Kasus Campak Meningkat, IDAI Minta Imunisasi Anak Dipercepat

waktu baca 3 menit
Kamis, 12 Mar 2026 12:00 1 admincuitan

Cuitan.id – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan masyarakat dan pemerintah agar mempercepat imunisasi menyusul lonjakan kasus campak di Indonesia. Organisasi dokter anak tersebut menilai langkah cepat sangat penting untuk mencegah kejadian luar biasa (KLB).

Data IDAI menunjukkan sepanjang 2025 terdapat 63.769 kasus suspek campak, dengan 11.094 kasus terkonfirmasi dan 69 kematian.

Memasuki 2026 hingga minggu ke-7, tercatat 8.224 kasus suspek, 572 kasus terkonfirmasi, serta empat kematian.

Secara global, Indonesia berada di posisi kedua negara dengan jumlah kasus campak tertinggi di dunia. Data tersebut mengacu pada laporan World Health Organization yang dirilis melalui Centers for Disease Control and Prevention pada Februari 2026, dengan 10.744 kasus tercatat.

Ketua Pengurus Pusat IDAI, Piprim Basarah Yanuarso, menegaskan perlunya kerja sama semua pihak untuk melindungi anak-anak dari penyakit yang sebenarnya bisa dicegah melalui imunisasi.

Menurutnya, setiap anak berhak mendapatkan perlindungan melalui vaksinasi.

Imunisasi kejar jadi langkah utama

IDAI merekomendasikan program imunisasi kejar campak-rubella bagi anak usia 9 bulan hingga kurang dari 15 tahun yang belum menerima vaksin.

Cakupan imunisasi dosis kedua campak-rubella (MR2) di Indonesia pada 2024 baru mencapai 82,3 persen, masih di bawah target nasional 95 persen yang dibutuhkan untuk membentuk kekebalan kelompok atau herd immunity.

Ketua Satgas Imunisasi IDAI, Hartono Gunardi, menjelaskan pandemi COVID-19 sebelumnya mengganggu layanan imunisasi rutin sehingga banyak anak melewatkan jadwal vaksinasi.

Kondisi tersebut menciptakan kelompok anak yang rentan terhadap penularan campak di berbagai daerah.

Ia juga memastikan vaksin campak-rubella yang digunakan di Indonesia telah melalui evaluasi ketat dan memperoleh izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan sehingga aman digunakan.

Gejala dan diagnosis campak

Campak biasanya muncul setelah masa inkubasi sekitar 10–12 hari. Gejala awal meliputi demam, mata merah, pilek, dan batuk.

Salah satu tanda khas penyakit ini yaitu bercak Koplik di dalam mulut yang muncul satu hingga dua hari sebelum ruam.

Ruam campak umumnya muncul 2–4 hari setelah demam, dimulai dari kepala lalu menyebar ke seluruh tubuh.

Dokter memastikan diagnosis melalui pemeriksaan laboratorium, seperti antibodi IgM campak, PCR RNA virus campak, atau pemeriksaan genotipe virus pada kondisi tertentu.

Penanganan dan perawatan

Hingga saat ini belum tersedia antivirus khusus untuk campak. Dokter fokus pada perawatan suportif, seperti:

  • istirahat cukup
  • asupan cairan dan nutrisi yang baik
  • isolasi pasien untuk mencegah penularan

IDAI juga menganjurkan pemberian vitamin A sesuai rekomendasi WHO untuk menurunkan risiko komplikasi dan kematian, dengan dosis berbeda sesuai usia anak.

Selain itu, dokter dapat memberikan obat penurun demam, obat batuk, serta perawatan mata dan kulit jika diperlukan. Antibiotik hanya diberikan bila muncul infeksi sekunder seperti pneumonia atau infeksi telinga.

Pencegahan penularan di fasilitas kesehatan

Tenaga kesehatan perlu segera mengisolasi pasien yang diduga campak hingga empat hari setelah ruam muncul. Rumah sakit juga harus menerapkan kewaspadaan standar dan airborne, termasuk menyediakan ruang isolasi dengan ventilasi baik.

IDAI juga meminta dokter anak meningkatkan pelaporan kasus penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, khususnya campak dan rubella, kepada dinas kesehatan melalui sistem surveilans berbasis kasus.

Langkah tersebut diharapkan membantu pemerintah memantau penyebaran penyakit dan mempercepat penanganan di lapangan. **

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA