Ilustrasi makan gorengan. Dokter gizi klinik dr. Ida Gunawan menjelaskan mitos yang masih sering dipercaya masyarakat tentang konsumsi gula dan gorengan saat berbuka puasa.(SHUTTERSTOCK/ Kompas.com) Cuitan.id – Banyak orang masih percaya berbagai anggapan tentang makanan saat berbuka puasa. Padahal, sebagian besar anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar dan justru dapat membuat pola makan menjadi kurang sehat.
Dokter spesialis gizi klinik RS Pondok Indah, dr. Ida Gunawan, MS, Sp.G.K, Subsp.K.M., FINEM, menjelaskan bahwa kebiasaan berbuka sering dipengaruhi mitos mengenai kebutuhan energi setelah puasa.
Ia menegaskan bahwa tidak semua orang yang berpuasa mengalami kekurangan gula darah.
Mitos: Tubuh Pasti Kekurangan Gula Saat Puasa
Banyak orang langsung mengonsumsi minuman atau makanan sangat manis saat berbuka karena mengira tubuh kekurangan gula setelah seharian berpuasa.
Padahal, kondisi tersebut tidak selalu terjadi. Konsumsi gula berlebihan hanya menambah asupan kalori tanpa memberikan keseimbangan nutrisi yang dibutuhkan tubuh.
Fakta: Pilih Gula Alami dari Buah
Menurut dr. Ida, sumber gula alami jauh lebih baik untuk mengembalikan energi saat berbuka.
Buah seperti kurma, koktail buah, atau jus buah dapat membantu tubuh memulihkan energi secara bertahap.
Selain itu, cairan yang cukup juga menjadi kunci utama saat berbuka. Kandungan gula alami dari buah memberikan energi tanpa menyebabkan lonjakan gula darah yang terlalu tinggi.
Mitos: Tubuh Kekurangan Energi Jadi Harus Makan Tinggi Kalori
Anggapan lain yang sering muncul yaitu tubuh kekurangan energi setelah puasa sehingga perlu makanan tinggi kalori. Banyak orang kemudian memilih gorengan dalam jumlah banyak saat berbuka.
Gorengan sering dianggap sebagai cara cepat untuk mengembalikan tenaga.
Fakta: Gorengan Berlebihan Hanya Menambah Kalori
Dr. Ida menjelaskan bahwa gorengan sebenarnya tidak sepenuhnya dilarang saat berbuka. Namun, jumlahnya perlu dibatasi.
Makanan yang digoreng mengandung lemak tinggi sehingga mudah meningkatkan jumlah kalori. Konsumsi gorengan berlebihan juga dapat membuat tenggorokan terasa tidak nyaman, terutama ketika tubuh masih kekurangan cairan setelah puasa.
Karena itu, pola berbuka yang lebih sehat sebaiknya mengutamakan cairan yang cukup, buah dengan rasa manis alami, serta membatasi makanan berminyak.
Dengan cara tersebut, tubuh tetap mendapatkan energi yang dibutuhkan tanpa risiko kelebihan kalori selama Ramadhan. **
Tidak ada komentar