Krisis Tidur Pekerja Muda di Kota Besar: Beban Kerja & Perjalanan Jadi Biang Masalah

waktu baca 2 menit
Jumat, 21 Nov 2025 19:00 47 admincuitan

JAKARTA, Cuitan.idFenomena kurang tidur kini menjadi tantangan besar bagi pekerja usia produktif di kota metropolitan. Di tengah ritme kerja yang padat dan mobilitas tinggi, banyak karyawan mengaku kualitas tidur mereka terus menurun.

Salah satunya adalah Sekar (28), pegawai swasta asal Jakarta Selatan. Ia bercerita bahwa dirinya hanya dapat tidur sekitar 6 jam per hari, itupun dengan kualitas yang menurutnya belum optimal.

“Enam sampai tujuh jam itu kalau lagi beruntung. Bangun tidur rasanya bukan segar, tapi karena memang harus bangun,” ungkapnya, Senin (3/10/2025).

Tekanan pekerjaan, aktivitas untuk melepas penat, hingga waktu perjalanan yang panjang dari rumahnya di Kampung Rambutan membuat waktu istirahat Sekar semakin terpangkas. Ia sering tidur lewat tengah malam karena masih bermain ponsel setelah sampai rumah.

Situasi serupa dialami Tata (28). Tinggal di Bekasi dan bekerja di Jakarta Selatan membuatnya harus berganti moda transportasi setiap hari. Perjalanan pulang yang memakan waktu hampir dua jam membuat ia baru bisa tidur menjelang tengah malam.

“Biasanya tidur jam 11 atau setengah 12. Sampai rumah harus bersih-bersih dulu, kadang masih pegang HP,” ceritanya.

Meski demikian, Tata mengaku punya rutinitas khusus untuk menjaga kualitas tidurnya. Ia selalu mandi sebelum tidur dan minum susu hangat agar tubuh lebih rileks. Ia konsisten menjaga jadwal tidur pukul 23.00 dan bangun pukul 05.00. Menurutnya, kualitas tidurnya berada di angka 8 dari 10.

Menurut pedoman US Centers for Disease Control and Prevention (CDC), tidur yang berkualitas adalah tidur yang pulas dan membuat tubuh segar kembali. Kualitas tidur tidak hanya ditentukan oleh durasi, tetapi apakah tubuh benar-benar beristirahat dengan optimal.

Tidur yang cukup terbukti membantu menurunkan risiko penyakit jantung, obesitas, serta mendukung pemulihan sel tubuh.

Masalahnya, banyak orang menilai kualitas tidur hanya berdasarkan perasaan bangun di pagi hari. Padahal, ada berbagai faktor yang turut menentukan—mulai dari tingkat stres, pola aktivitas harian, hingga sleep hygiene atau kebiasaan tidur yang sehat.

Untuk membantu pembaca memahami lebih dalam mengenai cara menilai dan meningkatkan kualitas tidur, Cuitan.id bekerja sama dengan seorang Garmin Sleep Coach. Praktisi ini akan membahas faktor-faktor yang memengaruhi tidur dan bagaimana mengoptimalkannya.

Punya pertanyaan soal tidur? Silakan tinggalkan komentar. Pertanyaan terpilih akan dijawab langsung oleh ahlinya. ***

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA