Tangkapan Layar Penampakan Antrian BBM Jenis Solar di SPBU Kumun. SUNGAI PENUH, Cuitan.id — Warga Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh menghadapi rintangan berat dalam dua bulan terakhir. Para pemilik kendaraan berbahan bakar solar, khususnya para sopir angkutan, berjuang keras hanya untuk mendapatkan beberapa liter BBM.
Kelangkaan ini memicu antrean panjang yang mengular hampir setiap hari di sejumlah SPBU baik itu di Kota Sungai Penuh maupun Kabupaten Kerinci.
Pemandangan ini sepertinya terlihat jelas di SPBU Kumun, Kota Sungai Penuh. Hampir setiap hari Puluhan dump truck dan roda empat terparkir rapi menepi di pinggir jalan.
Para pengemudi terpaksa membuang waktu berharga mereka hingga berjam-jam demi mengisi tangki kendaraan.
Kondisi ini memicu kekhawatiran besar. Pasalnya, solar merupakan urat nadi sektor transportasi, pengangkutan material, distribusi bahan pokok, hingga sektor pertanian setempat.
Son, seorang pemilik dump truck, membagikan kisah perjuangannya mencari solar yang makin kian sulit.
“Kami sangat kesulitan mendapatkan solar. Kami harus antre berjam-jam setiap hari. Masalah ini bukan baru sehari dua hari, tapi sudah berlangsung hampir satu bulan,” tutur Son dengan nada prihatin.
Kondisi ini memaksa para sopir menjelajahi satu SPBU ke SPBU lainnya. Sayangnya, perjalanan berburu bahan bakar ini kerap berakhir dengan kekecewaan dan antrean panjang yang sama.
Para sopir kini memilih datang lebih pagi ke SPBU Kumun agar mendapatkan nomor antrean awal. Namun, cara ini pun tak selalu berhasil karena jumlah kendaraan yang mengantre jauh melebihi ketersediaan BBM.
Dampaknya sangat terasa pada produktivitas kerja:
Waktu Terbuang: Jam kerja yang seharusnya untuk mengangkut pasir, batu, atau tanah habis begitu saja di area parkir SPBU.
Proyek Terhambat: Keterlambatan pengiriman material mengganggu jadwal pembangunan infrastruktur dan proyek warga.
Lalu Lintas Terganggu: Deretan truk yang memanjang berpotensi mempersempit ruang gerak kendaraan lain di jalan raya.
“Kalau solar sulit, otomatis pekerjaan kami ikut macet. Kendaraan tidak bisa beroperasi seperti biasa,” tambah Son.
Dampak kelangkaan solar tidak berhenti pada para sopir saja, melainkan merembet ke rantai ekonomi yang lebih luas di Kerinci dan Sungai Penuh:
Biaya Logistik Membengkak: Ketika truk pengangkut tertahan lama, biaya operasional membengkak. Pengusaha terpaksa mengeluarkan dana ekstra untuk waktu tunggu yang terbuang.
Risiko Kenaikan Harga Barang: Jika hambatan ini terus berlarut, kenaikan biaya transportasi berpotensi memicu lonjakan harga bahan bangunan hingga bahan pangan di pasar.
Sektor Pertanian Terancam: Petani membutuhkan angkutan yang andal untuk mendistribusikan hasil panen ke pusat kota. Keterlambatan pasokan solar berisiko menurunkan kualitas hasil tani yang terlambat terangkut.
Melihat kondisi yang makin memberatkan ini, masyarakat meminta pemerintah daerah dan aparat kepolisian mengambil langkah tegas. Pengawasan ketat pada proses distribusi solar di SPBU menjadi kebutuhan mendesak agar BBM bersubsidi ini benar-benar tepat sasaran.
Masyarakat mengharapkan beberapa langkah nyata dari pihak terkait:
Pengawasan Ketat di Lapangan: Menindak tegas segala bentuk dugaan penyelewengan atau penimbunan BBM.
Transparansi Stok: SPBU perlu memberikan informasi terbuka mengenai jadwal kedatangan dan ketersediaan stok solar.
Evaluasi Kuota Harian: Pemerintah perlu menghitung kembali kebutuhan riil harian kendaraan operasional di wilayah Kerinci dan Sungai Penuh.
Bagi seorang sopir truk, waktu adalah mata pencaharian. Setiap jam yang hilang di antrean SPBU langsung memotong pendapatan harian yang membawa pulang piring nasi bagi keluarga mereka.
Masyarakat Kerinci dan Sungai Penuh kini menantikan langkah cepat dan solusi konkrit dari pemerintah daerah serta pengelola energi. Distribusi solar yang lancar dan adil menjadi kunci utama agar roda perekonomian masyarakat kembali berputar normal. (**
Tidak ada komentar