Makan Sebelum Shalat Idul Adha, Boleh atau Tidak?

waktu baca 4 menit
Selasa, 26 Mei 2026 05:00 5 admincuitan

Cuitan.id – Setiap menjelang pagi tanggal 10 Dzulhijjah, pertanyaan klasik ini selalu muncul di benak umat Islam: Apakah kita boleh makan sebelum berangkat shalat Idul Adha?”

Pertanyaan ini sangat wajar. Banyak dari kita yang masih mencampuradukkan kebiasaan Idul Fitri dengan Idul Adha. Padahal, Rasulullah SAW mengajarkan aturan yang sangat berbeda untuk kedua hari besar ini.

Mari kita bedah bersama pandangan fikih, dalil shahih, serta hikmah indah di balik anjuran menunda sarapan ini.

Hukum Makan Sebelum Shalat Idul Adha

Para ulama sepakat bahwa larangan makan sebelum shalat Idul Adha bukanlah hal yang haram. Menahan lapar di pagi hari raya ini hukumnya adalah sunnah muakkadah (sangat dianjurkan), bukan sebuah kewajiban.

Artinya, Anda boleh saja makan atau minum jika menghadapi kondisi mendesak. Kondisi tersebut meliputi:

  • Rasa lapar atau haus yang sangat menyiksa.

  • Kewajiban mengonsumsi obat tepat waktu.

  • Kondisi fisik yang lemah atau sakit.

Jika Anda makan karena alasan-alasan tersebut, shalat Id Anda tetap sah dan Anda tidak berdosa sedikit pun. Hanya saja, Anda kehilangan keutamaan (fadhilah) sunnah yang mengalirkan pahala ekstra.

Perbedaan Sunnah Idul Fitri vs Idul Adha

Rasulullah SAW mencontohkan dua kebiasaan yang bertolak belakang ketika menyambut kedua hari kemenangan ini:

  1. Saat Idul Fitri: Nabi SAW selalu makan beberapa butir kurma sebelum berangkat ke tempat shalat. Hal ini menjadi tanda penegasan bahwa bulan Ramadhan telah usai.

  2. Saat Idul Adha: Nabi SAW justru menahan diri dari makan dan minum sejak fajar menyingsing hingga selesai menunaikan shalat Id.

Anjuran ini bersandar langsung pada hadis shahih riwayat Buraidah radhiyallahu ‘anhu:

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak keluar pada hari Idul Fitri sampai beliau makan, dan beliau tidak makan pada hari Idul Adha sampai beliau kembali (dari shalat), lalu makan dari sembelihannya.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad).

Aturan Makan bagi yang Berkurban dan Tidak Berkurban

Apakah aturan menunda sarapan ini berlaku untuk semua orang? Para ulama memberikan rincian yang bijak:

1. Bagi Orang yang Berkurban (Shohibul Qurban)

Anjuran ini sangat kuat bagi Anda yang berniat menyembelih hewan kurban tahun ini. Harapannya, makanan pertama yang masuk ke mulut Anda hari itu adalah daging dari hasil sembelihan kurban Anda sendiri (terutama bagian hatinya).

2. Bagi yang Tidak Berkurban

Mayoritas ulama (Jumhur) tetap menganjurkan Anda untuk menunda makan sampai shalat selesai. Mengapa? Tujuannya untuk menyamakan syiar ibadah di pagi hari raya dan menghormati sakralnya waktu shalat Id.

5 Hikmah Indah di Balik Anjuran Menunda Makan

Islam tidak pernah membuat aturan tanpa alasan. Ada makna mendalam di balik anjuran menahan lapar sejenak ini:

  • Meneladani Cinta Rasulullah SAW: Mengikuti kebiasaan Nabi secara detail adalah bukti nyata cinta kita kepada beliau.

  • Memacu Semangat Berkurban: Perut yang kosong membuat kita lebih bersemangat untuk segera menyembelih hewan kurban agar dagingnya bisa segera kita nikmati bersama.

  • Merasakan Esensi Pengorbanan: Menahan lapar sejenak mengingatkan kita pada kisah ketaatan mutlak Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail AS.

  • Pemberi Batas yang Jelas: Selama awal Dzulhijjah kita terbiasa berpuasa sunnah. Menunda makan membuktikan bahwa hari ini adalah hari raya yang suci, bukan hari puasa biasa.

  • Bentuk Syukur yang Nyata: Menjadikan daging kurban sebagai hidangan pertama adalah cara terbaik menghargai rezeki istimewa dari Allah SWT.

Amalan Sunnah Lain Sebelum Shalat Idul Adha

Untuk menyempurnakan pahala Anda di hari raya, lakukan juga beberapa amalan utama yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW berikut ini:

  • Menggemakan Takbir: Kumandangkan takbir sejak subuh hari Arafah (9 Dzulhijjah) hingga akhir hari Tasyrik (13 Dzulhijjah).

  • Mandi Sunnah: Bersihkan diri dengan mandi sunnah Idul Adha sebelum berangkat ke masjid atau lapangan.

  • Memakai Pakaian Terbaik: Kenakan pakaian terbersih dan terbaik yang Anda miliki, lalu gunakan wewangian (bagi laki-laki).

  • Berjalan Kaki dan Berputar Rute: Berjalanlah menuju tempat shalat dan pilihlah rute pulang yang berbeda agar Anda bisa menyapa lebih banyak tetangga.

  • Menghidupkan Malam Hari Raya: Isilah malam Idul Adha dengan memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, dan memohon ampunan kepada Allah SWT.

Yuk, kita hidupkan sunnah ini agar momen Idul Adha kita tahun ini terasa lebih bermakna dan penuh berkah! **

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA