Quraish Shihab Ingatkan Prabowo: Perdamaian Harus Berjalan Bersama Keadilan

waktu baca 3 menit
Rabu, 11 Mar 2026 23:00 15 admincuitan

Cuitan.id – Ulama tafsir Al-Qur’an, M. Quraish Shihab, menyampaikan tausiah pada peringatan Nuzulul Quran tingkat kenegaraan di Istana Negara, Selasa (10/3/2026). Tausiah itu berlangsung di hadapan Presiden Prabowo Subianto dan sejumlah pejabat negara.

Dalam ceramahnya, Quraish Shihab menekankan pentingnya keadilan dalam kehidupan bermasyarakat. Ia mengingatkan pesan Al-Qur’an agar kebencian kepada kelompok lain tidak membuat seseorang bertindak tidak adil.

Menurutnya, perbedaan merupakan hal yang tidak bisa dihindari dalam kehidupan sosial. Karena itu, masyarakat perlu menghadirkan pengorbanan untuk menjaga perdamaian dan persatuan.

Mencontoh Sikap Nabi dalam Perjanjian Hudaibiyah

Quraish Shihab mengangkat kisah Perjanjian Hudaibiyah sebagai contoh sikap mengutamakan perdamaian. Saat perjanjian itu berlangsung, Nabi Muhammad SAW menyetujui penghapusan beberapa kalimat penting dalam naskah perjanjian.

Pihak musyrik meminta penghapusan kalimat “Bismillahirrahmanirrahim” karena tidak mengakui sebutan Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Mereka juga menolak frasa “Muhammad Rasulullah”. Demi menjaga perdamaian, Nabi Muhammad akhirnya menyetujui penghapusan sejumlah kata tersebut.

Quraish Shihab menilai sikap itu menunjukkan bahwa pengorbanan sering menjadi jalan untuk menciptakan perdamaian.

Pendiri Bangsa Juga Berkorban Demi Persatuan

Ia juga mengaitkan kisah tersebut dengan sejarah Indonesia. Para pendiri bangsa, kata Quraish Shihab, menunjukkan sikap serupa saat menyepakati penghapusan tujuh kata dalam Piagam Jakarta.

Frasa “melaksanakan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” dihapus demi menjaga persatuan nasional.

Meski begitu, ia menegaskan bahwa perdamaian tidak boleh mengorbankan keadilan. Keduanya harus berjalan beriringan dalam kehidupan berbangsa.

Pemimpin Harus Melindungi yang Lemah

Quraish Shihab juga mengutip pidato pertama khalifah Abu Bakar. Dalam pidato tersebut, Abu Bakar menegaskan bahwa pemimpin harus melindungi hak orang lemah dan menegakkan keadilan terhadap yang kuat.

Menurut Quraish Shihab, prinsip itu penting bagi setiap pemimpin agar kekuasaan digunakan untuk menegakkan keadilan dan menjaga kesejahteraan rakyat.

Di akhir tausiah, ia menyampaikan doa untuk Presiden Prabowo dengan mengutip pesan ulama Mesir Muhammad Mutawalli al-Sha’rawi. Doa itu menegaskan bahwa kekuasaan berasal dari Tuhan dan harus digunakan untuk kesejahteraan masyarakat.

Isu Keikutsertaan Indonesia dalam BOP

Tausiah Quraish Shihab muncul di tengah sorotan terhadap keikutsertaan Indonesia dalam Dewan Keamanan atau Board of Peace (BOP). Presiden Prabowo menandatangani partisipasi Indonesia dalam forum tersebut di Davos pada 22 Januari 2026.

Forum yang digagas Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bertujuan menciptakan perdamaian dunia, termasuk bagi Palestina. Namun, sejumlah pihak mulai meragukan visi tersebut.

Ketegangan meningkat setelah Amerika Serikat melakukan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu saling serang menggunakan rudal dan drone.

Laporan sementara hingga 11 Maret 2026 menyebut lebih dari 1.000 warga Iran tewas akibat serangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel.

Situasi itu memicu desakan dari berbagai kalangan agar pemerintah Indonesia meninjau kembali keikutsertaan dalam BOP. Politikus, akademisi, dan kelompok masyarakat sipil meminta pemerintah mempertimbangkan kembali langkah tersebut. **

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA