Candu Blind Box: Bahaya Psikologis yang Mirip Judi

waktu baca 3 menit
Rabu, 10 Jun 2026 06:00 4 admincuitan

Cuitan.id – Tren blind box kini tengah menghipnotis masyarakat di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Kotak misteri yang berisi mainan koleksi seperti Labubu, Sanrio, hingga Upset Duck ini menawarkan sensasi kejutan yang bikin penasaran. Pembeli tidak akan tahu karakter apa yang ada di dalam kotak sampai mereka merobek bungkusnya.

Banyak orang bahkan rela memborong belasan kotak sekaligus demi memburu karakter langka atau secret. Namun, di balik keseruan berburu mainan estetik ini, ada bahaya tersembunyi yang mengintai kesehatan mental kita.

Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr. Samuel Stemi, MBiomed, AIFO-K, Dipl AAAM, menaruh perhatian khusus pada fenomena ini. Ia mengingatkan masyarakat bahwa hobi membeli kotak misteri secara berlebihan tanpa kontrol diri bisa merusak psikologis.

Mengapa Blind Box Bikin Candu?

Dokter Samuel menjelaskan bahwa daya tarik utama blind box berasal dari rasa penasaran yang tinggi. Saat seseorang membuka kotak dan menemukan kejutan, otak akan melepaskan hormon dopamin (hormon kebahagiaan).

Sensasi senang inilah yang memicu seseorang untuk mengulangi proses pembelian tersebut secara terus-menerus.

“Selama masih dalam batas wajar, blind box bisa menjadi hiburan. Namun, jika Anda membelinya berulang kali tanpa kendali, kebiasaan ini akan berubah menjadi perilaku yang sulit berhenti,” ujar dr. Samuel lewat situs resmi IPB University.

Unsur ketidakpastian dan ekspektasi tinggi dalam kotak misteri ini justru memicu pelepasan dopamin yang lebih kuat ketimbang saat seseorang membeli barang yang sudah pasti.

Dampak Buruk: Dari Stres Hingga Penuaan Dini

Membeli blind box secara impulsif membawa dampak buruk yang nyata bagi kesehatan fisik dan mental. Kebiasaan ini bisa menurunkan kemampuan seseorang dalam menahan diri (delayed gratification). Akibatnya, pengeluaran menjadi boncos dan memicu stres berat.

Dalam dunia medis dan anti-aging, stres jangka panjang akan meningkatkan hormon kortisol dalam tubuh. Hormon stres ini sangat jahat karena bisa mempercepat penuaan biologis, merusak kualitas kulit, memicu peradangan kronis, hingga mengganggu sistem metabolisme tubuh.

Menariknya, dr. Samuel melihat adanya kemiripan antara mekanisme psikologis pembeli blind box dengan pelaku judi. Keduanya sama-sama bergantung pada sistem hadiah yang tidak pasti (uncertain reward) dan mengaktifkan jalur dopamin yang sama di otak.

“Meskipun secara klinis tidak sama persis dengan judi, pola belanja seperti ini masuk dalam spektrum perilaku adiktif yang wajib kita waspadai,” tambahnya.

Siklus Kekecewaan yang Menjebak

Masalah baru muncul ketika pembeli mendapatkan karakter yang sama (kembar) atau karakter yang tidak mereka sukai. Rasa kecewa ini akan memicu perilaku berburu hadiah (reward chasing behavior).

Bukannya berhenti, pembeli justru merasa tertantang untuk membeli lagi demi mengobati rasa kecewa mereka. Siklus inilah yang akhirnya mengunci seseorang dalam lingkaran kecanduan.

Tips Mencegah Kecanduan dengan Mindful Buying

Agar tidak terjebak dalam candu kotak misteri ini, dr. Samuel membagikan beberapa langkah pencegahan yang bisa Anda lakukan:

  1. Pahami Trik Psikologinya: Sadari bahwa rasa penasaran Anda adalah hasil dari permainan hormon dopamin di otak.

  2. Terapkan Mindful Buying: Buat batasan anggaran (budget) yang ketat dan tentukan seberapa sering Anda boleh membeli mainan tersebut.

  3. Asah Literasi Keuangan: Latih kemampuan diri untuk mengendalikan nafsu belanja impulsif, terutama bagi para remaja.

  4. Pengawasan Orang Tua: Orang tua harus aktif memantau kebiasaan belanja anak-anak remaja mereka agar tetap sehat dan proporsional.

Blind box bukan sesuatu yang sepenuhnya negatif jika Anda membelinya dengan sadar dan terkontrol. Namun tanpa regulasi diri yang baik, hobi ini bisa merusak kesehatan mental dan mempercepat penuaan karena stres,” pungkas dr. Samuel.

Jika Anda atau orang terdekat mulai menunjukkan gejala belanja kompulsif yang mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater. **

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA