Ilustrasi Suku Anak Dalam Jambi. (Foto: Rifkianto Nugroho/detikcom) JAMBI, Cuitan.id – Kasus penculikan Balita Bilqis di Makassar, Sulawesi Selatan, yang ditemukan di pemukiman Suku Anak Dalam (SAD) atau Orang Rimba di Merangin, Jambi, membuat perhatian publik tertuju pada komunitas adat ini. Banyak yang ingin mengetahui lebih dalam tentang kehidupan dan budaya Suku Anak Dalam Jambi.
Dikutip dari buku Etnoagronomi Indonesia karya Didik Indradewa, Suku Anak Dalam merupakan salah satu suku minoritas yang mendiami wilayah hutan Sumatera, terutama di Jambi. Berikut ini ulasan lengkap mulai dari pengertian, asal-usul, tradisi, hingga kehidupan sehari-hari mereka.
Pengertian Suku Anak Dalam (SAD)
Suku Anak Dalam, yang juga dikenal sebagai Orang Rimba, adalah suku dengan populasi kecil yang mayoritas tinggal di Jambi, dengan estimasi sekitar 3.198 jiwa. Mereka hidup sebagai pemburu dan peramu di hutan Sumatera, termasuk di Jambi dan Sumatera Selatan.
Sejarah menyebutkan bahwa awalnya Orang Rimba dikenal sebagai Orang Kubu, sebutan yang diperkenalkan oleh ilmuwan Eropa. Pemerintah kemudian menetapkan istilah Suku Anak Dalam (SAD), sementara istilah Komunitas Adat Terpencil (KAT) digunakan oleh Departemen Sosial. Sebutan Orang Rimba umumnya digunakan oleh akademisi dan peneliti.
Asal-Usul Suku Anak Dalam Jambi
Berdasarkan tradisi lisan, Orang Rimba awalnya disebut orang maalau sesat, yang kemudian mencari tempat tinggal di hutan sekitar Air Hitam, Jambi. Ada juga versi sejarah yang menyebut mereka berasal dari Pagaruyung, Sumatera Barat, dan mengungsi ke Jambi.
Menurut buku Pemberdayaan Suku Anak Dalam Berbasis Wisata Budaya oleh Dahmiri dkk., asal-usul SAD di Jambi dapat dibagi menjadi tiga kelompok:
Sejarah lisan mereka diperkirakan mencapai 300–500 tahun atau sejak abad ke-16 hingga ke-17.
Tradisi Unik Suku Anak Dalam
Setiap kelompok Orang Rimba memiliki tradisi yang berbeda. Salah satu tradisi warisan budaya tak benda dari Bukit Duabelas, Jambi, adalah ritual Nomboi Naek Sialong dan Nomboi Ngambek Mani Rapa.
Ritual ini memiliki pantangan, termasuk tidak mengonsumsi beberapa jenis hewan yang dianggap memiliki sifat mirip lebah. Panen madu dilakukan menjelang malam, dengan proses pemanjatan pohon menggunakan kayu sebagai pijakan (melantak sialong) dan diiringi pembacaan mantra.
Ritual ini tidak hanya untuk mendapatkan madu, tetapi juga menjaga kelestarian alam dan simbol-simbol leluhur mereka.
Kehidupan Suku Anak Dalam Jambi
Orang Rimba tinggal di hutan dan di tepian sungai di beberapa wilayah Jambi seperti Batang Hari, Merangin, Tembesi, Sarolangun, dan Taman Nasional Bukit Duabelas. Mereka hidup dalam kelompok kecil yang dipimpin oleh Temenggung.
Ciri fisik Orang Rimba:
Pakaian tradisional:
Bahasa mereka membedakan orang luar sebagai orang terang. Orang Rimba dikenal memiliki sifat temperamen tinggi, keras, dan pemalu, sehingga sulit berinteraksi dengan orang luar kecuali dalam kondisi penting.
Tempat tinggal mereka disebut sudung, tanpa dinding, beralaskan kayu, dan jaraknya disesuaikan agar anak yang dewasa bisa memiliki sudung sendiri. Pilihan lokasi juga memperhatikan wilayah pantang untuk dilintasi, seperti rawa-rawa.
Suku Anak Dalam Jambi atau Orang Rimba memiliki kehidupan yang unik dan tradisi yang kaya, mulai dari ritual panen madu hingga adat istiadat sehari-hari. Kehidupan mereka di hutan bukan hanya simbol kemandirian, tetapi juga upaya menjaga kelestarian alam dan warisan leluhur.
Dengan memahami sejarah, tradisi, dan kehidupan Orang Rimba, kita dapat lebih menghargai keberagaman budaya yang ada di Indonesia. ***
Tidak ada komentar