Ketua Komite Olimpiade Indonesia (NOC Indonesia), Raja Sapta Oktohari, berbicara dalam kunjungannya ke Menara Kompas, Jakarta, pada Senin (29/9/2025).(KOMPAS.com) Cuitan.id – Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia (NOC Indonesia), Raja Sapta Oktohari, memprotes kebijakan baru Olympic Council of Asia (OCA) terkait cabang sepak bola putra di Asian Games 2026.
OCA menetapkan sistem grading tanpa mekanisme kualifikasi terbuka. Kebijakan ini memangkas jumlah peserta dari 24 negara pada edisi 2022 menjadi hanya 16 tim pada 2026.
Mulai edisi Asian Games 2026 di Aichi-Nagoya, OCA dan Asian Football Confederation (AFC) hanya mengizinkan negara yang lolos ke putaran final Piala Asia U23 2026 untuk tampil.
Akibatnya, Timnas U23 Indonesia tidak bisa berlaga karena gagal menembus Piala Asia U23 2026.
Okto menilai sistem grading tanpa kualifikasi terbuka tidak lazim dalam sejarah Asian Games. Ia menegaskan bahwa sepak bola selalu membuka kesempatan bagi seluruh negara peserta.
“Kami sudah melaporkan secara informal kepada Menpora agar menyikapi kebijakan OCA ini,” ujar Okto di Kantor Kemenpora, Jakarta, Jumat (20/2/2026).
Okto juga mempertanyakan alasan pembatasan peserta. Ia meminta OCA menyampaikan penjelasan secara transparan kepada seluruh komite olimpiade nasional.
Menurutnya, jika tuan rumah Nagoya menghadapi kendala teknis, OCA harus menyosialisasikan keputusan tersebut sejak awal agar tidak merugikan negara lain.
NOC Indonesia menjalin komunikasi langsung dengan Presiden OCA dan sejumlah federasi sepak bola Asia. Okto menyebut Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir memberi dukungan penuh terhadap langkah diplomasi tersebut.
Okto juga berkomunikasi dengan Ketua Federasi Sepak Bola Qatar, Jassim Al-Buenain. Sejumlah negara menilai kebijakan ini merugikan karena 45 anggota AFC tidak lagi memiliki kesempatan setara tampil di Asian Games.
Ia menegaskan sepak bola memiliki basis penggemar terbesar di Asian Games. Karena itu, setiap kebijakan harus mempertimbangkan dampak luas terhadap partisipasi dan antusiasme publik.
NOC Indonesia berkomitmen terus menyuarakan keberatan bersama federasi sepak bola lain di Asia agar OCA meninjau ulang aturan tersebut. ***
Tidak ada komentar