Mantan Kepala BGN, Dadan Hindayana Cuitan.id – Presiden Prabowo Subianto mengambil langkah tegas dengan mencopot Dadan Hindayana dari jabatan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN). Kini, tongkat estafet kepemimpinan berada di tangan Nanik S Deyang. Langkah ini bukan sekadar rotasi biasa, melainkan sinyal kuat bahwa pemerintah sedang melakukan evaluasi total terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Lembaga yang memegang tanggung jawab besar atas gizi anak bangsa ini tengah menjadi sorotan tajam. Publik menanti langkah nyata pimpinan baru untuk membersihkan nama lembaga dari berbagai isu miring yang sempat viral di media sosial.
Masyarakat terus mempertanyakan transparansi pengelolaan dana di tubuh BGN. Selama masa transisi ini, beberapa poin anggaran menjadi perdebatan hangat karena nilainya yang dianggap tidak masuk akal.
Salah satu isu paling mencolok adalah alokasi dana untuk jasa EO yang mencapai Rp113,9 miliar untuk tahun 2025. Meski pihak BGN berdalih bahwa jasa profesional ini perlu untuk membangun sistem lembaga baru, publik tetap kritis. Banyak yang menilai dana sebesar itu seharusnya mengalir langsung untuk penguatan gizi masyarakat, bukan untuk seremonial.
Istilah “dapur fiktif” muncul setelah beredar kabar mengenai anggaran insentif bagi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang ternyata belum beroperasi. Jika benar ada aliran dana untuk layanan yang belum ada, maka audit menyeluruh menjadi harga mati untuk menyelamatkan uang negara.
Kritik pedas juga mengarah pada pengadaan perlengkapan pendukung. Narasi yang beredar menyebutkan anggaran kaus kaki mencapai Rp6,9 miliar, dengan harga per pasang menyentuh angka Rp100 ribu. Meski BGN sudah membantah angka tersebut, keraguan publik terhadap efisiensi belanja barang di lembaga ini sudah terlanjur membekas.
Bukan hanya urusan sandang, sektor teknologi dan infrastruktur pun tak luput dari kecurigaan.
Peralatan Makan DIY: Beredar klaim anggaran piring dan sendok di Yogyakarta yang menembus angka triliunan rupiah. Walaupun data ini memerlukan verifikasi lebih lanjut, respons cepat pemerintah sangat publik butuhkan untuk mencegah disinformasi.
Pengadaan Laptop: Muncul tuduhan harga laptop senilai Rp24 juta per unit. Pihak BGN mengklarifikasi bahwa jumlah unit yang mereka beli hanya sekitar 5.000 unit, jauh di bawah isu 32.000 unit yang sempat beredar.
Motor Listrik: Rencana pengadaan 25.000 unit motor listrik untuk kepala SPPG juga menuai protes. Kritikus menilai pengadaan kendaraan mewah belum mendesak jika dibandingkan dengan kualitas distribusi makanan di daerah terpencil.
Program Makan Bergizi Gratis adalah program mulia yang melibatkan petani, koperasi, hingga sekolah. Di dalamnya terdapat harapan jutaan anak Indonesia. Oleh karena itu, kepemimpinan Nanik S Deyang memikul beban berat untuk memulihkan kepercayaan masyarakat.
Publik tidak lagi cukup hanya dengan bantahan lisan. Perbaikan tata kelola, keterbukaan data pengadaan, dan penguatan audit adalah jalan satu-satunya agar setiap rupiah APBN benar-benar sampai ke piring anak-anak Indonesia dalam bentuk makanan bergizi, bukan menguap dalam birokrasi yang boros. **
Tidak ada komentar