Khadijah Binti Khuwailid: Istri Pertama Nabi dan Pilar Awal Islam

waktu baca 2 menit
Selasa, 6 Jan 2026 05:00 39 admincuitan

JAKARTA, Cuitan.id – Sebelum Islam dikenal luas di Jazirah Arab, Khadijah binti Khuwailid telah menjadi sosok perempuan terpandang di Makkah. Berasal dari keluarga Quraisy yang terhormat, Khadijah sukses menjalankan perdagangan lintas wilayah, dari Syam hingga Yaman, di tengah budaya patriarkal yang menempatkan perempuan pada posisi terbatas.

Dikutip dari Tafsir Al-Mishbah karya Quraish Shihab, Khadijah mendapat julukan ath-Thahirah, yang berarti perempuan suci. Julukan ini bukan sekadar simbol moral, tetapi pengakuan atas integritasnya dalam bisnis yang sering diwarnai kecurangan.

Pertemuan yang Mengubah Sejarah

Khadijah mempercayakan urusan dagangnya kepada Muhammad bin Abdullah, yang dikenal sebagai al-Amin karena kejujuran dan akhlaknya. Perjalanan dagang mereka ke Syam membawa keuntungan besar, lebih karena etika dan kepercayaan daripada strategi semata. Melihat kepribadian Muhammad, Khadijah mengambil langkah yang jarang dilakukan perempuan saat itu: mengajukan lamaran pernikahan.

Pernikahan mereka berlangsung sederhana, tetapi rumah Khadijah menjadi tempat ketenangan bagi Muhammad, terutama saat wahyu pertama turun di Gua Hira. Khadijah adalah orang pertama yang meyakini kenabian Muhammad dan memeluk Islam, bukan karena emosi sesaat, tetapi atas pengenalan mendalam terhadap akhlak dan nilai kebenaran yang dibawa suaminya.

Penopang Dakwah Awal Islam

Khadijah berdiri di garis terdepan selama dakwah awal menghadapi penolakan dan tekanan. Seluruh harta dan pengaruhnya digunakan untuk melindungi Nabi dan para pengikut awal Islam. Ketika kaum Quraisy memboikot Bani Hasyim, Khadijah menanggung penderitaan bersama Nabi, menjadi fondasi moral dan material bagi kelangsungan dakwah.

Wafatnya Cahaya di Rumah Nabi

Khadijah wafat pada tahun ke-10 kenabian, masa yang dikenal sebagai ‘Amul Huzn’ atau tahun kesedihan. Nabi Muhammad selalu mengenang kesetiaan, pengorbanan, dan keteguhan Khadijah. Ia dianggap perempuan terbaik di dunia dan akhirat, bukan hanya sebagai istri pertama, tetapi juga mukmin pertama, sahabat pertama, dan penopang langkah awal risalah Islam.

Jejak Abadi Perempuan Beriman

Khadijah menegaskan bahwa iman bukan hanya keyakinan pribadi, tetapi juga keberanian mengambil risiko demi kebenaran. Keimanan, kecerdasan, dan keteguhan Khadijah menjadi inspirasi bagi sejarah Islam. Dukungan dan cinta tulusnya kepada Nabi Muhammad sejak awal dakwah membuktikan bahwa risalah besar tidak lahir sendirian. ***

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA