Ilustrasi berdoa. Umat Islam bersiap menyambut Malam Nisfu Syaban 2026 pada 2 Februari malam. Berikut doa, tata cara, dan waktunya. (freepik.com) JAKARTA, Cuitan.id – Umat Islam akan memperingati malam Nisfu Syaban 1447 Hijriah pada awal Februari 2026. Malam istimewa ini dikenal sebagai salah satu waktu yang dianjurkan untuk memperbanyak doa dan ibadah sunah.
Secara bahasa, nisfu berarti pertengahan, sedangkan Syaban merupakan bulan kedelapan dalam kalender Hijriah. Dengan demikian, malam Nisfu Syaban diperingati setiap tanggal 15 Syaban.
Berdasarkan kalender Hijriah, malam Nisfu Syaban 1447 H dimulai sejak Magrib pada Senin, 2 Februari 2026, hingga menjelang Subuh Selasa, 3 Februari 2026.
Pada malam ini, umat Islam dianjurkan memperbanyak istighfar, doa, shalawat, dan ibadah sunah. Nisfu Syaban diyakini sebagai waktu diangkatnya catatan amal serta turunnya ampunan Allah SWT.
Di Indonesia, malam Nisfu Syaban menjadi momentum spiritual yang dinanti karena sering dimanfaatkan untuk memohon ampunan dosa, kelapangan rezeki, keberkahan umur, serta persiapan rohani menjelang bulan Ramadan.
Dilansir dari laman Majelis Ulama Indonesia, ada salah satu doa yang lazim dibaca pada malam Nisfu Syaban.
Berikut bacaan doa yang banyak dirujuk dari kitab Maslakul Akhyar karya Syekh Sayyid Utsman bin Yahya:
اللّٰهُمَّ يَا ذَا الْمَنِّ وَلَا يُمَنُّ عَلَيْكَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ يَا ذَا الطَوْلِ وَالإِنْعَامِ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ ظَهْرَ اللَّاجِيْنَ وَجَارَ المُسْتَجِيْرِيْنَ وَمَأْمَنَ الخَائِفِيْنَ. اللّٰهُمَّ إِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنِيْ عِنْدَكَ فِيْ أُمِّ الكِتَابِ أَشْقِيَاءَ أَوْ مَحْرُوْمِيْنَ أَوْ مُقَتَّرِيْنَ عَلَيَّ فِي الرِزْقِ، فَامْحُ اللّٰهُمَّ فِي أُمِّ الكِتَابِ شَقَاوَتِيْ وَحِرْمَانِيْ وَاقْتِتَارَ رِزْقِيْ، وَاكْتُبْنِيْ عِنْدَكَ سُعَدَاءَ مَرْزُوْقِيْنَ مُوَفَّقِيْنَ لِلْخَيْرَاتِ فَإِنَّكَ قُلْتَ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ فِيْ كِتَابِكَ المُنْزَلِ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّكَ المُرْسَلِ: “يَمْحُو اللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الكِتَابِ” وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمـَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ العَــالَمِيْنَ
Allāhumma yā dzal manni wa lā yumannu ‘alaika yā dzal jalāli wal ikrām, yā dzat thauli wal in‘ām, lā ilāha illā anta zhahral lājīna wa jāral mustajīrīna, wa ma’manal khā’ifīn. Allāhumma in kunta katabtanī ‘indaka fī ummil kitābi asyqiyā’a au mahrūmīna au muqattarīna ‘alayya fir rizqi, famhullāhumma fī ummil kitābi syaqāwatī, wa hirmānī waqtitāra rizqī, waktubnī ‘indaka su‘adā’a marzūqīna muwaffaqīna lil khairāt. Fa innaka qulta wa qaulukal haqq fī kitābikal munzali ‘ala lisāni nabiyyikal mursali “Yamhullāhu mā yasyā’u wa yutsbitu wa ‘indahū ummul kitāb.” Wa shallallāhu ‘alā sayyidinā Muhammadin wa ‘alā ālihī wa shahbihī wa sallama, walhamdulillāḥi rabbil ‘ālamīn.
Artinya: “Wahai Tuhanku yang maha pemberi, Engkau tidak diberi. Wahai Tuhan pemilik kebesaran dan kemuliaan. Wahai Tuhan pemilik kekayaan dan pemberi nikmat. Tiada Tuhan selain Engkau, kekuatan orang-orang yang meminta pertolongan, lindungan orang-orang yang mencari perlindungan, dan tempat aman orang-orang yang takut. Tuhanku, jika Kau mencatatku di sisi-Mu pada Lauh Mahfuzh sebagai orang celaka, sial, atau orang yang sempit rezeki, maka hapuskanlah di Lauh Mahfuzh kecelakaan, kesialan, dan kesempitan rezekiku. Catatlah aku di sisi-Mu sebagai orang yang mujur, murah rezeki, dan taufiq untuk berbuat kebaikan karena Engkau telah berkata-sementara perkataan-Mu adalah benar-di kitabmu yang diturunkan melalui ucapan Rasul utusan-Mu, ‘Allah menghapus dan menetapkan apa yang Ia kehendaki di sisi-Nya Lauh Mahfuzh.’ Semoga Allah memberikan shalawat kepada Sayyidina Muhammad, keluarga, beserta sahabatnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” (Sayyid Utsman bin Yahya, Maslakul Akhyar, hal. 77-80)
Dalam tradisi Nusantara, doa ini diamalkan secara turun-temurun. Keterangan mengenai doa tersebut juga disebutkan oleh as-Suyuthi, sebagaimana termaktub dalam Mushannaf Ibnu Abi Syaibah dan karya ad-Dua karangan Ibnu Abi ad-Dunya dari Sahabat Ibnu Mas’ud RA.
Menurut Ibnu Mas’ud, orang yang membaca doa ini akan diluaskan rezekinya dan dipenuhi kebutuhannya.
Perbedaan redaksi doa yang berkembang di tengah masyarakat tidak menjadi persoalan, karena pada dasarnya doa tidak dibatasi oleh satu lafaz tertentu.
Dalam tradisi masyarakat Muslim di Indonesia, pengamalan doa malam Nisfu Syaban umumnya dilakukan setelah salat Magrib atau Isya hingga menjelang Subuh.
Rangkaian amalan ini diawali dengan membaca surat Yasin, kemudian diikuti dengan doa malam Nisfu Syaban. Berikut urutan pengamalannya:
1. Membaca surat Yasin dengan niat memohon agar diberikan umur panjang yang digunakan untuk ketaatan kepada Allah SWT.
2. Setelah selesai membaca Yasin, doa malam Nisfu Syaban dibaca.
3. Membaca surat Yasin dengan niat memohon rezeki yang halal, luas, dan penuh keberkahan.
4. Setelah selesai membaca Yasin kedua, doa malam Nisfu Syaban kembali dibaca.
5. Membaca surat Yasin dengan niat memohon husnul khatimah serta kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
6. Setelah selesai membaca Yasin ketiga, doa malam Nisfu Syaban dibaca kembali.
Setelah rangkaian tersebut selesai, umat Islam dianjurkan memperbanyak istighfar, shalawat, doa pribadi, serta amal kebajikan lainnya sebagai bentuk penghidupan malam Nisfu Syaban. ***
Tidak ada komentar