TP PKK Jambi Kembangkan Metode 5 Menit Bisa Berpantun

waktu baca 2 menit
Jumat, 19 Des 2025 13:38 153 admincuitan

SUNGAI PENUH, Cuitan.id – Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Provinsi Jambi terus berinovasi dalam melestarikan budaya lokal. Salah satunya melalui pengembangan Metode Cepat 5 Menit Bisa Berpantun, yang diperkenalkan dalam kegiatan pelatihan di Ruang Pola Kantor Wali Kota Sungai Penuh. Kamis (18/12/2025).

Kegiatan tersebut diikuti oleh Tim Penggerak PKK kabupaten/kota se-Provinsi Jambi serta perwakilan instansi terkait. Peserta hadir secara langsung maupun mengikuti kegiatan melalui siaran langsung (live streaming).

Ketua TP PKK Provinsi Jambi, Hj. Hesnidar Haris, SE (Hesti Haris), menyampaikan bahwa program ini merupakan langkah strategis untuk menjaga dan melestarikan budaya adat Melayu, khususnya tradisi pantun yang menjadi identitas masyarakat Jambi.

“Gerakan ini menyasar seluruh lapisan masyarakat, mulai dari generasi muda hingga orang tua. Terlebih kader PKK yang jaringannya hingga tingkat dasawisma,” ujar Hesti Haris.

Menurutnya, metode tersebut dirancang agar masyarakat tidak lagi merasa kesulitan dalam membuat pantun. Dengan teknik sederhana dan praktis, peserta dapat memahami cara menyusun pantun yang selaras dengan tema, suasana, serta kondisi tertentu hanya dalam waktu singkat.

“Selama ini banyak yang ingin berpantun, namun kesulitan merangkai kata agar sesuai dengan situasi atau isi hati. Melalui metode ini, pantun bisa dibuat dengan mudah dan cepat,” tambahnya.

TP PKK Provinsi Jambi berencana meluncurkan Gerakan Masyarakat Jambi Berpantun secara resmi pada Januari 2026. Program ini akan melibatkan berbagai pihak sebagai bagian dari pengajaran budaya agar tradisi pantun sebagai warisan budaya tak benda dapat terus hidup dan berkembang di tengah masyarakat.

Hesti Haris juga menekankan pentingnya peran kader PKK dan Dharma Wanita yang kerap terjun langsung ke masyarakat dalam menyampaikan pesan dan informasi secara komunikatif.

“Dengan berpantun, pesan dapat disampaikan secara indah, menarik, dan tidak membosankan, sehingga informasi lebih mudah diterima dan bermanfaat bagi masyarakat,” jelasnya

Pantun sendiri telah mendapatkan pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional sejak 2015 dan diakui dunia oleh UNESCO pada 2020, yang diajukan bersama oleh Indonesia dan Malaysia. Meski demikian, kemampuan berpantun dinilai masih perlu terus ditingkatkan.

“Pengakuan dunia harus diiringi dengan kemampuan masyarakat untuk terus melestarikannya. Inilah yang menjadi semangat utama program ini,” pungkas Hesti Haris. (HS)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA