Ngiling Bumbu, Tradisi 700 Tahun di Merangin

waktu baca 2 menit
Jumat, 21 Nov 2025 11:00 14 admincuitan

MERANGIN, Cuitan.id – Di tengah pesatnya perkembangan zaman, masyarakat Desa Rantau Panjang, Kabupaten Merangin, Jambi, tetap mempertahankan tradisi kuno yang sarat makna: ngiling bumbu. Kegiatan ini berlangsung di Rumah Tuo, bangunan adat berusia lebih dari 700 tahun yang menjadi pusat kehidupan sosial dan budaya warga sejak ratusan tahun silam.

Ngiling bumbu bukan sekadar meracik rempah untuk memasak. Tradisi turun-temurun ini menjadi wadah berkumpulnya warga lintas usia dalam suasana penuh kekeluargaan. Irama lesung, tawa warga, hingga kerja sama tanpa pamrih mencerminkan kuatnya nilai gotong royong yang dijunjung masyarakat Jambi.

Rumah Tuo selama ini menjadi tempat pelaksanaan berbagai kegiatan adat, mulai dari musyawarah desa hingga persiapan acara penting. Dari sinilah tradisi ngiling bumbu mempertahankan perannya sebagai jantung aktivitas komunal masyarakat.

Setiap kali tradisi ini digelar, suasana Desa Rantau Panjang berubah menjadi meriah. Para gadis menumbuk kunyit, jahe, lengkuas, dan aneka rempah dengan ritme yang teratur, seperti musik tradisional yang muncul secara alami. Di sudut lain, warga memarut kelapa untuk membuat santan segar, bahan esensial dalam masakan khas Jambi.

Para pemuda desa juga memiliki peran penting: menangkap belut di sungai dan sawah sekitar. Aktivitas ini kerap menjadi ajang keseruan yang menunjukkan ketangkasan dan solidaritas para pemuda. Bahan-bahan masakan yang digunakan pun berasal dari alam sekitar Sungai Lamuih hingga Sungai Batanghari, menegaskan kedekatan warga dengan lingkungan mereka.

Pada masa lalu, ngiling bumbu juga berfungsi sebagai ruang interaksi sosial antargenerasi muda. Tradisi ini dikenal lewat istilah ba usik sirih bergurau pinang, yaitu sesi pantun antara pemuda dan pemudi. Pantun penuh candaan menjadi cara alami mereka saling mengenal sebelum memasuki jenjang perjodohan.

Usai berbalas pantun, belut hasil tangkapan diserahkan kepada para gadis untuk dimasak bersama rempah yang telah digiling. Mereka kemudian mengolahnya menjadi gulai belut dengan teknik tradisional bernama ngukuih, yang menghasilkan aroma khas dari tungku kayu.

Gulai belut yang telah matang disantap bersama nasi ladang yang baru dipanen. Hidangan tersebut tidak hanya dinikmati bersama, tetapi juga dibagikan ke warga sekitar sebagai bentuk syukur dan kebersamaan.

Lebih dari sebuah kegiatan memasak, ngiling bumbu menjadi simbol kuatnya kehidupan komunal masyarakat Desa Rantau Panjang. Tradisi ini membuktikan bahwa warisan budaya akan tetap hidup selama dijaga, dipraktikkan, dan diwariskan oleh generasi berikutnya.

Ngiling bumbu mencerminkan filosofi masyarakat Jambi: kerja sama, penghormatan kepada alam, dan ikatan sosial yang erat. Di tengah arus modernisasi, tradisi yang berlangsung di Rumah Tuo ini tetap berdiri kokoh sebagai identitas budaya yang patut dilestarikan. (Tim)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA