Kolase – Kasus Gagal Bayar Hasil Panen di Kerinci. KERINCI, Cuitan.id – Persoalan gagal bayar hasil panen padi yang melibatkan seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Sekretariat DPRD Kota Sungai Penuh, Andaris Minandar, menuai sorotan tajam.
Para petani asal Kabupaten Kerinci menuntut Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) serta DPRD Kota Sungai Penuh segera mengambil sikap tegas atas kerugian yang mereka alami.
Konflik bermula ketika sejumlah petani menyerahkan hasil panen padi kepada Andaris berdasarkan kesepakatan jual beli. Namun hingga kini, pembayaran hak para petani tersebut mangkrak dan belum di selesaikan sepenuhnya.
Akibat kebuntuan ini, para korban memilih menempuh jalur hukum dengan melaporkan kasus tersebut ke Polsek Danau Kerinci, serta bersiap meneruskannya ke Polres Kerinci.
Berdasarkan pengakuan korban, mereka sempat di minta mencabut laporan dengan iming-iming janji pelunasan. Sayangnya, janji tinggal janji, hingga kini kewajiban tersebut tetap diabaikan.
Salah satu korban bernama Ayah Abid mengungkapkan keterpaksaannya membawa masalah ini ke ranah hukum. Bagi para petani, uang hasil panen bukan sekadar angka, melainkan modal utama untuk menyambung hidup keluarga dan menyiapkan musim tanam berikutnya.
“Kita memiliki hati, pikiran dan perasaan. Tidak ada niat ingin melapor orang ke pihak kepolisian. Tapi kali ini seorang ASN Sungai Penuh malah membuat kami sekeluarga terganggu dalam bertani lagi. Tentunya layak di laporkan jika hak kami tidak di berikan,” tegas Ayah Abid.
Selain menuntut aparat penegak hukum, para petani mendesak BKPSDM Kota Sungai Penuh untuk memeriksa dugaan pelanggaran disiplin yang mencoreng integritas aparatur negara.
Mereka juga meminta DPRD Kota Sungai Penuh agar tidak menutup mata terhadap ulah bawahannya dan menjaga marwah lembaga legislatif dari kesan melindungi oknum bermasalah.
Hingga berita ini di terbitkan, pihak DPRD Kota Sungai Penuh masih belum memberikan keterangan resmi terkait tuntutan para petani. Para korban memastikan proses hukum akan terus berjalan demi mendapatkan kepastian keadilan atas jerih payah mereka. (**
Tidak ada komentar