan tingkat kemewahan yang luar biasa, lengkap dengan hiasan emas, batu permata, wewangian kasturi, dan rajutan kaligrafi ayat suci Al-Qur’an.
Tradisi pengiriman kain dari Mesir ini bertahan hingga awal abad ke-20. Perubahan besar terjadi saat Raja Abdul Aziz mendirikan Kerajaan Arab Saudi. Beliau mengambil alih seluruh proses produksi dan membangun pabrik mandiri di kawasan Ajyad, dekat Masjidil Haram.
Kini, seluruh proses pembuatan berpusat di Kompleks Raja Abdul Aziz untuk Kiswah Ka’bah yang terletak di Umm al-Joud, Makkah. Pabrik modern ini memberdayakan ratusan perajin lokal profesional yang memadukan keahlian tangan manual dengan efisiensi teknologi digital modern.
Proses pembuatan Kiswah modern saat ini melibatkan standar mutu tertinggi serta anggaran yang sangat besar. Berdasarkan data resmi Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi, satu lembar kain Kiswah memerlukan bahan baku utama berupa:
670 Kilogram Sutra murni berwarna hitam.
120 Kilogram Benang emas murni.
100 Kilogram Benang perak berkualitas tinggi.
Para seniman kaligrafi merajut ayat-ayat suci Al-Qur’an menggunakan benang emas dan perak tersebut dengan teknik relief (timbul) yang sangat rumit. Total biaya produksi untuk menghasilkan satu mahakarya ini diperkirakan menembus angka 17 juta Riyal Saudi atau setara dengan puluhan miliar rupiah. Selain kain luar, pabrik ini juga memproduksi tirai pintu Ka’bah (Al-Burqu’) serta kain pelapis bagian dalam ruangan.
Mengapa pemerintah harus mengganti kain mewah ini setiap tahun? Alasan utamanya adalah untuk menjaga kesucian, kebersihan, dan keselamatan struktur bangunan Ka’bah itu sendiri.
Pada masa Dinasti Umayyah, para petugas selalu menumpuk kain Kiswah baru di atas kain yang lama tanpa mencopotnya. Akibatnya, beban kain menjadi terlampau berat. Melihat risiko tersebut, Khalifah Al-Mahdi dari Dinasti Abbasiyah mengeluarkan perintah tegas untuk menurunkan seluruh kain lama sebelum memasang kain yang baru.
Tradisi sehat ini terus lestari hingga sekarang. Penggantian yang berlangsung setiap tanggal 9 Dzulhijjah ini bukan sekadar ritual kosmetik, melainkan simbol penyucian spiritual global serta bentuk penghormatan tertinggi umat manusia kepada Baitullah.
Bagi setiap Muslim, Kiswah bukanlah sekadar kain penutup bangunan berbentuk kubus. Kain ini adalah representasi dari persatuan, kesetaraan, dan kekuatan iman umat Islam di seluruh dunia.
Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitab Lathaif al-Ma’arif memaparkan bahwa Ka’bah adalah pusat gravitasi spiritual yang telah Allah muliakan sejak zaman Nabi Ibrahim AS. Oleh sebab itu, setiap hal yang menyelimuti Ka’bah mengemban nilai spiritual yang sangat tinggi.
Setiap jengkal jalinan benang pada Kiswah membisikkan kisah tentang ketauhidan, ketabahan keluarga Nabi Ibrahim, dan kerinduan jutaan manusia yang datang dari berbagai pelosok bumi demi menghadap ke satu kiblat yang sama. Di tengah modernisasi fasilitas haji, Kiswah tetap berdiri kokoh sebagai simbol sakral yang mengikat hati umat Islam dengan rumah suci mereka.
1. Kapan kain Kiswah Ka’bah diganti?
Petugas mengganti kain Kiswah setahun sekali, tepatnya pada tanggal 9 Dzulhijjah, bersamaan dengan momen saat jemaah haji sedang melaksanakan ibadah wukuf di Padang Arafah.
2. Terbuat dari bahan apa kain Kiswah sekarang?
Kiswah modern terbuat dari 670 kilogram sutra murni yang diwarnai hitam, serta dihiasi rajutan kaligrafi ayat Al-Qur’an menggunakan 120 kilogram benang emas dan 100 kilogram benang perak.
3. Mengapa warna Kiswah Ka’bah dipilih warna hitam?
Pemerintah pada masa akhir Dinasti Abbasiyah memilih warna hitam karena dinilai jauh lebih awet, kuat, dan tidak mudah terlihat kotor akibat sentuhan atau usapan jutaan jemaah yang datang setiap hari, berbeda dengan warna putih atau merah yang digunakan sebelumnya.
4. Di mana kain Kiswah Ka’bah diproduksi saat ini?
Saat ini, Kerajaan Arab Saudi memproduksi Kiswah secara mandiri di Kompleks Raja Abdul Aziz untuk Kiswah Ka’bah yang berlokasi di daerah Umm al-Joud, Makkah.
5. Berapa biaya pembuatan satu kain Kiswah?
Biaya pembuatan satu set kain Kiswah yang bernilai seni tinggi ini diperkirakan mencapai lebih dari 17 juta Riyal Saudi atau setara dengan puluhan miliar rupiah. **
Tidak ada komentar