Sosok Abdul Rahim Bukhari, Sang Maestro Kaligrafi Penjaga Keindahan Ka’bah

waktu baca 3 menit
Selasa, 16 Jun 2026 05:00 8 admincuitan

Cuitan.id — Jutaan mata umat Islam di seluruh dunia bersiap menyaksikan momen paling sakral di Masjidil Haram, Makkah. Menjelang fajar 1 Muharram 1448 Hijriah, Pemerintah Arab Saudi akan menggelar tradisi agung penggantian Kiswah, kain hitam megah yang menyelimuti Baitullah.

Ritual tahunan ini bukan sekadar pergantian kain biasa, melainkan simbol penghormatan tertinggi dan pembaruan spiritual yang menyentuh hati setiap Muslim.

Di balik kemilau benang emas dan perak yang menghiasi dada Ka’bah, mengalir cerita dedikasi luar biasa dari para perajin legendaris. Salah satu nama yang paling membekas dalam sejarah suci ini adalah almarhum Abdul Rahim Amin Bukhari.

Sentuhan Emas Sang Maestro Kaligrafi

Lahir di kota suci Makkah pada tahun 1917, Bukhari tumbuh besar dalam dekapan budaya seni Islam yang kental. Bakat kaligrafi Arab yang mengalir dalam darahnya sudah terlihat sejak kecil. Bakat inilah yang kemudian mengantarkan Bukhari pada pengabdian suci selama lebih dari 30 tahun demi mempercantik rumah Allah.

Mengutip laporan Arab News, Bukhari menghabiskan masa hidupnya untuk menyempurnakan setiap jengkal prasasti Arab dan elemen dekoratif pada kain Kiswah. Tangan dinginnya melahirkan sulaman emas pada kain utama, merancang kaligrafi indah untuk tirai pintu Ka’bah, hingga menghias gerbangnya yang megah.

Sepanjang kariernya, Bukhari sukses menuntaskan pembuatan 21 kain Kiswah dan mengawasi langsung dekorasi tiga gerbang utama Ka’bah. Atas jasa besarnya yang luar biasa, Raja Faisal memberikan penghormatan tertinggi: mengabadikan nama Bukhari langsung di atas kain Kiswah. Sebuah warisan abadi yang terus melekat hingga detik ini.

Dedikasi Tanpa Batas di Balik Sutra Hitam

Kini, semangat Bukhari terus hidup. Pemerintah Arab Saudi menjaga tradisi mulia ini dengan penuh takzim. Melansir dari Saudi Gazette, para perajin dan ahli tekstil terbaik di King Abdulaziz Complex bekerja keras selama berbulan-bulan demi menghasilkan mahakarya terbaru.

Mereka memilih sutra alami berkualitas tertinggi sebagai bahan dasar. Di atas kain hitam legam itu, para perajin menyulam ayat-ayat suci Al-Qur’an menggunakan jalinan benang berlapis emas murni dan perak. Saat ini, petugas telah memindahkan bagian-bagian kain suci tersebut menuju Masjidil Haram.

Sebelum hari pemasangan, tim teknis memeriksa setiap detail dengan tingkat ketelitian yang sangat tinggi. Mereka memastikan tidak ada satu pun kesalahan pada kaligrafi, motif hiasan, maupun sambungan kain.

Malam Sakral dan Wajah Baru Baitullah

Tepat pada malam pergantian tahun baru Hijriah, tim khusus akan memulai prosesi yang menggetarkan hati. Petugas akan melepas satu per satu ornamen emas dan sulaman pada Kiswah lama, lalu menurunkan kain yang telah bertugas selama setahun penuh itu secara bertahap.

Secara berurutan, petugas akan menaikkan lembaran kain Kiswah baru pada empat sisi Ka’bah. Mereka bekerja dengan presisi tinggi agar seluruh lembaran menyatu dengan rapi dan sempurna. Tak lupa, petugas juga memasang kembali hizam (sabuk kaligrafi yang mengelilingi bagian atas) serta sitarah (tirai indah penutup pintu Ka’bah).

Saat matahari terbit memancarkan sinarnya pada 1 Muharram 1448 H, Ka’bah akan berdiri dengan keagungan baru. Wajah baru Baitullah ini siap menyambut umat Islam, sekaligus menjadi pengingat arah kiblat yang menyatukan hati manusia selama lebih dari 14 abad. **

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA