Ilustrasi muslimah – Dzikir dan shalawat bukanlah larangan bagi perempuan yang sedang haid. Justru, memperbanyak dzikir dan shalawat dapat menenangkan jiwa serta menambah pahala. (Thinkstockphotos.com) JAKARTA, Cuitan.id – Pertengahan bulan Syaban atau Nisfu Syaban kembali menjadi perhatian umat Islam pada 2026. Berdasarkan Kalender Hijriah Kementerian Agama, 15 Syaban 1447 H bertepatan dengan Selasa, 3 Februari 2026, sementara malam Nisfu Syaban dimulai sejak Senin petang, 2 Februari 2026, setelah matahari terbenam.
Di berbagai wilayah Muslim, malam Nisfu Syaban dikenal sebagai malam pengampunan dan doa. Masjid-masjid ramai dengan pembacaan Al-Qur’an, zikir, shalawat, serta doa bersama. Namun, di balik tradisi tersebut, muncul pertanyaan penting: dari mana asal-usul Nisfu Syaban dan apa dasar keagamaannya?
Secara bahasa, Nisfu Syaban berarti pertengahan bulan Syaban, yaitu bulan kedelapan dalam kalender Hijriah. Dalam kitab Lathaif al-Ma’arif, Ibnu Rajab al-Hanbali menjelaskan bahwa bulan Syaban sejak masa awal Islam dipandang sebagai masa persiapan spiritual menjelang Ramadhan.
Rasulullah SAW dikenal memperbanyak puasa dan ibadah di bulan ini, sebagaimana diriwayatkan oleh Aisyah RA. Syaban menempati posisi transisi antara Rajab sebagai bulan mulia dan Ramadhan sebagai puncak ibadah umat Islam.
Dalam literatur klasik Islam, tokoh yang kerap disebut sebagai pelopor penghidupan malam Nisfu Syaban adalah Khalid bin Ma’dan, seorang ulama besar dari generasi tabiin yang wafat pada 104 Hijriah.
Ibnu Rajab menyebut Khalid bin Ma’dan sebagai pribadi yang dikenal wara’, tekun beribadah, dan banyak berdzikir. Tradisi menghidupkan malam Nisfu Syaban yang ia lakukan kemudian diikuti oleh ulama Syam lainnya seperti Makhul ad-Dimasyqi dan Luqman bin ‘Amir.
Dari wilayah Syam, praktik ini menyebar ke berbagai kawasan dunia Islam, termasuk Hijaz, Irak, Asia Selatan, hingga Nusantara.
Wilayah Syam pada masa tabiin dikenal sebagai pusat keilmuan dan spiritualitas Islam. Menurut Syekh Abdullah al-Ghumari dalam risalah Husnul Bayan fi Lailatin Nishfi min Syaban, penghidupan malam Nisfu Syaban merupakan ekspresi kesalehan kolektif umat Islam generasi awal.
Banyak ulama lintas mazhab mengakui keutamaan Nisfu Syaban, meski bentuk praktik ibadahnya beragam sesuai tradisi masing-masing wilayah.
Pembahasan Nisfu Syaban tidak terlepas dari kajian hadis. Sejumlah hadis memang dinilai lemah, namun terdapat hadis yang dinilai shahih dan menjadi landasan utama, diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi:
“Sesungguhnya Allah SWT memperhatikan hamba-hamba-Nya pada malam Nisfu Syaban, lalu Dia mengampuni seluruh makhluk-Nya kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.”
Hadis ini dishahihkan oleh Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albani karena memiliki banyak jalur sanad yang saling menguatkan.
Al-Qur’an tidak menyebut Nisfu Syaban secara eksplisit. Namun, konsep malam penuh keberkahan dan ampunan ditegaskan dalam firman Allah SWT:
“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang penuh berkah.” (QS Ad-Dukhan: 3)
Ayat ini dipahami sebagai prinsip bahwa Allah memiliki waktu-waktu khusus untuk melimpahkan rahmat-Nya, termasuk malam-malam yang dimuliakan dalam tradisi Islam.
Menurut Prof. Quraish Shihab, tradisi keagamaan yang bertahan lama biasanya memiliki landasan teks keagamaan serta kebutuhan spiritual umat. Nisfu Syaban memenuhi kedua unsur tersebut.
Malam ini menjadi momentum introspeksi diri, memperbaiki hubungan sosial, dan memohon ampunan sebelum memasuki Ramadhan.
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, Nisfu Syaban hadir sebagai ruang jeda spiritual. Bukan hanya soal ritual, tetapi juga membersihkan hati, menghilangkan permusuhan, dan menata niat menyambut bulan suci Ramadhan.
Dengan akar sejarah yang panjang, dukungan ulama lintas generasi, serta dasar hadis yang kuat, Nisfu Syaban terus hidup sebagai bagian penting dari tradisi spiritual umat Islam hingga hari ini. ***
Tidak ada komentar