Ilustrasi – Daftar Belanja Badan Gizi Nasional Capai Rp6,31 Triliun, Untuk Apa Saja? Cuitan.id – Publik kini tengah mengamati dengan saksama langkah awal Badan Gizi Nasional (BGN). Alih-alih hanya fokus pada urusan piring makan rakyat melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG), daftar belanja lembaga ini justru memuat deretan barang yang memicu tanda tanya besar.
Berdasarkan data terbaru dari sistem inaproc milik Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP), BGN mencatatkan total anggaran fantastis sebesar Rp6,31 triliun. Anggaran ini terbagi ke dalam 1.091 paket pengadaan untuk tahun anggaran 2025.
Meski mengemban misi memperbaiki gizi bangsa, rincian belanja BGN menunjukkan keberagaman item yang cukup mengejutkan. Alih-alih bahan pangan atau alat masak massal, masyarakat menemukan pengadaan barang-barang seperti:
Kendaraan & Gadget: Motor listrik, laptop, hingga tablet.
Jasa Penyelenggara: Penggunaan jasa Event Organizer (EO) untuk berbagai kegiatan.
Atribut Pribadi: Pakaian dinas, sweater, handuk, celana, sepatu, hingga topi dan ikat pinggang.
Detail Kecil: Kaos dalam, ransel, bahkan semir sepatu masuk dalam daftar pengadaan.
Munculnya barang-barang “pendukung” dengan nilai triliunan rupiah ini memicu diskusi hangat di ruang publik. Banyak pihak mempertanyakan apakah pengadaan motor listrik atau perlengkapan pribadi tersebut benar-benar memiliki kaitan langsung dengan efektivitas distribusi makanan bergizi bagi anak-anak sekolah.
Data resmi pemerintah menunjukkan bahwa pengadaan ini memang bertujuan untuk mendukung skala operasional lembaga yang besar. Namun, publik menuntut transparansi yang lebih jernih. Masyarakat ingin memastikan bahwa setiap rupiah dari pajak mereka benar-benar mendarat di meja makan anak-anak yang membutuhkan, bukan sekadar mempercantik fasilitas perkantoran.
Sebagai lembaga baru dengan anggaran jumbo, akuntabilitas menjadi harga mati bagi BGN. Isu ini diprediksi akan terus bergulir hingga pihak lembaga memberikan klarifikasi mendalam mengenai urgensi di balik setiap item belanja tersebut.
Ke depan, pengawasan ketat terhadap realisasi anggaran ini menjadi kunci agar program unggulan pemerintah tidak kehilangan arah di tengah tumpukan birokrasi dan belanja fasilitas. **
Tidak ada komentar