Bocah 9 Tahun di Kerinci Idap Kelumpuhan Otak, Orang Tua Jual Harta Demi Pengobatan

waktu baca 2 menit
Sabtu, 5 Sep 2026 13:01 378 admincuitan

KERINCI, Cuitan.id — Kehidupan Muhammad Gibran, bocah 9 tahun asal Desa Baru Semerah, Kecamatan Tanah Cogok, Kabupaten Kerinci, mengetuk rasa kemanusiaan siapa saja yang mendengarnya.

Sejak menginjak usia lima bulan, Gibran harus berjuang melawan kelumpuhan otak (cerebral palsy). Kondisi ini merenggut masa kecilnya dan membuat aktivitas fisiknya sangat terbatas. Bahkan, Gibran hanya bisa mengonsumsi susu sebagai asupan nutrisi sehari-hari.

Saat ini, kedua orang tuanya setia mendampingi Gibran yang sedang menjalani perawatan intensif di salah satu rumah sakit di Bukittinggi, Sumatera Barat. Perjuangan keluarga ini terasa sangat berat.

Keterbatasan ekonomi memaksa sang ayah dan ibu menguras seluruh tabungan hingga menjual harta benda demi membiayai pengobatan, perjalanan medis, serta kebutuhan susu harian sang buah hati.

Kondisi prihatin yang menimpa keluarga Gibran memantik tanggapan keras dari aktivis Kerinci dan Kota Sungai Penuh, Sopan Sopian. Ia menyuarakan kepedulian publik dan mempertanyakan kehadiran pemerintah daerah di tengah penderitaan warga yang sangat membutuhkan pertolongan.

“Di mana letak kepedulian pemerintah daerah dalam menanggapi keadaan warga yang sangat membutuhkan bantuan di tengah jeratan ekonomi ini?” ujar Sopan.

Sopan menegaskan bahwa pemerintah tidak boleh sekadar hadir dalam acara seremonial. Pemerintah daerah harus turun langsung ke lapangan, melihat kondisi riil keluarga Gibran, serta membuka akses pelayanan kesehatan dan bantuan sosial yang menjadi hak mereka.

“Di mana keadilan dan nilai Pancasila, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia?” tegas Sopan.

Di tengah perjuangan yang tak kenal lelah ini, orang tua Gibran menyimpan harapan sederhana: melihat anak mereka mendapatkan perawatan medis terbaik, kebutuhan sehari-hari terpenuhi, dan mendapat perhatian nyata dari pemerintah setempat.

Kisah Gibran menjadi tamparan keras sekaligus pengingat bahwa kepedulian sosial harus terwujud dalam aksi nyata, bukan sekadar janji di atas kertas. (**

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA