Kaligrafi Umar bin Khattab di Hagia Sophia(Wikimedia Commons) JAKARTA, Cuitan.id – Di tengah tekanan dan ketidakadilan yang dialami umat Islam di Makkah, Islam memperoleh kekuatan besar melalui peristiwa bersejarah: keislaman Umar bin Al-Khattab. Peristiwa ini menjadi salah satu titik balik paling penting dalam perjalanan dakwah Nabi Muhammad SAW.
Umar bin Al-Khattab memeluk Islam pada bulan Dzulhijjah tahun keenam kenabian, hanya beberapa hari setelah Hamzah bin Abdul Muththalib menyatakan keimanannya. Masuk Islamnya Umar membawa perubahan besar bagi posisi umat Islam yang saat itu masih berada dalam tekanan kaum Quraisy.
Dalam kitab Sirah Nabawiyah, Syekh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri menjelaskan bahwa Rasulullah SAW pernah berdoa agar Islam dikuatkan melalui salah satu tokoh paling berpengaruh Quraisy, yakni Abu Jahl bin Hisyam atau Umar bin Al-Khattab. Doa tersebut diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Ath-Thabarani.
Allah SWT kemudian memilih Umar bin Al-Khattab sebagai sosok yang kelak menjadi pilar kekuatan umat Islam.
Benih hidayah mulai tumbuh ketika Umar tanpa sengaja mendengar Rasulullah SAW membaca Surah Al-Haqqah di dekat Ka’bah. Ayat demi ayat yang dibacakan menggugah hatinya, sekaligus mematahkan prasangka bahwa Al-Qur’an hanyalah syair atau perkataan manusia.
Sejak saat itu, Umar mulai merasakan cahaya Islam dalam hatinya, meski kesombongan dan fanatisme jahiliyah masih menahannya untuk menerima kebenaran sepenuhnya.
Puncak perubahan terjadi ketika Umar mengetahui bahwa saudari kandungnya, Fathimah binti Al-Khattab, telah memeluk Islam. Setelah membaca ayat-ayat Surah Thaha, hatinya luluh sepenuhnya, terutama saat membaca firman Allah SWT dalam ayat ke-14.
Ayat tersebut menjadi titik penyerahan total Umar kepada kebenaran Islam.
Dengan bimbingan para sahabat, Umar mendatangi Rasulullah SAW di Rumah Al-Arqam dan mengucapkan dua kalimat syahadat. Keislamannya disambut takbir kaum Muslim yang menggema hingga ke Masjidil Haram.
Sejak saat itu, Umar secara terbuka menyatakan imannya. Keberaniannya membuat kaum Quraisy gentar, dan umat Islam memperoleh kepercayaan diri untuk berdakwah secara terbuka.
Umar kemudian dikenal dengan gelar Al-Faruq, yakni pembeda antara kebenaran dan kebatilan.
Keislaman Umar bin Al-Khattab bukan sekadar perpindahan keyakinan, melainkan tonggak penting dalam sejarah Islam. Dari seorang penentang, ia berubah menjadi pelindung dakwah dan pemimpin yang dikenal adil, tegas, dan berani.
Keteladanan Umar terus hidup hingga kini sebagai simbol keberanian, keteguhan iman, dan keadilan dalam Islam. ***
Tidak ada komentar