Kisah Nabi Nuh: Perjuangan 950 Tahun Menghadapi Kaum Pembangkang

waktu baca 4 menit
Senin, 8 Jun 2026 18:00 7 admincuitan

Cuitan.id – Manusia generasi awal pernah terjerumus ke dalam jurang kesesatan yang sangat kelam setelah Nabi Adam AS wafat. Mereka berpaling dari Allah SWT dan mulai mendewakan berhala-berhala buatan tangan mereka sendiri.

Kerusakan moral dan spiritual ini merajalela ke seluruh penjuru bumi. Melihat kondisi yang semakin memprihatinkan tersebut, Allah SWT mengutus Nabi Nuh AS sebagai penyelamat iman manusia.

Rasul Pertama di Muka Bumi

Ibnu Katsir dalam buku Qashashul Anbiya (terjemahan Umar Mujtahid) menjelaskan bahwa Nabi Nuh AS merupakan rasul pertama yang mengemban tugas dakwah di bumi. Catatan sejarah ini merujuk pada sebuah hadits sahih riwayat Ibnu Hibban dari Abu Hurairah RA mengenai hari pertanggungjawaban kelak.

Pada hari kiamat nanti, seluruh manusia akan mendatangi Nabi Adam AS untuk meminta bantuan. Mereka berkata, “Wahai Adam, engkau adalah ayah dari seluruh manusia. Allah menciptakanmu dengan tangan-Nya sendiri dan meniupkan ruh-Nya kepadamu. Mohon berikan syafaat untuk kami di hadapan Tuhanmu.”

Namun, Nabi Adam AS menjawab dengan penuh rasa takut, “Hari ini Tuhanku sangat murka, kemurkaan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan tidak akan terjadi lagi setelah ini. Diriku sendiri lebih butuh penyelamatan!” Kegentingan inilah yang mengawali pencarian manusia hingga mereka menemui para nabi berikutnya, termasuk Nabi Nuh AS.

Dakwah Tanpa Lelah Selama Ratusan Tahun

Nabi Nuh AS mengawali dakwahnya dengan mengajak kaumnya kembali menyembah Allah Yang Maha Esa. Beliau meminta mereka menghancurkan patung, berhala, dan segala bentuk sesembahan yang menyesatkan. Sang Nabi ingin membawa manusia kembali ke jalan suci seperti zaman generasi awal Nabi Adam AS.

Berdasarkan riwayat Ibnu Abbas, jarak antara Nabi Adam AS dan Nabi Nuh AS membentang sepanjang sepuluh generasi. Pada masa awal, seluruh manusia memeluk agama Islam yang murni. Namun seiring berjalannya waktu, bisikan jahat setan berhasil meracuni pikiran manusia hingga mereka menciptakan berhala untuk mereka sembah.

Nabi Nuh AS menghadapi tantangan berat ini dengan kesabaran yang luar biasa. Beliau mencoba berbagai metode dakwah tanpa mengenal lelah, baik siang maupun malam. Kadang beliau menyampaikan kabar gembira tentang surga, dan di waktu lain beliau memperingatkan mereka tentang ngeri-nya siksa neraka.

Melalui Al-Qur’an Surah Al-A’raf ayat 59, Nabi Nuh AS berseru: “Wahai kaumku, sembahlah Allah! Tidak ada tuhan yang berhak kamu sembah selain Dia. Sungguh, aku sangat takut azab hari kiamat yang besar akan menimpa kamu.”

Beliau juga menegaskan peringatan tersebut dalam Surah Hud ayat 26 dan Surah Al-Mu’minun ayat 23 agar kaumnya segera bertobat dan kembali bertakwa. Surah Nuh ayat 1-14 pun menceritakan secara detail bagaimana sang nabi menjelaskan proses penciptaan manusia demi menyentuh hati mereka.

Penolakan yang Berujung Bencana Besar

Sayangnya, kaum Nabi Nuh AS menutup telinga dan hati mereka. Mereka mengabaikan semua seruan tersebut dan justru menantang argumen sang nabi. Sikap keras kepala ini bahkan turun-temurun ke generasi berikutnya. Setiap kali orang tua akan meninggal, mereka berpesan kepada anak-anaknya agar terus memusuhi dan menentang Nabi Nuh AS.

Al-Qur’an merekam durasi perjuangan yang luar biasa ini dalam Surah Al-Ankabut ayat 14: “Sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka dia tinggal bersama mereka selama seribu tahun kurang lima puluh tahun (950 tahun). Kemudian banjir besar melanda mereka karena mereka terus berbuat zalim.”

Setelah berdakwah hampir satu milenium dan hanya menemui jalan buntu, Nabi Nuh AS akhirnya memanjatkan doa kepada Allah SWT. Allah mengabulkan doa tersebut dan merancang sebuah hukuman besar bagi kaum yang membangkang.

Mukjizat Kapal Penyelamat

Sebelum menurunkan azab, Allah SWT memerintahkan Nabi Nuh AS untuk membangun sebuah kapal raksasa. Kapal ini berfungsi sebagai tempat penyelamatan bagi sang nabi dan para pengikutnya yang setia.

Para ulama memiliki beberapa pandangan mengenai ukuran pasti kapal tersebut:

  • Qatadah: Menyebutkan panjang kapal mencapai 300 hasta dengan lebar 50 hasta.

  • Hasan Al-Bashri: Memperkirakan panjangnya 600 hasta dan lebar 300 hasta.

  • Ibnu Abbas: Mengatakan panjang kapal mencapai 1.200 hasta dan lebar 600 hasta.

Meskipun berbeda pendapat soal panjang dan lebar, para ulama sepakat bahwa kapal tersebut memiliki tinggi 30 hasta dan terdiri dari tiga tingkat. Nabi Nuh AS menempatkan hewan-hewan liar dan ternak di tingkat paling bawah. Tingkat kedua menjadi tempat tinggal bagi manusia, sedangkan tingkat teratas menjadi area bagi berbagai jenis burung. Beliau juga memasang pintu-pintu dengan penutup yang sangat rapat agar air tidak dapat menembus masuk.

Saat hari penghukuman tiba, Allah SWT memerintahkan langit menurunkan hujan lebat dan bumi memancarkan air dari segala penjuru. Banjir bandang yang sangat dahsyat langsung menenggelamkan seluruh isi bumi.

Hanya Nabi Nuh AS dan para pengikut setianya di dalam kapal yang berhasil selamat dari bencana global tersebut. Bahkan, istri dan anak kandung Nabi Nuh AS sendiri ikut tewas tenggelam bersama gelombang air, karena mereka memilih jalan kekafiran dan menolak ajaran kebenaran. **

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA