Oknum PNS Sungai Penuh Diduga Tipu Petani Kerinci, Hasil Panen Padi Belum Dibayar

waktu baca 2 menit
Senin, 3 Agu 2026 05:45 30 admincuitan

KERINCI, Cuitan.id – Nasib malang menimpa sejumlah petani di Kabupaten Kerinci. Mereka harus menelan pil pahit setelah seorang pembeli melarikan janji pembayaran hasil panen padi milik mereka.

Selama berbulan-bulan, para petani ini menguras keringat di bawah terik matahari. Mereka mengolah tanah, menanam bibit, merawat tanaman, hingga memanen padi di tengah kubangan lumpur. Harapan mereka sederhana: membawa pulang rezeki untuk membiayai kebutuhan keluarga.

Sayangnya, impian itu mendadak sirna. Seorang pria bernama Andaris Minandar, yang bertugas sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Sekretariat DPRD Kota Sungai Penuh, datang membeli hasil panen mereka namun tak kunjung memberikan uang pembayaran.

Akibat statusnya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) dan penampilannya yang meyakinkan, para petani menaruh rasa percaya penuh. Tanpa curiga, mereka langsung menyerahkan seluruh gabah hasil panen.

Namun setelah mengangkut hasil panen tersebut, sang pembeli terus mengulur waktu. Para korban sudah melakukan berbagai cara untuk menagih hak mereka—mulai dari menelepon hingga mendatangi langsung rumah yang bersangkutan. Hasilnya tetap nihil.

Dampaknya sangat berat. Para petani mengalami kerugian materiil yang cukup besar hingga kesulitan membeli bahan pokok rumah tangga. Bahkan, mereka kini kehabisan modal untuk membeli bibit dan pupuk demi menyambut musim tanam berikutnya.

Keterangan dari korban juga mengungkap bahwa kasus ini tidak hanya menyasar petani. Beberapa pihak lain, termasuk kerabat dekat oknum PNS tersebut, mengaku mengalami nasib serupa.

Saat tim media mengonfirmasi kasus ini pada Minggu (2/8/2026), Andaris Minandar membenarkan adanya kesepakatan pembayaran dengan salah satu penjual bernama Mama Omil.

“Tanggal 13 Agustus ini selesai,” tegas Andaris saat memberikan tanggapan.

Mengenai tuduhan tunggakan pembelian padi senilai Rp13 juta, Andaris menampik tuduhan menipu. Ia mengklaim tetap berniat melunasi kewajibannya.

“Kami sepakat dengan penjual dan kami pasti membayarnya. Waktu mau bayar kemarin, kami mendadak sakit,” kilihnya.

Namun, alasan tersebut memancing kemarahan korban. Ayah Abid, salah satu petani yang dirugikan, menilai dalih sakit tersebut sangat tidak masuk akal.

“Kalau memang niat membayar, jangan banyak alasan seperti anak kecil. Sakit itu bukan alasan untuk menahan uang orang!” cetus Ayah Abid penuh kekecewaan.

Kini, para petani Kerinci menuntut kepastian dan penyelesaian secepatnya. Mereka juga mendesak instansi terkait, khususnya BKPSDM Kota Sungai Penuh, agar turun tangan memeriksa dugaan pelanggaran disiplin oknum ASN tersebut.

Para korban sangat berharap uang hasil keringat mereka segera cair agar roda kehidupan dan aktivitas bertani bisa berputar kembali. (**

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA