Mengenal Suku Anak Dalam Jambi: Sejarah, Tradisi & Kehidupan

waktu baca 3 menit
Minggu, 16 Nov 2025 07:00 438 admincuitan

JAMBI, Cuitan.id – Kasus penculikan Balita Bilqis di Makassar, Sulawesi Selatan, yang ditemukan di pemukiman Suku Anak Dalam (SAD) atau Orang Rimba di Merangin, Jambi, membuat perhatian publik tertuju pada komunitas adat ini. Banyak yang ingin mengetahui lebih dalam tentang kehidupan dan budaya Suku Anak Dalam Jambi.

Dikutip dari buku Etnoagronomi Indonesia karya Didik Indradewa, Suku Anak Dalam merupakan salah satu suku minoritas yang mendiami wilayah hutan Sumatera, terutama di Jambi. Berikut ini ulasan lengkap mulai dari pengertian, asal-usul, tradisi, hingga kehidupan sehari-hari mereka.

Pengertian Suku Anak Dalam (SAD)

Suku Anak Dalam, yang juga dikenal sebagai Orang Rimba, adalah suku dengan populasi kecil yang mayoritas tinggal di Jambi, dengan estimasi sekitar 3.198 jiwa. Mereka hidup sebagai pemburu dan peramu di hutan Sumatera, termasuk di Jambi dan Sumatera Selatan.

Sejarah menyebutkan bahwa awalnya Orang Rimba dikenal sebagai Orang Kubu, sebutan yang diperkenalkan oleh ilmuwan Eropa. Pemerintah kemudian menetapkan istilah Suku Anak Dalam (SAD), sementara istilah Komunitas Adat Terpencil (KAT) digunakan oleh Departemen Sosial. Sebutan Orang Rimba umumnya digunakan oleh akademisi dan peneliti.

Asal-Usul Suku Anak Dalam Jambi

Berdasarkan tradisi lisan, Orang Rimba awalnya disebut orang maalau sesat, yang kemudian mencari tempat tinggal di hutan sekitar Air Hitam, Jambi. Ada juga versi sejarah yang menyebut mereka berasal dari Pagaruyung, Sumatera Barat, dan mengungsi ke Jambi.

Menurut buku Pemberdayaan Suku Anak Dalam Berbasis Wisata Budaya oleh Dahmiri dkk., asal-usul SAD di Jambi dapat dibagi menjadi tiga kelompok:

  1. Keturunan Sumatera Selatan – Mayoritas tinggal di Kabupaten Batang Hari.
  2. Keturunan Minangkabau – Mayoritas tinggal di Kabupaten Bungo Tebo sebagai Mersam.
  3. Keturunan Jambi Asli (Kubu Air Hitam) – Mayoritas tinggal di Kabupaten Sarolangun.

Sejarah lisan mereka diperkirakan mencapai 300–500 tahun atau sejak abad ke-16 hingga ke-17.

Tradisi Unik Suku Anak Dalam

Setiap kelompok Orang Rimba memiliki tradisi yang berbeda. Salah satu tradisi warisan budaya tak benda dari Bukit Duabelas, Jambi, adalah ritual Nomboi Naek Sialong dan Nomboi Ngambek Mani Rapa.

  • Sialong: Pohon tempat lebah bersarang, biasanya pohon dengan kulit licin seperti kedundung.
  • Mani Rapa: Madu lebah yang dipanen melalui ritual khusus, diiringi mantra agar lebah tidak berpindah.

Ritual ini memiliki pantangan, termasuk tidak mengonsumsi beberapa jenis hewan yang dianggap memiliki sifat mirip lebah. Panen madu dilakukan menjelang malam, dengan proses pemanjatan pohon menggunakan kayu sebagai pijakan (melantak sialong) dan diiringi pembacaan mantra.

Ritual ini tidak hanya untuk mendapatkan madu, tetapi juga menjaga kelestarian alam dan simbol-simbol leluhur mereka.

Kehidupan Suku Anak Dalam Jambi

Orang Rimba tinggal di hutan dan di tepian sungai di beberapa wilayah Jambi seperti Batang Hari, Merangin, Tembesi, Sarolangun, dan Taman Nasional Bukit Duabelas. Mereka hidup dalam kelompok kecil yang dipimpin oleh Temenggung.

Ciri fisik Orang Rimba:

  • Kulit sawo matang, rambut agak keriting.
  • Telapak kaki tebal karena berjalan tanpa alas kaki.
  • Gigi coklat akibat kebiasaan merokok sejak kecil.

Pakaian tradisional:

  • Laki-laki: Kain sarung diikat ke dada.
  • Perempuan: Cawat atau cawot sebagai penutup organ vital.

Bahasa mereka membedakan orang luar sebagai orang terang. Orang Rimba dikenal memiliki sifat temperamen tinggi, keras, dan pemalu, sehingga sulit berinteraksi dengan orang luar kecuali dalam kondisi penting.

Tempat tinggal mereka disebut sudung, tanpa dinding, beralaskan kayu, dan jaraknya disesuaikan agar anak yang dewasa bisa memiliki sudung sendiri. Pilihan lokasi juga memperhatikan wilayah pantang untuk dilintasi, seperti rawa-rawa.

Suku Anak Dalam Jambi atau Orang Rimba memiliki kehidupan yang unik dan tradisi yang kaya, mulai dari ritual panen madu hingga adat istiadat sehari-hari. Kehidupan mereka di hutan bukan hanya simbol kemandirian, tetapi juga upaya menjaga kelestarian alam dan warisan leluhur.

Dengan memahami sejarah, tradisi, dan kehidupan Orang Rimba, kita dapat lebih menghargai keberagaman budaya yang ada di Indonesia. ***

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA