Ilustrasi Berdoa. Amalan Sunnah Sebelum Memasuki Musim Haji 2026. Cuitan.id – Menjelang musim haji 1447 Hijriah atau Haji 2026, banyak orang fokus pada persiapan teknis seperti koper, dokumen, dan manasik fisik. Namun, perjalanan menuju Baitullah sejatinya adalah perjalanan ruhani yang memerlukan fondasi spiritual yang kokoh.
Para ulama menekankan pentingnya “pembersihan awal” agar ibadah Anda tidak hanya sah secara syariat, tetapi juga membekas di dalam batin. Berikut adalah deretan amalan sunnah yang dapat Anda dawamkan sebelum memasuki bulan-bulan haji.
Langkah pertama dan paling utama adalah bertobat. Dalam kitab Fiqih Islam wa Adillatuhu, Wahbah az-Zuhaili mengingatkan calon jemaah untuk menyelesaikan urusan dengan sesama manusia sebelum berangkat.
Melunasi utang atau membuat kesepakatan tertulis.
Meminta maaf dengan tulus kepada keluarga dan kerabat.
Mengembalikan hak orang lain yang mungkin masih tertahan.
Tobat memastikan Anda berangkat dengan hati ringan tanpa membawa beban moral di pundak.
Islam mengajarkan kita untuk memulai segala sesuatu dengan doa. Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ menyarankan setiap musafir, termasuk calon jemaah haji, untuk menunaikan shalat sunnah dua rakaat sebelum meninggalkan rumah. Shalat ini berfungsi menenangkan hati dan menata niat agar tetap murni karena Allah SWT.
Meskipun prosesi ihram memiliki aturan mandi tersendiri, Anda sebaiknya mulai membiasakan disiplin kebersihan sejak di tanah air. Hal ini meliputi:
Merapikan rambut dan memotong kuku.
Membiasakan mandi sunnah untuk menjaga kesucian lahiriah.
Membersihkan diri dari hadas secara rutin.
Kebersihan fisik ini merupakan cerminan dari kesiapan batin yang suci.
Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah adalah waktu yang Allah cintai. Mengisi hari-hari ini dengan puasa sunnah menjadi latihan mental yang luar biasa. Puasa membantu Anda mengendalikan hawa nafsu dan memperkuat stamina spiritual sebelum menghadapi puncak ibadah haji di Arafah.
Haji adalah ibadah yang penuh dengan zikir. Mulailah membiasakan lisan mengucapkan Tasbih, Tahmid, Tahlil, dan Takbir sesering mungkin. Imam An-Nawawi menegaskan bahwa dzikir pada periode ini memiliki keutamaan yang lebih besar dibanding hari-hari lainnya. Kebiasaan ini akan membantu Anda tetap fokus pada orientasi akhirat saat berada di tengah hiruk-pikuk kerumunan jutaan jemaah.
Sedekah berfungsi sebagai pembersih harta dan penolak bala. Selain itu, Islam menyarankan calon jemaah untuk menulis wasiat dan memastikan nafkah keluarga yang ditinggalkan sudah terpenuhi. Ini bukan tanda pesimisme, melainkan bentuk tanggung jawab moral dan ikhtiar untuk menyempurnakan kewajiban sebagai kepala keluarga atau anggota masyarakat.
Seluruh amalan di atas memiliki satu benang merah: Persiapan Total. Haji bukan sekadar perjalanan fisik dari satu kota ke kota lain, melainkan transformasi diri.
Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin berpesan bahwa ibadah yang sempurna bermula dari hati yang bersih. Dengan mengamalkan sunnah-sunnah ini, Anda sedang membangun “gerbang awal” menuju predikat haji mabrur. Haji Anda dimulai bukan saat kaki menginjak Makkah, melainkan saat hati Anda memutuskan untuk kembali kepada-Nya dengan penuh keikhlasan. **
Tidak ada komentar