Ribuan jemaah haji menuju Masjid Nabawi, Madinah, Arab Saudi, untuk menjalankan sholat Jumat perdana pada Jumat (26/5/2023). (Liputan6.com) MADINAH, Cuitan.id – Bagi seluruh umat muslim, menginjakkan kaki di Masjid Nabawi merupakan dambaan setiap jemaah haji. Namun, menjaga kesucian dan ketertiban di rumah ibadah ini memerlukan perhatian ekstra.
Otoritas keamanan Arab Saudi kini memperketat pengawasan demi menjamin kenyamanan jutaan umat Muslim yang hadir.
Kepala Seksi Khusus (Seksus) Nabawi Daerah Kerja Madinah, Thoriq, mengingatkan para jemaah untuk selalu waspada terhadap aturan setempat.
Menurutnya, aparat keamanan tidak akan mentoleransi pelanggaran sekecil apa pun.
“Polisi atau Askar di sini bekerja dengan tegas. Mereka akan menindak siapa pun yang melanggar aturan tanpa pandang bulu,” ungkap Thoriq saat memberikan keterangan di Madinah pada Minggu (25/4/2026).
Pemerintah Arab Saudi melarang beberapa aktivitas yang dapat mengganggu kekhusyukan ibadah atau privasi orang lain, antara lain:
Aktivitas Media Sosial: Jemaah dilarang melakukan siaran langsung (live streaming) serta membuat konten komersial di dalam masjid.
Privasi Medis: Pengambilan gambar atau video saat evakuasi medis dan penanganan jenazah sangat dilarang.
Atribut Kelompok: Jangan membawa bendera atau atribut organisasi apa pun ke dalam kawasan masjid.
Gangguan Ketertiban: Hindari membuat keramaian, meneriakkan yel-yel, atau menggunakan pengeras suara tanpa izin.
Larangan Merokok: Area masjid harus bebas dari asap rokok.
Thoriq menyarankan jemaah yang ingin mendokumentasikan perjalanan atau melakukan siaran langsung agar mengambil lokasi di luar kawasan pagar masjid.
Aparat keamanan menerapkan sanksi bertingkat sesuai dengan jenis pelanggaran yang terjadi. Untuk kesalahan ringan, jemaah biasanya hanya perlu memberikan keterangan dan menandatangani surat pernyataan.
Namun, sanksi finansial dan hukum menanti untuk pelanggaran tertentu. “Contohnya, jemaah yang kedapatan merokok akan langsung terkena denda sebesar 400 SAR (sekitar Rp1,7 juta). Pelanggaran berat bahkan bisa memicu proses pidana hingga deportasi dan larangan masuk ke Arab Saudi,” tegas Thoriq.
Keamanan Arab Saudi tidak hanya mengandalkan kamera pengawas (CCTV). Mereka juga mengerahkan petugas yang menyamar di tengah kerumunan jemaah untuk memastikan aturan berjalan efektif.
Untuk membantu jemaah Indonesia, tim Seksus Nabawi menyiagakan 68 personel yang tersebar di lima titik strategis. Para petugas ini siap siaga membantu jemaah dalam berbagai situasi, seperti:
Membantu akses menuju Raudhah.
Menangani jemaah yang terpisah dari rombongan.
Membantu jemaah yang kehilangan barang bawaan.
“Kami hadir untuk melayani. Harapan kami, jemaah bisa fokus beribadah dengan tenang tanpa harus berurusan dengan aparat karena pelanggaran yang sebenarnya bisa kita hindari bersama,” tutup Thoriq. **
Tidak ada komentar