Ilustrasi makan. (Dok. Freepik/Freepik) Cuitan.id – Setiap orang tentunya pasti pernah mendengar nasihat kuno dari orang terdahulu ini: kunyah makananmu sebanyak 32 kali sebelum menelannya!
Terkait kata-kata ini, banyak pihak mengaitkan angka ini dengan jumlah gigi manusia dewasa, seolah-olah setiap gigi memiliki jatah satu kali kunyahan.
Namun, apakah aturan ini merupakan fakta medis yang valid atau sekadar mitos kesehatan belaka? Yuk, kita bedah bersama penjelasannya agar kamu tidak lagi keliru!
Konsultan Senior Penyakit Dalam di Aster CMI Hospital, dr. Brunda M.S., menegaskan bahwa proses melumatkan makanan memegang peran yang sangat vital. Saat kamu mengunyah dengan baik, makanan akan berubah menjadi potongan-potongan kecil yang ramah bagi kerongkongan.
Proses ini juga memberi waktu bagi enzim amilase dalam air liur untuk memecah karbohidrat bahkan sebelum makanan menyentuh lambungmu.
Meski begitu, dr. Brunda meluruskan bahwa sains tidak pernah mematok angka kaku 32 kali untuk setiap suapan.
“Faktanya, jenis tekstur hidangan yang menentukan jumlah kunyahan ideal. Makanan yang lunak tentu membutuhkan lebih sedikit kunyahan, sementara makanan yang keras memerlukan kerja mulut yang lebih ekstra agar kamu nyaman saat menelannya,” jelas dr. Brunda.
Selain membantu kerja lambung, durasi mengunyah ternyata memengaruhi berat badan dan nafsu makan secara langsung.
Sebuah studi tahun 2021 dalam jurnal Scientific Reports mengungkapkan bahwa aktivitas mengunyah terbukti mampu membakar lebih banyak kalori tubuh. Para peneliti menyebut fenomena ini sebagai diet-induced thermogenesis atau peningkatan energi pasca-makan.
Menariknya, saat peneliti menguji asupan berbentuk cairan, orang yang meluangkan waktu untuk “mengunyah” cairan tersebut tetap membakar kalori lebih banyak daripada orang yang langsung menelannya begitu saja.
Riset lain pada tahun 2015 dalam jurnal Physiology & Behavior juga mendukung temuan ini. Durasi makan yang lebih lama secara efektif menekan rasa lapar dan memangkas porsi makan berlebih. Gerakan mekanis dari rahang merangsang usus untuk melepaskan hormon kenyang secara alami ke otak.
Artinya, makan secara sadar (mindful eating) merupakan metode paling sederhana untuk mendongkrak metabolisme harian sekaligus menjauhkanmu dari risiko obesitas.
Saat kamu menikmati setiap suapan dengan santai dan tidak terburu-buru, tubuhmu akan memetik berbagai keuntungan kesehatan ini:
Sebaliknya, kebiasaan menelan makanan dalam ukuran besar secara terburu-buru akan memaksa sistem pencernaan bekerja berat. Kebiasaan buruk ini memicu kambuhnya gejala refluks asam lambung (GERD) dan nyeri ulu hati.
Jadikan angka 32 kali sebagai pengingat agar kamu tidak makan tergesa-gesa, bukan sebagai aturan baku yang melelahkan. dr. Brunda membagikan tips praktis untuk melatih kebiasaan baik ini:
Langkah-langkah sederhana ini jauh lebih realistis dan mendatangkan manfaat nyata daripada kamu harus sibuk menghitung jumlah kunyahan di dalam mulut.
Catatan: Jika kamu tetap mengalami kesulitan menelan, sering tersedak, atau perut kembung berkepanjangan meskipun sudah makan secara perlahan, segera buat janji temu dan konsultasikan kondisi tersebut dengan dokter ahlinya. **
Tidak ada komentar