4 Gejala Awal Penyakit Kronis yang Sering Terabaikan

waktu baca 2 menit
Minggu, 14 Des 2025 14:00 163 admincuitan

JAKARTA, Cuitan.id – Beberapa penyakit kronis seringkali menunjukkan gejala awal yang ringan dan mudah terabaikan. Bagi mereka yang berisiko, tanda-tanda ini baru disadari saat kondisi memburuk.

Dikutip dari India Times, dr. Saurabh Sethi, spesialis gastroenterologi lulusan Harvard dan Stanford, membagikan informasi penting melalui unggahan Instagram mengenai tanda-tanda awal beberapa penyakit kronis.

Mengetahui gejala ini lebih awal memungkinkan tindakan preventif sebelum kondisi menjadi serius. Berikut 4 gejala awal yang perlu diperhatikan:

1. Pelupa: Tanda Disfungsi Tiroid
Disfungsi tiroid terjadi saat kelenjar tiroid tidak bekerja optimal, baik terlalu aktif (hipertiroidisme) maupun kurang aktif (hipotiroidisme). Menurut dr. Sethi, tanda awal biasanya berupa pelupa, mental fog, atau perlambatan kognitif, bukan langsung perubahan berat badan.
“Otak bereaksi sebelum timbangan menunjukkannya,” tulis dr. Sethi.

2. Kelelahan Setelah Makan: Indikator Diabetes
Diabetes tipe 2 sering muncul pertama kali sebagai rasa lelah setelah makan, bukan kenaikan gula darah yang signifikan. Fluktuasi glukosa memengaruhi energi tubuh sebelum terdeteksi lewat tes laboratorium, sehingga kelelahan kronis bisa menjadi peringatan dini.

3. Stamina Menurun: Pertanda Fatty Liver
Fatty liver atau perlemakan hati menyebabkan hati bekerja kurang optimal. Gejala awalnya termasuk mudah lelah dan stamina menurun meski aktivitas ringan. Kondisi ini menunjukkan peran hati dalam pengaturan energi tubuh sebelum gejala lain seperti nyeri perut muncul.

4. Tubuh Kaku di Pagi Hari: Gejala Autoimun
Kondisi autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang sel sehat, menimbulkan peradangan dan kerusakan organ. Tanda awalnya adalah tubuh terasa kaku di pagi hari, sebelum muncul nyeri sendi. Menurut dr. Sethi, sistem kekebalan tubuh memberi sinyal bahaya lebih awal.

Mengenali tanda-tanda ini sejak dini penting agar tindakan preventif dapat dilakukan, sehingga risiko komplikasi penyakit kronis dapat diminimalkan. ***

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA