Cuitan.id – Selamat datang bulan Dzulhijjah! Kedatangan bulan yang penuh kemuliaan ini selalu memicu kerinduan umat Islam untuk memperbanyak amal saleh.
Bagi para khatib, momen berharga ini menjadi waktu yang tepat untuk menyajikan materi khutbah terbaik yang mampu menggetarkan jiwa dan meningkatkan ketakwaan jemaah.
Allah SWT bahkan bersumpah demi waktu yang mulia ini dalam Al-Qur’an Surah Al-Fajr ayat 1-2:
“Demi fajar, dan malam yang sepuluh.”
Mayoritas ulama tafsir sepakat bahwa “malam yang sepuluh” tersebut merujuk pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Imam Al-Nawawi dalam kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab juga menegaskan bahwa sepuluh hari pertama Dzulhijjah merupakan waktu paling utama bagi kita untuk memaksimalkan ibadah.
Untuk membantu persiapan para khatib, kami menyajikan tujuh contoh materi khutbah Jumat bulan Dzulhijjah dengan berbagai tema penting yang relevan, merujuk pada panduan madzhab Syafiiyah.
Contoh Khutbah 1: Keagungan 10 Hari Pertama Dzulhijjah
KHUTBAH I
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah,
Mari kita memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT. Mengawali khutbah ini, khatib berwasiat kepada diri pribadi dan jamaah sekalian, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Saat ini kita berada di bulan Dzulhijjah, salah satu bulan haram yang sangat dimuliakan. Di dalamnya terdapat 10 hari pertama yang keutamaannya di sisi Allah mengalahkan hari-hari lain sepanjang tahun. Allah SWT bahkan bersumpah dengan waktu ini dalam Al-Qur’an:
وَالْفَجْرِ ﴿١﴾ وَلَيَالٍ عَشْرٍ ﴿٢﴾
“Demi fajar, dan malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 1-2).
Para ahli tafsir, termasuk Ibnu Katsir, menjelaskan bahwa “malam yang sepuluh” dalam ayat ini adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Sumpah Allah ini menjadi bukti betapa agung dan berharganya waktu-waktu tersebut bagi seorang mukmin.
Di hari-hari inilah seluruh induk ibadah berkumpul: shalat, puasa, sedekah, dan haji. Sesuatu yang tidak berkumpul di bulan-bulan lainnya. Rasulullah SAW bersabda bahwa amal saleh yang dikerjakan pada sepuluh hari ini lebih dicintai Allah daripada amal di hari lain, bahkan lebih utama dari jihad, kecuali seseorang yang berjihad mengorbankan jiwa dan hartanya dan tidak kembali.
Karena itu, mari kita hidupkan hari-hari ini. Bagi yang tidak berhaji, perbanyaklah puasa sunnah, khususnya puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah. Gemakan takbir, tahlil, dan tahmid di rumah, di jalan, dan di tempat kerja kita. Jangan biarkan waktu emas ini berlalu begitu saja tanpa peningkatan amal saleh, karena kita tidak pernah tahu apakah kita masih akan bertemu dengan Dzulhijjah tahun depan.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ.
KHUTBAH II
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ.
Di khutbah kedua ini, mari kita bulatkan tekad untuk meraih ampunan Allah dan menyisihkan sebagian harta untuk berkurban.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
Khutbah 2: Hakikat dan Esensi Ibadah Kurban
KHUTBAH PERTAMA
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Bulan Dzulhijjah identik dengan perayaan Idul Adha dan penyembelihan hewan kurban. Namun, kurban bukanlah semata-mata mengalirkan darah hewan dan membagikan dagingnya. Kurban adalah ujian ketakwaan.
Allah SWT menegaskan hakikat ibadah ini dalam Al-Qur’an:
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Hajj: 37).
Ayat ini menyentuh lubuk hati kita yang terdalam. Allah Yang Maha Kaya tidak membutuhkan daging hewan kurban kita. Yang Allah lihat adalah getaran hati, keikhlasan, dan kepatuhan kita saat melepaskan sebagian harta yang kita cintai.
Banyak di antara kita yang mampu membeli gawai mewah, kendaraan baru, atau makan di restoran mahal, tetapi merasa berat saat diajak berkurban setahun sekali. Kurban mengajarkan kita untuk “menyembelih” ego, kerakusan, dan cinta berlebihan pada dunia. Mari kita persembahkan kurban terbaik semata-mata karena Allah.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ.
Jadikan ibadah kurban sebagai momentum untuk membersihkan harta kita dan membantu fakir miskin yang sangat menantikan uluran tangan di hari raya ini.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
Khutbah 3: Teladan Tauhid Keluarga Nabi Ibrahim
KHUTBAH PERTAMA
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
Sidang Jumat yang dimuliakan Allah,
Kisah Dzulhijjah adalah kisah tentang keluarga teladan, keluarga Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam. Sejarah mencatat pengorbanan ayah, ibu, dan anak yang luar biasa demi menaati perintah Ilahi. Momen puncak dari ketaatan itu terabadikan dalam firman Allah:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia menjawab: ‘Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’” (QS. As-Saffat: 102).
Perhatikan dialog yang begitu indah ini. Ibrahim bertindak bukan sebagai sosok otoriter, melainkan ayah yang menanamkan tauhid dengan dialog. Ismail pun merespons bukan dengan pemberontakan, melainkan penyerahan total kepada Allah SWT. Inilah hasil pendidikan aqidah yang mengakar kuat.
Di zaman sekarang, ketika krisis moral melanda, keluarga Nabi Ibrahim menjadi pengingat. Sudahkah kita mendidik anak kita dengan tauhid? Ataukah kita hanya mempedulikan nilai akademis dan urusan duniawi mereka? Mari jadikan keluarga kita taman ketakwaan, di mana ayah membimbing, ibu merawat keimanan, dan anak-anak patuh pada syariat.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ.
Mari kita doakan agar keluarga kita senantiasa dikaruniai kesabaran dan keistikamahan, mampu melewati segala ujian hidup dengan keimanan yang kokoh bak keluarga Ibrahim.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
Khutbah 4: Haji dan Pelajaran tentang Kesetaraan
KHUTBAH PERTAMA
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah,
Saat ini, jutaan saudara kita sedang berada di Tanah Suci untuk menunaikan rukun Islam yang kelima, yakni haji. Ibadah ini diwajibkan bagi mereka yang mampu, sebagaimana firman Allah:
وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ
“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Ali Imran: 97).
Puncak dari ibadah haji adalah wukuf di Arafah. Di padang tandus tersebut, seluruh jamaah menanggalkan atribut kemewahan dunia. Penguasa, pengusaha, hingga rakyat biasa semuanya memakai dua helai kain putih yang melambangkan kain kafan. Ini adalah teguran keras bagi kita: di hadapan Allah, manusia itu setara, yang membedakan hanyalah ketakwaannya.
Kesetaraan ini harus kita bawa dalam kehidupan bermasyarakat. Janganlah kita merendahkan orang lain karena perbedaan status ekonomi, suku, atau pendidikan. Bagi jamaah yang belum mampu berhaji, mari kita niatkan di dalam hati, iringi dengan doa dan ikhtiar menabung, semoga Allah mudahkan jalan kita menuju Baitullah.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ.
Di hari yang mulia ini, mari kita hapus kesombongan dari dalam dada. Kita doakan pula saudara-saudara kita yang sedang menunaikan ibadah haji agar memperoleh haji yang mabrur.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
Khutbah 5: Keutamaan Puasa Arafah dan Penghapusan Dosa
KHUTBAH PERTAMA
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
Kaum Muslimin rahimakumullah, Allah SWT sangat pemurah kepada hamba-hamba-Nya. Diberikan-Nya syariat puasa Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah) bagi umat Islam yang tidak sedang melaksanakan wukuf di Arafah. Keutamaan puasa ini sangatlah dahsyat. Rasulullah bersabda bahwa puasa Arafah dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.
Ini adalah momen pengampunan massal dari Allah. Manusia tempatnya salah dan lupa, maka inilah waktu terbaik untuk kembali suci. Allah berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Az-Zumar: 53).
Jangan jadikan puasa ini sebatas menahan lapar dan dahaga, namun juga menahan lisan dari ghibah, menahan mata dari maksiat, dan menahan hati dari iri dengki. Jadikan hari Arafah sebagai titik balik untuk bertaubat nasuha dan memohon rahmat yang seluas-luasnya dari Allah SWT.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ.
Mari basahi lisan dengan istighfar. Jangan biarkan pintu taubat dan limpahan ampunan di bulan ini tertutup tanpa kita mengambil bagian di dalamnya.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
Khutbah 6: Semangat Berbagi dan Kepedulian Sosial
KHUTBAH PERTAMA
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
Sidang shalat Jumat yang berbahagia, Ibadah kurban adalah manifestasi dari ibadah mahdhah (hubungan kepada Allah) dan ibadah ghairu mahdhah (hubungan kepada manusia). Daging kurban dibagikan untuk menyenangkan fakir miskin yang mungkin jarang merasakan nikmatnya memakan daging.
Ini mengingatkan kita tentang pentingnya empati sosial. Allah memberikan ganjaran yang luar biasa bagi mereka yang berinfak dan peduli pada sesama:
مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261).
Di tengah himpitan ekonomi saat ini, banyak saudara kita yang berjuang keras sekadar untuk bertahan hidup. Semangat berbagi Dzulhijjah jangan hanya berhenti saat hari Tasyrik usai, tapi harus terus mengalir menjadi kedermawanan harian. Jangan biarkan ada tetangga kita yang tertidur dalam keadaan lapar, sementara kita kekenyangan.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ.
Jadikan ibadah kurban sebagai latihan keikhlasan. Semoga harta yang kita dermakan menjadi jembatan menuju keridhaan Allah dan kesejahteraan umat.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
Khutbah 7: Istiqamah Pasca-Bulan Dzulhijjah
KHUTBAH PERTAMA
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah, Bulan-bulan mulia seperti Ramadhan dan Dzulhijjah diciptakan sebagai tempat menempa keimanan. Namun, ujian sejati seorang mukmin adalah bagaimana ia mempertahankan kualitas ketakwaannya ketika bulan-bulan mulia tersebut berlalu.
Jangan menjadi “Hamba Dzulhijjah” yang hanya rajin ibadah, dermawan, dan taat pada momentum perayaan saja. Jadilah “Hamba Allah” (Rabbani) yang konsisten taat sepanjang waktu. Allah memerintahkan keistiqamahan ini dalam Al-Qur’an:
فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا ۚ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar (istiqamah), sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Hud: 112).
Istiqamah tidak menuntut kita untuk selalu beramal dalam jumlah raksasa setiap harinya. Rasulullah SAW menyebutkan bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang dikerjakan secara rutin (konsisten) meskipun sedikit. Rutinkan shalat berjamaah, rutinkan sedekah meski nilainya tidak seberapa, rutinkan zikir harian. Itulah bukti keimanan yang sejati.
Mari kita jaga semangat pengorbanan Nabi Ibrahim, keikhlasan berbagi, dan kebersihan hati dari dosa-dosa untuk diterapkan pada keseharian kita di bulan-bulan berikutnya hingga kita wafat dalam keadaan husnul khatimah.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ.
Mari kita tundukkan hati memohon ampunan Allah. Semoga kita diberikan taufik agar lisan, pikiran, dan perbuatan kita senantiasa teguh di atas jalan yang diridhai-Nya.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
Tanya Jawab Seputar Bulan Dzulhijjah
Untuk memperluas wawasan Anda, berikut adalah beberapa jawaban atas pertanyaan yang sering muncul mengenai bulan Dzulhijjah:
1 Dzulhijjah jatuh pada tanggal berapa? Berdasarkan kalender hijriyah, 1 Dzulhijjah 1447 H jatuh pada hari Senin, 18 Mei 2026.
Mengapa bulan Dzulhijjah sangat istimewa? Bulan ini sangat istimewa karena menjadi waktu berkumpulnya semua induk ibadah utama dalam Islam, yaitu shalat, puasa, sedekah, dan ibadah haji. Keistimewaan ini tidak akan kita temukan di bulan-bulan lainnya.
Tanggal 8 dan 9 Dzulhijjah jatuh pada hari apa? Tanggal 8 Dzulhijjah (Hari Tarwiyah) jatuh pada hari Senin, 25 Mei 2026, sedangkan tanggal 9 Dzulhijjah (Hari Arafah) jatuh pada hari Selasa, 26 Mei 2026. Umat Islam yang tidak berhaji sangat dianjurkan berpuasa pada kedua hari ini.
Kapan kita bisa mulai menunaikan puasa Dzulhijjah? Anda bisa memulai puasa sunnah Dzulhijjah sejak tanggal 1 Dzulhijjah, yaitu pada hari Senin, 18 Mei 2026. Anjuran puasa ini berlangsung selama 9 hari pertama secara berturut-turut. **




Tidak ada komentar