Pemain PS Semurup saat Perempat Final Bupati Cup 2025. KERINCI, Cuitan.id – Kejutan besar mewarnai Bupati Cup 2025 setelah PS Semurup secara resmi menyatakan mundur dari turnamen. Pengumuman itu disampaikan melalui akun Facebook Dedikasi Kita Smuhut dan langsung menyita perhatian pecinta sepak bola lokal.
Dalam pernyataannya, manajemen tim menuding adanya ketidakadilan, minim transparansi, dan keputusan panitia yang dianggap sepihak.
PS Semurup merasa tidak mendapatkan perlakuan yang setara selama kompetisi. Mereka menyoroti kebijakan panitia terkait permintaan tanding ulang yang dinilai tidak memiliki dasar prosedur yang jelas.
Situasi makin memanas ketika tiga pemain, yakni Pino Ramanda, Eki Zeltoni, dan Agung Wicaksono, tidak mendapat izin bermain tanpa penjelasan teknis yang jelas dari panitia.
Menurut manajemen, keputusan tersebut merugikan tim karena tidak disertai bukti protes resmi, tidak ada forum klarifikasi, dan tidak mengikuti mekanisme yang berlaku dalam turnamen. Mereka menilai panitia mengambil langkah sepihak yang tidak mencerminkan profesionalisme dalam penyelenggaraan kompetisi.
PS Semurup menegaskan bahwa sebuah turnamen seharusnya dilaksanakan berdasarkan regulasi yang kuat dan transparan. Ketiadaan dasar hukum dan argumentasi teknis atas keputusan pencoretan pemain serta tanding ulang dianggap dapat menciptakan preseden buruk bagi masa depan sepak bola amatir di Kerinci.
“Kompetisi bukan hanya soal menang atau kalah, tetapi tentang sportivitas, integritas, dan keterbukaan,” tulis manajemen dalam unggahan tersebut.
Mereka menambahkan, ketika salah satu peserta merasa tidak diperlakukan secara adil, maka nilai fair play menjadi dipertanyakan.
Keputusan mundur ini, menurut PS Semurup, diambil sebagai bentuk protes untuk menjaga marwah klub dan mendorong agar penyelenggaraan turnamen ke depan lebih profesional, akuntabel, dan terbuka terhadap kritik.
Mereka berharap, langkah ini bisa menjadi momentum evaluasi bagi tata kelola dan regulasi turnamen di daerah.
Mundurnya PS Semurup dipastikan mengubah dinamika kompetisi Bupati Cup 2025. Publik kini menunggu apakah kejadian ini akan memicu perubahan regulasi, peningkatan kualitas manajemen turnamen, atau justru memperlebar polarisasi di antara peserta. ***
Tidak ada komentar