Indonesia Resmi Akhiri KLB Polio Tipe 2, WHO: Situasi Terkendalia

waktu baca 2 menit
Sabtu, 22 Nov 2025 13:00 102 admincuitan

JAKARTA, Cuitan.id – Pemerintah Indonesia secara resmi menghentikan status Kejadian Luar Biasa (KLB) polio tipe 2 setelah upaya penanggulangan berlangsung hampir tiga tahun. Langkah ini ditetapkan setelah tidak ditemukan lagi virus polio pada anak maupun lingkungan sejak Juni 2024, sehingga WHO menyatakan KLB berakhir pada 19 November 2025.

Keberhasilan ini didukung oleh pemberian hampir 60 juta dosis imunisasi polio tambahan kepada anak-anak selama masa penanganan KLB.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan bahwa capaian ini merupakan hasil kerja keras tenaga kesehatan, dukungan orang tua, dan masyarakat yang konsisten membawa anak memenuhi jadwal imunisasi.

“Kita berhasil menghentikan penyebaran polio di Indonesia. Namun, risiko masih ada karena ketimpangan cakupan imunisasi di beberapa provinsi. Semua anak harus mendapatkan imunisasi lengkap sesuai usia,” ujar Menkes di Jakarta, Jumat (21/11).

Direktur Regional WHO untuk Pasifik Barat, Dr. Saia Ma’u Piukala, mengapresiasi langkah Indonesia yang dinilai memperkuat ketahanan seluruh kawasan terhadap ancaman polio.

“Keberhasilan Indonesia adalah tonggak menuju dunia bebas polio. Meski begitu, semua negara harus tetap waspada dan melanjutkan imunisasi,” katanya.

KLB polio tipe 2 pertama kali dilaporkan di Aceh pada Oktober 2022. Dalam dua tahun berikutnya, kasus juga ditemukan di Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Maluku Utara, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan.

Kasus terakhir terkonfirmasi di Papua Selatan pada 27 Juni 2024.

Untuk menghentikan penularan, pemerintah melakukan dua putaran imunisasi tambahan menggunakan vaksin novel OPV-2 (nOPV2) sejak akhir 2022 hingga triwulan ketiga 2024.

Cakupan imunisasi rutin juga meningkat, terutama pada vaksin IPV dosis kedua, dari 63% (1,9 juta anak) pada 2023 menjadi 73% (3,2 juta anak) pada 2024.

Sebagai percepatan, Kemenkes mulai menggunakan vaksin heksavalen, yang menggabungkan DPT-HB-Hib dan IPV dalam satu suntikan. Vaksin ini melindungi anak dari enam penyakit, termasuk polio, difteri, pertusis, tetanus, hepatitis B, dan infeksi Hib.

Program vaksin heksavalen dimulai Oktober 2025 di DIY, NTB, Bali, dan enam provinsi di Tanah Papua, sebelum diperluas secara nasional pada 2026.

Indonesia juga mencatat peningkatan signifikan dalam deteksi Acute Flaccid Paralysis (AFP), indikator penting pemantauan polio. Kualitas surveilans diperkuat dengan sistem deteksi lebih sensitif dan peningkatan kualitas spesimen.

Penilaian independen melalui Outbreak Response Assessment (OBRA) dilakukan pada Juli 2023, Desember 2024, dan Juni 2025. Hasilnya menunjukkan Indonesia telah melaksanakan respon KLB secara efektif, konsisten, serta berhasil menekan kemunculan kasus baru.

Berdasarkan seluruh temuan tersebut, WHO menyatakan Indonesia telah memenuhi kriteria penghentian KLB Polio, sehingga status KLB resmi ditutup. ***

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA