Kisah Dokter Obgyn Tangani Kasus Langka ‘Rahim Terlepas’ yang Bikin Heboh

waktu baca 2 menit
Rabu, 19 Nov 2025 05:00 34 admincuitan

JAKARTA, Cuitan.id — Seorang dokter spesialis obstetri dan ginekologi, Dr. dr. Christofani E., SpOG (SubspFER), menceritakan kembali pengalaman medis yang tak pernah ia lupakan sepanjang kariernya. Insiden tersebut terjadi sekitar 15 tahun lalu ketika ia masih menjadi residen di RSUD Dr. Slamet, Garut, Jawa Barat.

Kisah ini kembali menjadi perbincangan publik setelah sebelumnya disampaikan oleh dr Gia Pratama dalam sebuah podcast YouTube yang kemudian viral di media sosial. Menurut dr Christo, cerita tersebut memang benar terjadi dan membawa kembali ingatannya pada situasi medis yang sangat menegangkan.

Saat itu, seorang pria datang ke rumah sakit membawa sebuah kantong plastik hitam. Setelah dibuka, tim medis terkejut karena plastik tersebut berisi bagian organ yang seharusnya tidak mungkin terlepas dalam kondisi normal.

“Kaget dan tidak percaya. Itu adalah kasus pertama sekaligus terakhir yang saya temui,” ujar dr Christo saat dihubungi pada Selasa (18/11/2025).

Ia menjelaskan bahwa pasien berada dalam kondisi kritis dan mengalami syok hipovolemik, yaitu keadaan darurat akibat kehilangan cairan atau darah dalam jumlah besar sehingga mengancam keselamatan nyawa.

Begitu pasien tiba, tiga dokter obgyn—termasuk dr Jonas Nara Baringbing dan dr Agus Pribadi—langsung melakukan tindakan stabilisasi untuk mencegah kondisi semakin memburuk.

“Fokus kami saat itu adalah melakukan resusitasi cairan dan mempersiapkan operasi darurat untuk menghentikan perdarahan,” jelas dr Christo.

Menurut dr Christo, kondisi tersebut bukan terjadi secara alami, melainkan akibat tindakan tidak tepat dari paraji (dukun beranak) yang membantu proses persalinan sebelumnya.

Dalam proses itu, paraji diduga memaksa menarik plasenta, hingga menyebabkan bagian rahim ikut tertarik keluar. Tindakan tersebut dikenal sangat berbahaya dan tidak sesuai dengan standar medis.

“Pada kondisi normal, hal seperti ini hampir tidak mungkin terjadi. Namun tindakan yang dilakukan paraji membuat sebagian rahim terlepas,” tegasnya.

Meski harus melewati masa kritis yang berat, dr Christo bersyukur pasien akhirnya berhasil diselamatkan. Namun bagian rahim yang terlepas tidak dapat dipasang kembali.

“Ini menjadi pembelajaran bagi kita semua tentang pentingnya pemeriksaan kehamilan secara rutin dan memilih fasilitas kesehatan yang aman serta tenaga medis terlatih,” ujarnya.

Ia berharap kasus serupa tidak terjadi lagi dan masyarakat semakin memahami risiko menggunakan layanan persalinan nonmedis yang tidak memiliki kompetensi. ***

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA