Pria Sehat Terserang Stroke Usai Minum 8 Minuman Energi Sehari. (ILUSTRASI – Foto: Getty Images/gorodenkoff) JAKARTA, Cuitan.id – Kebiasaan mengonsumsi minuman energi dalam jumlah berlebihan dapat berdampak serius bagi kesehatan. Hal ini dialami oleh seorang pria paruh baya asal Sherwood, Nottingham, Inggris, yang mengalami stroke meski terlihat sehat dan bugar.
Pria yang identitasnya dirahasiakan tersebut diketahui rutin mengonsumsi hingga delapan kaleng minuman energi setiap hari. Akibatnya, ia mengalami stroke iskemik yang meninggalkan dampak mati rasa kronis di sisi kiri tubuhnya hingga delapan tahun kemudian.
“Saya benar-benar tidak menyadari bahaya kebiasaan tersebut. Sampai sekarang, saya masih merasakan mati rasa di tangan, kaki, dan jari-jari sebelah kiri,” ungkapnya dalam laporan medis yang dipublikasikan di jurnal BMJ Case Reports.
Saat pertama kali dilarikan ke unit gawat darurat pada usia 50-an tahun, pasien mengalami gejala stroke disertai tekanan darah ekstrem, mencapai 254/150 mmHg, yang termasuk kategori krisis hipertensi.
Dokter konsultan di Nottingham University Hospitals NHS Trust, Dr Sunil Munshi, menjelaskan bahwa hipertensi merupakan faktor risiko utama stroke iskemik.
“Dari luar ia tampak sangat sehat. Namun hasil pemeriksaan menunjukkan tekanan darahnya sangat tinggi. Inilah mengapa hipertensi sering disebut sebagai silent killer,” jelas Munshi.
Pemeriksaan pencitraan otak mengonfirmasi adanya gumpalan darah di otak, yang menjadi penyebab stroke tersebut.
Meski sempat membaik setelah perawatan, tekanan darah pasien kembali meningkat beberapa bulan kemudian. Penelusuran lebih lanjut mengungkap bahwa ia mengonsumsi sekitar 1,3 gram kafein per hari, jauh melampaui batas aman yang direkomendasikan, yaitu maksimal 400 miligram per hari.
Setiap kaleng minuman energi yang dikonsumsinya mengandung sekitar 160 miligram kafein. Ia minum dua kaleng sebanyak empat kali sehari untuk menjaga stamina saat bekerja di gudang.
Setelah benar-benar menghentikan konsumsi minuman energi, tekanan darah pasien perlahan kembali normal. Dokter bahkan dapat menghentikan obat hipertensinya secara bertahap.
Kini, delapan tahun setelah kejadian stroke, kondisi pasien hampir pulih sepenuhnya. Namun, gangguan sensorik berupa mati rasa masih tersisa.
Para peneliti mengingatkan bahwa label kafein pada minuman energi sering kali hanya mencantumkan kafein murni. Padahal, bahan tambahan seperti guarana dapat mengandung kafein tersembunyi dengan kadar lebih tinggi, bahkan mencapai dua kali lipat biji kopi.
“Kasus ini menunjukkan bahwa konsumsi minuman energi, baik jangka pendek maupun panjang, berpotensi meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan stroke. Kabar baiknya, dampak ini dapat dibalik jika konsumsi dihentikan,” tulis peneliti.
Meski dampak jangka panjang kafein dosis tinggi masih terus diteliti, para ahli mendorong pengawasan lebih ketat terhadap iklan dan penjualan minuman energi, terutama yang menyasar generasi muda.
Tenaga kesehatan juga disarankan untuk menanyakan kebiasaan konsumsi minuman energi pada pasien dengan hipertensi tanpa sebab jelas atau stroke yang terjadi di usia relatif muda. ***
Tidak ada komentar