Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/champja JAKARTA, Cuitan.id – Golongan darah tidak hanya berfungsi sebagai penanda medis saat transfusi, tetapi juga dapat memberikan gambaran mengenai risiko seseorang terhadap penyakit tertentu, termasuk penyakit jantung dan gangguan pembekuan darah.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa golongan darah memiliki keterkaitan dengan kesehatan jantung. Oleh karena itu, memahami risikonya serta menerapkan gaya hidup sehat menjadi langkah penting untuk menjaga kondisi jantung tetap optimal.
Hingga kini, para peneliti masih mempelajari alasan munculnya berbagai golongan darah seperti A, B, AB, dan O. Menurut ahli hematologi dari Penn Medicine, Dr. Douglas Guggenheim, faktor keturunan serta paparan infeksi di masa lalu diduga memicu mutasi yang membentuk keragaman golongan darah manusia.
Ia menjelaskan bahwa golongan darah bisa mencerminkan proses adaptasi tubuh manusia terhadap lingkungan dan ancaman penyakit pada masa lampau.
Berdasarkan data dari American Heart Association (AHA), individu dengan golongan darah A, B, atau AB diketahui memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit jantung dibandingkan mereka yang bergolongan darah O.
Beberapa temuan penting meliputi:
Risiko serangan jantung meningkat sekitar 8 persen pada golongan darah A dan B
Risiko gagal jantung meningkat hingga 10 persen
Risiko trombosis vena dalam meningkat 51 persen
Risiko emboli paru meningkat 47 persen
Kondisi pembekuan darah tersebut dapat berdampak serius dan berkontribusi pada gangguan jantung.
Dr. Guggenheim menyebutkan bahwa protein tertentu pada golongan darah A dan B berpotensi meningkatkan peradangan dan memicu penebalan pembuluh darah. Hal inilah yang diduga meningkatkan risiko pembekuan darah dan penyakit jantung.
Faktor ini juga dipercaya berkaitan dengan temuan bahwa pemilik golongan darah O cenderung memiliki risiko lebih rendah terhadap beberapa penyakit berat.
Meski memiliki risiko jantung lebih rendah, golongan darah O juga memiliki sisi lain. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemilik golongan darah O lebih rentan mengalami perdarahan, terutama setelah melahirkan atau saat mengalami cedera berat.
Sementara itu, golongan darah AB disebut memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan kognitif, seperti penurunan daya ingat dan konsentrasi.
Meski golongan darah berpengaruh terhadap risiko penyakit tertentu, faktor utama kesehatan jantung tetap ditentukan oleh pola makan, aktivitas fisik, kebiasaan merokok, serta kondisi lingkungan.
Dr. Guggenheim menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada rekomendasi medis khusus berdasarkan golongan darah. Pola makan sehat, olahraga teratur, dan pengelolaan stres tetap menjadi kunci utama menjaga kesehatan jantung bagi semua golongan darah.
Ia juga menekankan bahwa memiliki golongan darah O bukan berarti seseorang sepenuhnya terbebas dari risiko penyakit jantung. ***
Tidak ada komentar