Ini Rahasia Hafiz 30 Juz, Waktu Terbaik Menghafal Al-Qur’an

waktu baca 4 menit
Jumat, 29 Mei 2026 18:00 86 admincuitan

Cuitan.id – Banyak orang tua Muslim mendambakan buah hati mereka menjadi seorang hafiz atau penghafal Al-Qur’an sejak usia dini. Menghafal kitab suci ini bukan hanya meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT, tetapi juga mampu mempertajam daya ingat dan merangsang fungsi kognitif otak anak.

Rasulullah SAW menegaskan keutamaan luar biasa bagi para pembelajar Al-Qur’an melalui sabdanya:

“Barangsiapa membaca Al-Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka akan dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat yang cahayanya seperti cahaya matahari” (HR. Abu Dawud).

Namun, kapan sebenarnya momen paling efektif agar hafalan bisa melekat kuat?

Seorang ustaz muda sekaligus hafiz 30 juz asal Wonosobo, Jawa Tengah, Widyan Zulda Mahira (25), membagikan rahasia dan pengalamannya dalam menjaga hafalan yang mantap (mutqin). Pria yang akrab dengan sapaan Dama ini merupakan lulusan S-1 Agama Murni dan S-2 Pendidikan Agama Islam di Universitas Ahmad Dahlan (UAD).

Kisah Dama Menaklukkan 30 Juz Sejak Belia

Dama mengawali perjalanan menghafal Al-Qur’an sejak duduk di bangku sekolah dasar. Ia membutuhkan waktu sekitar empat tahun hingga hafalannya benar-benar kuat.

“Saya sudah banyak menghafal sejak kelas 1 SD, tetapi waktu itu belum intens. Saya baru mulai fokus saat kelas 5 SD pada tahun 2013 karena ada program tahfiz yang sangat mendukung, serta lingkungan teman-teman yang sefrekuensi,” ujar Dama.

Berkat ketekunannya, Dama berhasil menyelesaikan 8 juz saat lulus SD. Ia kemudian melanjutkan perjuangannya di bangku SMP. Pada kelas 8 SMP, Dama sudah menuntaskan seluruh 30 juz.

“Waktu itu hafalan saya belum mutqin dan masih sering lupa. Oleh karena itu, saya aktif mengikuti berbagai perlombaan dan kompetisi. Melalui ajang-ajang tersebut, saya bisa melakukan murajaah (mengulang hafalan) secara lebih intensif,” tambahnya.

Tiga Waktu Terbaik untuk Menghafal Al-Qur’an

Berdasarkan pengalaman bertahun-tahun, Dama menyebutkan bahwa usia kanak-kanak merupakan golden age untuk memulai. Terkait waktu harian, ia merekomendasikan tiga waktu utama:

  • Sebelum Subuh

  • Setelah Subuh

  • Setelah Ashar

“Pada waktu-waktu ini, daya ingat kita masih segar dan kuat. Berbagai penelitian ilmiah pun mendukung fakta tersebut,” jelas Dama.

Sains Mendukung Waktu Subuh dan Ashar

Sebuah studi dalam jurnal Hormones and Behavior (2024) oleh Lisa Pötzl dan tim dari Ruhr University Bochum, Jerman, memperkuat pendapat Dama. Penelitian tersebut membuktikan bahwa kemampuan memori pengenalan manusia meningkat pesat saat kadar hormon kortisol berada di posisi tertinggi pada pagi hari.

Hormon kortisol bertugas meningkatkan kewaspadaan, fokus, dan kesiapan otak dalam menyerap informasi baru. Karena kadar hormon ini memuncak setelah bangun tidur, suasana pagi hari menjadi waktu emas untuk belajar.

Selain faktor biologis, keheningan waktu subuh yang minim gangguan sangat membantu konsentrasi. Hal ini sejalan dengan ajaran Islam yang menganjurkan umatnya memulai kebaikan di waktu subuh demi meraih keberkahan hidup.

Sementara itu, waktu setelah Ashar menawarkan kondisi neurologis yang berbeda. Pada sore hari, otak manusia cenderung lebih tenang dan rileks. Kondisi ini sangat ideal untuk memindahkan informasi baru ke dalam sistem memori jangka panjang (long-term memory) setelah seharian beraktivitas.

Mulai Kenalkan Al-Qur’an Sejak dalam Kandungan

Bagaimana langkah awal bagi orang tua yang ingin anaknya mencintai Al-Qur’an? Dama menyarankan para ibu untuk memulai pendidikan ini sejak anak masih berupa janin.

“Pendidikan Al-Qur’an sudah bisa berjalan sejak anak berada di dalam kandungan, terutama saat menginjak usia 4 bulan. Orang tua harus sering memperdengarkan lantunan murottal, karena pada momen itulah Allah meniupkan ruh dan indra pendengaran bayi mulai berfungsi,” kata Dama.

Penjelasan ini merujuk pada Hadits Arbain nomor 4 karya Imam an-Nawawi yang menerangkan proses penciptaan manusia dan penulisan takdir di usia kandungan 4 bulan. Al-Qur’an juga menegaskan hal ini dalam Surah An-Nahl ayat 78:

وَاللّٰهُ اَخْرَجَكُمْ mِّنْۢ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْـًٔاۙ وَّجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani agar kamu bersyukur.”

Dama menjelaskan bahwa ayat tersebut menunjukkan manusia lahir tanpa membawa ilmu. Namun, Allah membekali manusia dengan potensi besar berupa pendengaran, penglihatan, dan hati nurani untuk menyerap pengetahuan sejak dini. **

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA