Mojtaba Khamenei (tengah), putra dari mantan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, saat berjalan di Teheran pada 31 Mei 2019.(ISNA/HAMID FOROUTAN via AFP) Cuitan.id – Iran resmi memiliki pemimpin tertinggi baru. Majelis Ahli Iran memilih Mojtaba Khamenei sebagai pengganti ayahnya, Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel.
Keputusan tersebut menjadikan Mojtaba sebagai pemimpin tertinggi ketiga Iran sejak Revolusi Iran 1979.
Majelis Ahli, lembaga berisi 88 ulama senior, mengambil keputusan itu melalui mekanisme konstitusional yang berlaku di Iran. Lembaga ini memang memiliki kewenangan memilih pemimpin tertinggi negara.
Mojtaba selama ini dikenal sebagai sosok berpengaruh di lingkar kekuasaan Iran, tetapi jarang tampil di ruang publik. Namanya sudah lama muncul dalam berbagai spekulasi mengenai suksesi kepemimpinan negara tersebut.
Ia kini memimpin Iran di tengah ketegangan regional yang meningkat serta situasi politik domestik yang belum stabil.
Profil Mojtaba Khamenei
Mojtaba Khamenei lahir pada 8 September 1969 di Mashhad, kota besar di timur laut Iran. Ia merupakan anak kedua dari enam bersaudara dalam keluarga Ali Khamenei.
Ia menikah dengan Zahra Haddad-Adel, putri politikus konservatif Gholam-Ali Haddad-Adel, mantan ketua parlemen Iran.
Dalam serangan udara yang menargetkan kompleks keluarga Khamenei di Teheran, Zahra termasuk korban yang meninggal dunia. Mojtaba selamat, tetapi kehilangan beberapa anggota keluarga dekat dalam insiden tersebut.
Latar Belakang Pendidikan
Mojtaba menempuh pendidikan menengah di Sekolah Alavi di Teheran, sebuah sekolah berbasis pendidikan agama.
Saat berusia 17 tahun, ia sempat menjalani dinas militer singkat ketika Perang Iran–Irak masih berlangsung pada 1980-an.
Konflik delapan tahun itu membentuk sikap politik keras Iran terhadap Amerika Serikat dan sekutunya.
Pada 1999, Mojtaba melanjutkan studi teologi di Qom, salah satu pusat pendidikan Syiah paling penting di dunia. Ia mulai serius menekuni pendidikan keagamaan saat berusia sekitar 30 tahun, usia yang tergolong lebih terlambat dibandingkan kebanyakan ulama Iran.
Status Keulamaan
Saat ini Mojtaba dikenal sebagai ulama tingkat menengah. Beberapa media dan tokoh politik Iran mulai menyebutnya sebagai “Ayatollah”, gelar yang biasanya diberikan kepada ulama senior.
Dalam tradisi pendidikan Syiah, gelar tersebut menunjukkan tingkat keilmuan tinggi dan sering menjadi syarat penting bagi calon pemimpin tertinggi Iran.
Situasi serupa pernah terjadi pada Ali Khamenei, yang juga memperoleh gelar Ayatollah tidak lama setelah di angkat menjadi pemimpin tertinggi pada 1989.
Figur Misterius di Balik Politik Iran
Media internasional sering menggambarkan Mojtaba sebagai sosok misterius dengan pengaruh besar di balik layar politik Iran.
Ia jarang memberikan pidato publik, wawancara, maupun pernyataan politik terbuka. Penampilannya biasanya hanya terlihat dalam acara kenegaraan atau kegiatan keagamaan resmi.
Beberapa laporan juga mengaitkan namanya dengan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), meski ia tidak pernah memegang jabatan resmi di institusi militer tersebut.
Nama Mojtaba Mencuat Sejak Pemilu 2005
Nama Mojtaba mulai mendapat sorotan luas pada pemilihan presiden Iran 2005 yang di menangkan Mahmoud Ahmadinejad.
Tokoh reformis Mehdi Karroubi pernah menuduh Mojtaba ikut memengaruhi proses pemilu melalui jaringan IRGC dan milisi Basij.
Kontroversi serupa muncul kembali dalam pemilihan presiden 2009 yang memicu protes besar Gerakan Hijau Iran 2009. Demonstrasi tersebut menolak hasil pemilu sekaligus mengkritik kemungkinan munculnya dinasti politik dalam sistem Republik Islam.
Tantangan Besar Memimpin Iran
Sebagai pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba menghadapi berbagai tantangan berat.
Banyak pengamat memperkirakan ia akan melanjutkan kebijakan garis keras yang selama ini di jalankan ayahnya. Apalagi serangan yang menewaskan anggota keluarganya memperdalam ketegangan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Di sisi lain, ia juga harus menjaga stabilitas politik dan ekonomi Iran serta meyakinkan publik bahwa kepemimpinannya tidak sekadar melanjutkan dinasti keluarga.
Minimnya pengalaman dalam jabatan pemerintahan dan citra sebagai tokoh “di balik layar” menjadi ujian besar bagi kepemimpinannya ke depan. **
Tidak ada komentar