Ilustrasi anak-anak Sedang Bermain. Cuitan.id – Banyak orang tua menganggap aktivitas menyusun balok, bermain peran, atau berlarian di halaman rumah sekadar cara anak menghabiskan waktu luang. Nyatanya, anak-anak justru sedang menjalani proses belajar yang sangat krusial untuk masa depan mereka saat melakukan semua hal itu.
Psikolog klinis dan keluarga, Pritta Tyas, M.Psi., menegaskan bahwa bermain mempunyai fungsi yang jauh lebih besar daripada sekadar rekreasi. Lulusan Program Studi Magister Psikologi Profesi Universitas Gadjah Mada ini menjelaskan bahwa anak-anak mengasah berbagai kemampuan sekaligus saat asyik bermain. Mereka melatih cara berpikir, mengelola emosi, hingga memecahkan masalah.
“Jika kita melihat lebih dekat, anak-anak sedang bekerja keras saat bermain. Mereka belajar memecahkan masalah, menegosiasikan emosi, dan membangun struktur berpikir,” ujar Pritta pada Sabtu (6/6/2026).
Hingga kini, mayoritas orang dewasa masih memisahkan antara aktivitas bermain dan belajar. Pandangan keliru ini membuat sebagian orang tua merasa waktu bermain anak terbuang sia-sia jika kita membandingkannya dengan kelas formal.
Padahal, alam menyediakan aktivitas bermain sebagai sarana paling natural bagi anak untuk menyerap ilmu baru. Melalui cara yang menyenangkan ini, anak-anak mengembangkan keterampilan hidup yang penting secara spontan dan sesuai dengan usia mereka.
“Bermain dan belajar sebenarnya bisa berjalan beriringan dalam satu waktu,” kata Pritta menambahkan.
Aktivitas bermain memberikan stimulus kuat pada fungsi eksekutif otak anak. Bagian otak ini mengatur kemampuan merencanakan sesuatu, mengambil keputusan, menjaga fokus, serta mengendalikan diri.
Ambil contoh saat seorang anak menyusun balok menjadi sebuah gedung bertingkat. Proses ini memaksa anak untuk merancang ide, memperkirakan bentuk, dan mencari jalan keluar saat susunan balok tersebut miring.
Anak juga mempelajari konsep presisi, memahami hukum sebab-akibat, dan langsung memperbaiki kesalahan saat bangunan mereka runtuh. Pritta menilai pengalaman seru ini sebagai bentuk latihan memecahkan masalah tingkat tinggi yang sangat ramah anak.
Bukan hanya kecerdasan otak, dunia bermain juga menawarkan ruang yang aman bagi anak untuk mengenal berbagai rasa. Anak-anak pasti pernah mengalami rasa kecewa, kesal, atau frustrasi saat permainan mereka tidak berjalan mulus.
Kondisi menantang inilah yang melatih anak untuk mengendalikan emosi negatif mereka. Ketika menara balok yang mereka susun tiba-tiba roboh, anak-anak belajar menerima kegagalan berkat bimbingan yang tepat dari orang tua. Mereka akan menenangkan diri, lalu mencoba kembali dari awal. Kemampuan mental yang kuat seperti ini akan membantu mereka menghadapi tantangan sekolah dan kehidupan sosial yang lebih besar nanti.
Pritta mengingatkan bahwa kehadiran orang tua di samping anak saat bermain membawa dampak yang luar biasa. Namun, hal ini bukan berarti orang tua harus mendikte dan mengendalikan seluruh alur permainan.
Orang tua cukup memosisikan diri sebagai pendamping setingkat yang siap mengulurkan bantuan saat anak membutuhkannya.
“Sebagai orang tua, tugas kita bukanlah selalu menjadi instruktur. Terkadang anak hanya membutuhkan dukungan yang tepat agar rasa ingin tahu mereka tetap menyala,” tutur Pritta.
Pendampingan yang penuh kasih sayang dan tanpa penghakiman akan mendongkrak rasa percaya diri anak. Anak juga menjadi lebih berani mengungkapkan perasaan dan menemukan solusi secara mandiri.
Bermain bersama juga menjadi jembatan emas untuk merekatkan hubungan emosional antara orang tua dan anak. Saat orang tua ikut melebur dalam permainan, anak akan merasa bahwa orang tua mereka benar-benar memperhatikan, mendengar, dan menghargai keberadaan mereka.
Pengalaman indah ini akan melekat erat dalam memori anak sebagai bentuk kedekatan keluarga. Pritta menutup penjelasannya dengan menyatakan bahwa kehadiran orang dewasa sebagai mitra bermain akan memperbesar peluang terciptanya ikatan batin (bonding).
Lebih dari itu, dukungan penuh dari orang tua saat bermain menumbuhkan keyakinan kuat dalam diri anak bahwa mereka mampu mempelajari hal baru dan berkembang secara maksimal. Jadi, mari beri anak waktu bermain yang cukup demi masa depan mereka yang cerah! **
Tidak ada komentar