Kasus Rahim Copot Pascapersalinan, Bahaya & Penanganan

waktu baca 2 menit
Senin, 17 Nov 2025 19:00 52 admincuitan

JAKARTA, Cuitan.id – Dokter sekaligus influencer kesehatan, Gia Pratama, baru-baru ini menjadi sorotan publik setelah membagikan pengalaman menangani kasus medis yang tergolong langka: insiden “rahim copot” atau inversio uteri total. Kejadian ini terjadi saat dr Gia tengah bertugas di RSUD dan sempat menimbulkan kehebohan karena dianggap mustahil terjadi.

Seorang pria datang ke IGD membawa sebuah kresek. Setelah diperiksa, dr Gia yakin bahwa yang dibawa adalah rahim seorang pasien. Menurut penjelasannya, kejadian ini terjadi pascapersalinan dengan dukun beranak, di mana plasenta ditarik paksa sebelum waktunya. Padahal, proses keluarnya plasenta biasanya memerlukan waktu tertentu.

Menurut Ketua Umum Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI), Prof. Budi Wiweko, keluarnya plasenta normal memerlukan waktu sekitar 15–30 menit pascapersalinan. Ia menekankan, plasenta tidak boleh dipaksa keluar, namun juga tidak boleh dibiarkan terlalu lama.

“Tidak boleh dipaksa, tidak boleh juga dibiarkan,” ujar Prof. Budi saat diwawancara, Senin (17/11/2025).

Jika plasenta sulit keluar, dokter biasanya melakukan standar manajemen aktif kala III, termasuk penggunaan obat-obatan tertentu untuk membantu kontraksi rahim. Tujuannya adalah agar rahim kembali mengecil dan mencegah perdarahan.

Komplikasi Plasenta yang Perlu Diwaspadai

Beberapa kondisi medis dapat membuat pengeluaran plasenta menjadi lebih rumit, seperti:

  • Plasenta akreta: plasenta melekat terlalu kuat pada dinding rahim.
  • Plasenta inkreta dan perkreta: kondisi yang lebih berat, di mana plasenta menembus lebih dalam ke lapisan otot rahim, bahkan bisa memerlukan operasi atau pengangkatan rahim.

Intervensi yang salah atau terlalu agresif bisa menyebabkan komplikasi serius, salah satunya inversio uteri atau rahim terbalik. Kondisi ini terjadi ketika plasenta yang masih menempel ditarik paksa, menyebabkan rahim ikut tertarik keluar melalui vagina. Risiko yang ditimbulkan termasuk:

  • Perdarahan hebat
  • Syok
  • Kematian jika tidak segera ditangani

Penanganan Darurat Inversio Uteri

Dalam kasus berat, rahim bisa membentuk cincin karena terjepit, membuat kontraksi tidak mungkin terjadi. Dokter harus segera:

  • Memberi anestesi
  • Mengembalikan posisi rahim secara manual

Jika gagal, operasi menjadi satu-satunya jalan. Prof. Budi menekankan bahwa komplikasi ini dapat dicegah dengan penanganan persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih dan mengikuti standar manajemen aktif kala III.

Dengan prosedur yang tepat, plasenta bisa lahir tanpa paksaan, risiko perdarahan berkurang, dan keselamatan ibu lebih terjamin.

Kasus yang dibagikan dr Gia menekankan pentingnya edukasi kesehatan reproduksi dan perlunya persalinan ditangani oleh tenaga medis profesional. Walau jarang terjadi, komplikasi seperti rahim copot bisa berkembang cepat dan mengancam nyawa. Penanganan yang tepat dan cepat menjadi kunci keselamatan ibu pascapersalinan. ***

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA