Cuitan.id – Mencapai predikat haji mabrur menjadi impian tertinggi bagi setiap jemaah yang berangkat ke Tanah Suci. Mengapa? Karena ibadah yang mabrur mendatangkan rida Allah SWT dan berhadiahkan surga.
Kementerian Agama RI dalam buku Tuntunan Manasik Haji dan Umrah menjelaskan bahwa haji mabrur berarti haji yang makbul atau diterima oleh Allah SWT. Tentu saja, ukuran mabrur tidak hanya sebatas tuntasnya rukun dan syarat sah haji di atas kertas. Keikhlasan hati dan ketaatan total selama menjalani ibadah justru menjadi penentu utamanya.
Tanda Haji Mabrur Menurut Hadits Rasulullah SAW
Rasulullah SAW memberikan gambaran jelas mengenai ciri-ciri jemaah yang berhasil meraih haji mabrur. Pola utamanya adalah bersihnya diri dari dosa dan kembalinya seseorang pada kesucian.
Imam Nawawi dalam kitab Syarah Riyadhus Shalihin mengutip hadits dari Abu Hurairah RA yang menegaskan hal ini:
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: «مَنْ حَجَّ فَلَمْ يَرْفُتْ وَلَمْ يَفْسُقُ رَجَعَ كَيَوْمٍ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
Artinya: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Barang siapa mengerjakan haji kemudian ia tidak berkata kotor dan tidak berbuat fasik, maka ia kembali seperti saat ia dilahirkan ibunya’.” (Muttafaq ‘alaih)
Para ulama menjelaskan bahwa peleburan dosa ini berlaku bagi jemaah yang meraih haji mabrur. Mayoritas ulama sepakat bahwa pengampunan ini mencakup dosa-dosa kecil yang berkaitan dengan hak Allah SWT.
Selain itu, ada indikator sosial yang sangat indah dalam riwayat lain. Saat seseorang bertanya mengenai arti haji mabrur, Rasulullah SAW menjawab:
سئل Nabi ما بر الحج قال إطعام الطعام وطيب الكلام وقال صحيح الإسناد ولم يخرجاه
Artinya: “Rasulullah ditanya tentang haji mabrur. Rasulullah kemudian berkata, ‘Memberikan makanan dan santun dalam berkata’.” (Hadits bersanad shahih)
4 Perubahan Positif Sepulang dari Tanah Suci
Merujuk panduan resmi Kemenag RI, Anda bisa melihat kemabruran ibadah haji dari perubahan nyata dalam kehidupan sehari-hari setelah jemaah tiba di rumah. Berikut empat ciri utamanya:
1. Kualitas Diri yang Semakin Meningkat
Ciri paling mencolok dari haji yang makbul adalah lahirnya pribadi baru yang lebih baik. Jemaah yang mabrur tidak akan kembali mengulangi kebiasaan buruk atau maksiat masa lalu.
Imam Qurtubi, sebagaimana dinukil oleh Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari, menyatakan:
“Di antara tanda diterimanya haji adalah ketika seorang hamba kembali dalam keadaan yang lebih baik dari sebelumnya serta tidak lagi mengulangi perbuatan maksiat.”
Imam Nawawi juga menguatkan pendapat ini. Jemaah yang sukses menjaga diri dari maksiat selama di Mekah dan Madinah akan membawa pulang perilaku terpuji tersebut ke tanah air.
2. Semakin Gemar Menebar Kebaikan
Seorang haji yang mabrur akan mengisiti hidupnya dengan amal sosial. Semangat ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 177:
لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
Artinya: “Bukanlah kebajikan itu dengan menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, tetapi kebajikan adalah beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan para nabi; serta memberikan harta yang dicintai kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, dan orang yang meminta-minta; juga untuk memerdekakan hamba sahaya, mendirikan salat, menunaikan zakat, menepati janji ketika berjanji, serta bersabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar imannya dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.”
Lewat ayat ini, kita bisa melihat bahwa haji mabrur melahirkan kesalehan utuh: iman yang kokoh, kepedulian sosial, tertib ibadah, jujur, serta tangguh menghadapi ujian hidup.
3. Menjaga Sifat Zuhud dan Kebersihan Hati
Pengalaman spiritual di depan Ka’bah seharusnya mengubah cara pandang jemaah terhadap dunia. Sepulang haji, seseorang idealnya memiliki sifat zuhud, yaitu menjalani gaya hidup bersahaja dan tidak diperbudak oleh materi.
Saat tawaf, jemaah memusatkan seluruh pikiran dan batinnya hanya kepada Allah SWT. Jemaah yang mabrur akan terus merawat kedekatan spiritual ini di rumah, sehingga mereka selalu merasa dalam pengawasan Allah SWT dalam setiap aktivitas.
4. Selalu Optimistis dan Rajin Berdoa
Setiap jemaah wajar jika sesekali merasa cemas apakah hajinya diterima atau tidak. Namun, jemaah yang mabrur akan mengelola rasa cemas itu menjadi energi positif.
Alih-alih larut dalam keraguan, mereka memilih berprasangka baik (husnuzan) kepada Allah SWT. Mereka merawat semangat ibadah dengan terus memanjatkan doa agar Allah SWT mengukuhkan predikat mabrur pada haji yang telah mereka tunaikan. **
Tidak ada komentar