Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/demaerre JAKARTA, Cuitan.id – Banyak orang percaya tubuh kurus otomatis sehat dan bebas risiko penyakit jantung. Faktanya, berat badan bukan jaminan. Tidak sedikit orang ramping justru memiliki kadar kolesterol tinggi yang tersembunyi tanpa gejala bertahun-tahun.
Dikutip dari Times of India, para ahli menekankan faktor genetik dan riwayat keluarga sering lebih memengaruhi kadar kolesterol daripada angka di timbangan.
Meski kolesterol dipengaruhi makanan, sebagian besar kolesterol diproduksi hati. Pada orang kurus dengan kolesterol tinggi, penyebab utamanya biasanya genetik. Hati mereka diprogram menghasilkan LDL (Low Density Lipoprotein) atau kolesterol jahat dalam jumlah besar sejak lahir.
Akibatnya, meski pola makan dijaga ketat dan rutin olahraga, kadar kolesterol tetap tinggi. Penelitian oleh Z. Vaezi dan Global Lipids Genetics Consortium menunjukkan kondisi ini memicu pembentukan plak di arteri sejak muda, membuat pembuluh darah “menua” lebih cepat dibanding usia fisik sebenarnya.
Kondisi ini dikenal sebagai Hiperkolesterolemia Familial (FH). Studi oleh C. Pirazzi menemukan mutasi gen bawaan seperti LDLR, APOB, atau PCSK9 sebagai penyebab utama penyakit jantung dini pada orang terlihat sehat.
FH diperkirakan dialami 1 dari 200–250 orang di dunia. Mutasi ini membuat tubuh tidak mampu membersihkan LDL dari darah, sehingga LDL menumpuk seperti sampah di jalanan. Orang dengan FH bisa memiliki kadar LDL di atas 190 mg/dL sejak remaja, meningkatkan risiko serangan jantung sebelum usia 50 tahun jika tidak ditangani.
Orang kurus dianjurkan memeriksa panel lipid untuk memahami risikonya:
LDL (Kolesterol Jahat): Bahaya jika >100 mg/dL.
HDL (Kolesterol Baik): Berisiko jika <40 mg/dL (pria) atau <50 mg/dL (wanita).
Trigliserida: Lemak darah, berisiko jika >150 mg/dL.
Kombinasi trigliserida tinggi dan HDL rendah dapat meningkatkan risiko serangan jantung hingga 1,3 kali lipat, terutama pada orang kurus dengan gangguan metabolik atau faktor genetik.
American Heart Association (AHA) menyarankan orang dengan keluarga yang mengalami serangan jantung dini untuk melakukan skrining. Tes yang dianjurkan antara lain:
Panel Lipid Puasa: Mengukur kolesterol total, LDL, HDL, dan trigliserida, mulai usia 20 tahun.
Tes Genetik FH: Untuk kadar LDL sangat tinggi dengan riwayat keluarga penyakit jantung dini.
ApoB atau Non-HDL: Menghitung partikel lemak secara lebih akurat.
Skrining dini dapat membantu deteksi risiko dan mencegah komplikasi jantung serius, meski seseorang tampak sehat dan kurus. ***
Tidak ada komentar