Kondisi jembatan penghubung Desa Tamiai, Kec. Batang Merangin Kerinci menuju arah Sako. Cuitan.id — Warga Desa Tamiai, Kec. Batang Merangin Kerinci yang hendak menuju arah Sako setiap hari selalu diselimuti kecemasan. Hal ini disebabkan oleh kondisi jembatan penghubung yang terbuat dari kayu itu sangat memprihatinkan.
Sebuah video dan foto yang memperlihatkan kerusakan parah jembatan penghubung di wilayah tersebut mendadak viral di Facebook. Setiap hari, masyarakat harus bertaruh nyawa saat melintasi jembatan yang kondisinya kian memprihatinkan ini.
Jembatan ini merupakan urat nadi utama bagi kehidupan warga. Mereka mengandalkan jalur ini untuk menggerakkan roda ekonomi, mengantar anak-anak ke sekolah, hingga mengakses fasilitas kesehatan. Namun hari ini, bentang jembatan itu hanya menyisakan bilah-bilah papan kayu lapuk yang siap runtuh kapan saja.
Asmaldi, seorang tokoh masyarakat setempat, menyuarakan kekhawatiran mendalam yang warga rasakan. Ia menjelaskan bahwa guyuran hujan deras dalam beberapa pekan terakhir membuat struktur jembatan semakin rapuh.
“Kondisi jembatan Tamiai saat ini sangat mengkhawatirkan. Jalur ini rawan sekali memicu kecelakaan fatal,” ungkap Asmaldi dengan nada cemas.
Selama ini, warga hanya mampu memperbaiki jembatan secara swadaya. Karena keterbatasan dana, mereka sekadar menambal bagian yang bolong dengan papan seadanya. Alhasil, perbaikan darurat tersebut tidak bertahan lama.
Saat malam hari atau ketika hujan turun, jembatan ini berubah menjadi jalur maut. Permukaan papan menjadi sangat licin, berlubang, dan beberapa bagiannya bahkan sudah patah. Pengendara roda dua dan pejalan kaki harus ekstra waspada agar tidak terperosok ke sungai di bawahnya.
Bagi masyarakat Desa Tamiai, jembatan ini bukan sekadar bangunan fisik, melainkan penyambung hidup. Petani melewati jalur ini untuk membawa hasil panen ke pasar, dan para orang tua menggunakannya untuk mengantar anak-anak menuntut ilmu.
Hingga saat ini, warga tidak memiliki jalur alternatif yang layak. Jika jembatan ini benar-benar putus, masyarakat harus memutar jalan dengan jarak yang sangat jauh. Hal itu pasti akan memicu pembengkakan biaya transportasi dan melumpuhkan ekonomi desa.
Unggahan video mengenai jembatan maut ini langsung memantik reaksi keras dari para pengguna Facebook. Ribuan warganet mengecam lambatnya perhatian pemerintah daerah terhadap infrastruktur pedesaan.
Banyak komentar yang mendesak dinas terkait untuk segera turun ke lapangan. Netizen menilai jembatan tersebut sudah sama sekali tidak layak huni bagi kendaraan. Mereka menuntut solusi nyata sebelum ada korban jiwa yang berjatuhan.
Masyarakat Tamiai sebenarnya tidak tinggal diam. Secara berkala, mereka bergotong royong mengumpulkan kayu dan papan secara mandiri. Langkah ini mereka lakukan agar kendaraan tetap bisa melintas, meskipun sifatnya hanya sementara.
Namun, kekuatan kayu biasa tentu ada batasnya. Cuaca ekstrem dan beban kendaraan yang melintas setiap hari mempercepat pelapukan kayu tersebut. Kini, tiang penyangga utama di bagian bawah jembatan juga mulai bergeser, sebuah tanda bahwa warga memerlukan bantuan alat berat dan teknisi profesional.
Ancaman kecelakaan di jembatan ini terasa kian nyata dari hari ke hari. Para pengendara motor harus menahan napas dan berjalan sangat pelan karena seluruh badan jembatan bergoyang hebat saat mereka lintasi.
Kondisi ini paling mencemaskan para orang tua yang melepas anak-anak mereka pergi ke sekolah setiap pagi. Jika pemerintah tidak segera melakukan penanganan darurat, jembatan ini berpotensi ambruk total dan mengisolasi ratusan kepala keluarga.
Kasus Jembatan Tamiai menjadi cermin nyata bahwa pembangunan infrastruktur di daerah pelosok masih belum merata. Padahal, akses jalan dan jembatan yang layak adalah kunci utama untuk mengentaskan kemiskinan dan mempercepat distribusi hasil bumi.
Kini, masyarakat Tamiai menggantungkan harapan besar pada pundak pemerintah daerah. Mereka tidak lagi meminta tambalan papan kayu, melainkan sebuah jembatan permanen yang kokoh, aman, dan tahan lama demi masa depan desa mereka. **
Tidak ada komentar