Sunnah Idul Adha yang Sering Terlupakan. Cuitan.id – Hari Raya Idul Adha selalu membawa kemeriahan tersendiri melalui ibadah kurban dan hidangan daging yang lezat. Namun, di balik tradisi tahunan ini, umat Islam sering kali melewatkan jejak-jejak sunnah Rasulullah SAW.
Amalan-amalan ini mungkin terlihat sederhana, tetapi memiliki bobot pahala yang sangat besar di sisi Allah SWT. Melalui artikel ini, kita akan menggali kembali kebiasaan Nabi yang mulai jarang mendapat perhatian agar Idul Adha kita menjadi momentum transformasi spiritual yang sesungguhnya.
Menyadur dari berbagai sumber tepercaya seperti ebook “Bekal-bekal di Dalam Menyambut Idul Adha” karya Ustadz Abū Salmâ al-Atsarî serta Jurnal Wawasan As-Sunnah karya Sulidar, berikut adalah ragam kebiasaan Rasulullah yang patut kita teladani.
Banyak orang melewatkan malam 10 Dzulhijjah begitu saja. Padahal, para ulama mazhab, termasuk Imam asy-Syafi’i, menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak ibadah pada malam tersebut sebagai bentuk syukur. Merujuk riwayat Ibnu ‘Abbas, Anda bisa menghidupkan malam Id dengan melaksanakan shalat Isya dan Subuh secara berjamaah.
Membersihkan diri sebelum menuju tempat shalat memiliki keutamaan yang besar. Sunnah ini berlaku untuk semua orang, baik laki-laki, perempuan, maupun mereka yang sedang berhalangan (uzur syar’i). Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa mandi hari raya bertujuan untuk memuliakan hari besar Islam. Anda bisa memulainya sejak pertengahan malam atau setelah masuk waktu Subuh.
Berbeda dengan Idul Fitri, Rasulullah ﷺ justru mencontohkan untuk tidak makan terlebih dahulu sebelum shalat Idul Adha tunai. Ustaz Adi Hidayat menjelaskan bahwa Nabi ﷺ baru menyantap makanan setelah pulang shalat. Berdasarkan hadits riwayat Ahmad, hikmah dari sunnah ini adalah agar makanan pertama yang masuk ke tubuh kita berasal dari hasil daging kurban sendiri.
Rasulullah ﷺ menyukai berjalan kaki saat menuju tempat shalat Id ketimbang berkendara. Selain itu, beliau selalu mengambil rute jalan yang berbeda saat berangkat dan pulang (HR. Bukhari & Ibnu Majah). Kebiasaan ini bertujuan untuk memperluas syiar Islam sekaligus menjadikan rute-rute tersebut sebagai saksi atas dzikir kita kelak.
Sesuai penjelasan Imam an-Nawawi, umat Islam sebaiknya tampil bersih dan rapi saat hari raya. Kenakan pakaian terbaik yang Anda miliki serta semprotkan wewangian (bagi laki-laki). Langkah ini merupakan wujud nyata rasa syukur atas nikmat Allah SWT.
Rasulullah SAW mendorong umatnya untuk memperbanyak zikir pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah (HR. Ahmad). Zikir ini terbagi menjadi dua:
Takbir Mutlak: Berlangsung kapan saja dan di mana saja, mulai dari terbenamnya matahari 9 Dzulhijjah hingga khatib selesai berkhutbah.
Takbir Muqayyad: Berkumandang khusus setelah shalat fardhu selama hari Tasyrik (11, 12, 13 Dzulhijjah).
Sebagian muslim terkadang keliru dan tetap berpuasa pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Padahal, Rasulullah ﷺ secara tegas melarang puasa pada hari-hari tersebut. Beliau menyebut hari Tasyrik sebagai waktu khusus untuk makan, minum, dan mengingat Allah SWT.
Jika Anda berniat berkurban, hindari memotong rambut dan kuku sejak memasuki bulan Dzulhijjah hingga hewan kurban Anda rebah disembelih (HR. Ummu Salamah). Mayoritas ulama menilai hukum larangan ini adalah makruh. Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin menjelaskan bahwa hikmahnya adalah membiarkan seluruh anggota tubuh mendapatkan pahala pembebasan dari api neraka.
Ustadz Firanda Andirja menjelaskan bahwa Nabi SAW tidak pernah mengajarkan shalat sunnah rawatib sebelum maupun sesudah shalat Id. Kebiasaan langsung shalat sunnah setelah salam merupakan hal yang keliru. Sunnah yang benar adalah langsung duduk tenang untuk mendengarkan khutbah.
Berbeda dengan shalat Jumat yang mendahulukan khutbah, shalat Idul Adha meletakkan khutbah setelah shalat selesai. Berdasarkan riwayat Ibnu Abbas, para khalifah seperti Abu Bakar, Umar, dan Utsman selalu menjalankan shalat terlebih dahulu baru kemudian menyampaikan khutbah.
Saat membagikan hewan kurban, pastikan Anda memberikan daging dalam kondisi mentah dan segar. Syaikh Muhammad Ibn Ahmad al-Syatiri dalam Kitab Fathul Mu’in menegaskan aturan ini. Pemberian daging mentah memberikan kebebasan penuh bagi penerima (terutama kaum fakir) untuk mengolahnya sesuai kebutuhan mendesak mereka.
Idul Adha menjadi momen emas untuk memperkuat ikatan keluarga, meniru keteladanan Nabi Ibrahim AS dalam membangun keharmonisan rumah tangga. Gunakan waktu ini untuk saling mengunjungi, bermaafan, dan berbagi kebahagiaan dengan sanak saudara.
Menghidupkan kembali sunnah bukan sekadar mengejar pahala, melainkan juga memetik pelajaran hidup yang mendalam untuk jiwa kita:
Mendidik Jiwa yang Bersih: Ritual mandi dan memakai pakaian terbaik menumbuhkan rasa hormat pada simbol agama serta menjaga kesabaran kita.
Melatih Pengendalian Diri: Menunda makan serta membiarkan kuku dan rambut tidak terpotong melatih ego agar selalu mengutamakan perintah Allah SWT.
Mempererat Tali Persaudaraan: Mengubah rute jalan membuka peluang untuk menyapa lebih banyak orang dan menyebarkan kedamaian.
Menanamkan Sifat Tawakal: Berjalan kaki melatih fisik sekaligus menyadarkan jiwa bahwa kekuatan sejati hanya berasal dari Allah SWT.
Menjaga Kemurnian Ibadah: Mengikuti aturan urutan shalat dan khutbah memastikan ibadah kita tetap murni sesuai tuntunan asli Nabi SAW.
Yuk, kita hidupkan kembali sunnah-sunnah ini agar perayaan Idul Adha kita kali ini terasa lebih berkah dan bernilai di mata Sang Pencipta! **
Tidak ada komentar