Inspiratif! Ida Mujtahidah, Mahasiswi Disabilitas Lulus S2 Tercepat UGM dan Siap Lanjut S3

waktu baca 3 menit
Sabtu, 27 Des 2025 20:00 101 admincuitan

JAKARTA, Cuitan.id Kisah inspiratif datang dari dunia pendidikan Indonesia. Ida Mujtahidah, mahasiswi penyandang disabilitas, membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk meraih prestasi akademik tertinggi.

Perempuan yang akrab disapa Aida ini berhasil menyelesaikan pendidikan Magister (S2) Program Studi Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam waktu tercepat di angkatannya. Tak hanya itu, ia juga meraih predikat cumlaude serta penghargaan tesis terbaik di tingkat program studi.

Prestasi tersebut semakin mengukuhkan Aida sebagai sosok inspiratif yang mampu bersaing secara akademik sekaligus memberi harapan bagi penyandang disabilitas di Indonesia.

Dua Kali Raih Beasiswa LPDP

Meski hidup sebagai penyandang tuna daksa, Aida telah dua kali berhasil mendapatkan beasiswa bergengsi dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Beasiswa tersebut mengantarkannya menyelesaikan studi S2 dan kini kembali mengantarnya menuju jenjang doktoral (S3) pada 2025.

Keberhasilannya menunjukkan bahwa kerja keras, konsistensi, dan keyakinan mampu membuka peluang besar dalam dunia pendidikan.

Latar Belakang Keluarga Pendidik

Aida lahir dan besar di Jombang, Jawa Timur, dari keluarga yang lekat dengan dunia pendidikan dan pesantren. Ayahnya berprofesi sebagai dosen, sementara ibunya seorang guru. Kedua orang tuanya juga mengelola yayasan pondok pesantren.

Lingkungan tersebut membentuk kecintaannya pada ilmu sejak dini. Perpustakaan keluarga menjadi ruang favorit Aida untuk membaca berbagai literatur, mulai dari pengetahuan umum hingga kajian keislaman.

Belajar Mandiri dan Menerima Diri

Di balik pencapaiannya, Aida pernah mengalami kebingungan terkait kondisi fisiknya akibat perbedaan hasil pemeriksaan medis. Namun, ia memilih menerima keadaan dan fokus pada hal-hal yang dapat dikembangkan, yakni belajar dan berkarya.

Saat menempuh pendidikan S1 di Universitas Slamet Riyadi, Aida memutuskan untuk hidup mandiri. Kini, ia mampu bepergian sendiri ke berbagai daerah dan menjalani aktivitas akademik tanpa ketergantungan.

Terinspirasi Nilai Al-Qur’an

Pilihan Aida mengambil jurusan Hubungan Internasional sempat diragukan keluarganya. Namun, ia meyakinkan sang ayah dengan mengaitkan bidang studinya pada nilai Al-Qur’an, khususnya Surat Al-Hujurat ayat 13 tentang pentingnya saling mengenal antarbangsa.

Nilai tersebut menjadi dasar komitmennya dalam mendalami hubungan antarnegara dan isu kemanusiaan, termasuk disabilitas.

Aktif di Dunia Sosial dan Literasi

Usai lulus S2, Aida kembali ke Jombang dan aktif mengelola Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Miftahul Ulum, khususnya di bidang penelitian dan pengembangan. Yayasan tersebut juga menaungi peserta didik penyandang disabilitas.

Selain itu, Aida terlibat sebagai peneliti independen di Jaringan Periset Disabilitas, aktif di berbagai organisasi, serta berkontribusi di dunia literasi sebagai editor dan penulis.

Siap Tempuh Pendidikan Doktoral

Pada 2025, Aida kembali dinyatakan lolos beasiswa LPDP dan bersiap melanjutkan pendidikan S3. Ia berharap ilmu yang diperolehnya dapat memberi manfaat lebih luas bagi masyarakat.

Menurut Aida, kepedulian sosial harus berjalan seiring dengan pengetahuan. Ia menegaskan bahwa pendidikan adalah investasi paling berharga untuk mendorong perubahan sosial yang berkelanjutan. ***

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA