Lonjakan Pasien Cuci Darah, Dokter Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini Gagal Ginjal. Ilustrasi AI Cuitan.id – Jumlah pasien yang menjalani cuci darah (hemodialisis) terus meningkat dalam satu hingga dua tahun terakhir. Kondisi ini membuat banyak rumah sakit kewalahan hingga harus menerapkan antrean panjang.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal Hipertensi RS EMC Pulomas, dr. Pujiwati, menyebut kapasitas layanan belum mampu mengimbangi lonjakan pasien. Dalam satu unit hemodialisis, satu pasien yang meninggal bisa langsung digantikan dua hingga tiga pasien baru.
Lonjakan ini turut mendorong rumah sakit menambah mesin cuci darah, yang berdampak pada meningkatnya biaya kesehatan secara signifikan.
Menurut dr. Pujiwati, masyarakat perlu mengubah pola pikir. Banyak orang masih menganggap cuci darah sebagai solusi utama, padahal pencegahan jauh lebih penting. Deteksi dini menjadi kunci agar penyakit ginjal tidak berkembang ke tahap serius.
Sayangnya, gejala awal penyakit ginjal sering diabaikan. Banyak pasien baru menyadari kondisi mereka setelah terlambat. Ia mencontohkan pasien berusia 25 tahun yang sudah harus menjalani cuci darah akibat hipertensi yang tidak ditangani dengan baik selama bertahun-tahun.
Hipertensi di usia muda tidak boleh dianggap sepele. Kondisi ini sering menjadi tanda gangguan serius seperti radang ginjal (glomerulonefritis) yang bisa berkembang tanpa disadari selama bertahun-tahun.
Selain faktor medis, gaya hidup juga berperan besar. Konsumsi minuman berkafein tinggi seperti minuman energi, kebiasaan begadang, serta kurang minum air putih menjadi pemicu utama.
Banyak anak muda lebih memilih minuman manis atau bersoda dibanding air putih. Kebiasaan ini meningkatkan risiko dehidrasi dan batu ginjal jika dilakukan terus-menerus.
Dokter menegaskan bahwa pola hidup sehat, cukup minum air putih, dan rutin memeriksa kesehatan menjadi langkah penting untuk menjaga fungsi ginjal sejak dini. **
Tidak ada komentar